Skip to main content

Loves and Brothers Part 34


Part 34

Mereka berdua terdiam tak berbicara sepatah kata pun. Hening. Javi diam. Elina diam. Elina tak berani menatap Javi. Javi terlihat bingung dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Javi lalu melanjutkan pembicaraannya.
“Aku minta maaf El, tapi perasaan ini ada sejak aku tahu kamu sekantor sama aku.”
“Aku minta maaf kalo aku bilang ini disaat seperti ini, tapi aku udah gak bisa tahan lagi. Aku harus jujur sama perasaanku ke kamu.”
Elina memberanikan diri menatap Javi.
“Kenapa gak dari dulu waktu kita sekolah dulu ? Waktu aku belum jadian sama Liam. Waktu aku yakin kalo Liam itu Cuma temen aku doang. Kencan itu, malam itu, semua nothing ya buat kamu ?” ujar Elina kesal.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Liam mendengar semuanya. Liam membuka matanya sejenak karena mendengar ada suara bising diluar. Ternyata Liam menguping omongan mereka berdua. Liam menutup matanya kembali untuk tidak dicurigai. Supaya mereka berdua mengira Liam masih tertidur. Javi belum menjawab. Elina meneruskan pembicaraannya.
“Atau kamu memang sengaja, dimomen ini kamu ngomong semua ini ? Kamu tega banget Javi..” Elina menangis. Javi langsung memegang tangan Elina.
“Memangnya kalo dulu kenapa ? Kamu masih ada rasa sama Lisa ? Kita sekantor bukan berarti kamu suka sama aku juga kan. Apa kata Liam kalo kamu ngomong ini ke aku ?” Ujar Elina lagi.
“Sssttttt, jangan keras – keras El, aku tahu semua rasa aku ke kamu ini salah. Salah banget. Tapi ini real El, semua ini dari hati aku. Aku gak tahu kenapa ini bisa terjadi. Ini bukan rencana atau kesengajaan aku. Iya, dulu aku punya rasa sama Lisa lebih dulu.” Jelas Javi.
“Kamu jahat Javi, kamu tahu kalo Liam denger ini semua dia pasti bakal minder Javi, karena dia tahu aku akan lebih suka ke kamu, tapi sekarang….” Kalimat Elina menggantung. Elina melepaskan genggaman Javi.
“Tapi apa Elina ? Kamu tahu aku sekarang suka sama kamu, jadi aku butuh jawaban kamu, El, please tell me…” ujar Javi lembut.
“Aku udah punya jawaban itu semua Javi.” Ujar Elina sambil menatap kelangit langit rumah sakit.
“Apa ?”
“Aku gak bisa suka sama kamu lagi. Emang dulu rasa suka aku melebihi apapun ke kamu. Aku selalu salah tingkah ke kamu. Aku sampai bingung apa yang harus aku lakukan ketika aku suka sama kamu. Kamu juga gak pernah ngakuin perasaan aku ini. Jadi…”
“Jadi apa El ?”
“Aku akan selalu disamping Liam. Biarpun atau dalam keadaan apapun. Karena aku udah yakin Liam itu yang terbaik buat aku. Awalnya aku emang ragu. Tapi sekarang aku tahu Liam itu udah tulus sebelum aku tahu kalo ternyata Liam itu udah suka sama aku sejak kita pertama kali ketemu. Dia nungguin aku sampai aku bisa lepas dari kamu. Lama kelamaan perasaan cinta aku ke Liam tumbuh dan semakin besar sampai sekarang. Mohon maaf Javi, aku gak bisa nerima kamu.” Jelas Elina panjang lebar. Membicarakan apa yang Javi tak tahu sebelumnya.

Javi terdiam lagi. Sekitar 10 menit kemudian baru Javi mulai berbicara. Keadaan di luar hampa. Sementara di dalam kamar, Liam tersenyum dengan apa yang barusan dia dengar. Liam sekarang tenang, ternyata Elina bisa menerima dia dengan sepenuh hatinya. Elina telah memaafkan dirinya. Liam membuka matanya lagi tersenyum sambil mengusap sedikit air matanya yang jatuh.
“Hahahaha, lucu ya El..” ujar Javi sambil tertawa.
“Kok lucu sih ? Kamu emang gak marah atau merasa gimana gitu aku jawab kayak gitu ?” ujar Elina bingung.
“Hahahha, enggak kok, aku tenang kamu udah bisa jujur sama diri kamu sendiri. Aku minta maaf ya kalo aku lancang ngomong gini ke kamu. Perasaan aku ini memang salah ke kamu. Aku gak tahu kenapa.”
“Ihhhh, aneh dasar. Aku jadi ngaku kan semua tentang aku dulu. Gak kok gapapa, buat aku, kamu jujur, juga bikin aku tenang. Perasaan kamu gak salah kok. Wajar. Berhak semua orang jatuh cinta, tapi menurut aku kamu salah jatuh cinta.” Ujar Elina lembut.
Semua jelas. Javi ternyata suka dengan Elina, tapi telat. Elina menerima semua yang Javi rasakan dan katakana padanya. Javi menerima juga alasan dan kenapa Elina menolak dia. Javi sadar dia telah salah suka dengan Elina. Javi sadar kalau dia tidak tepat membicarakan semua perasaan ini disaat Elina sedang mendapati beberapa masalah ini. Diamlah mereka berdua. Setelah itu keadaan kembali normal. Keadaan kembali seperti Elina dan Javi berteman. Begitu juga sebaliknya.

“Permisi, apakah anda teman dari Mr. Liam James Payne ?” Ujar salah seorang suster yang menghampiri Elina dan Javi.
“Ya betul..”
“Kalo boleh tahu siapa ya namanya ?”
“Ohh, saya Elina, ada apa ya suster ?”
“Ohh, baiklah bisa ikut saya sebentar ? Saya ada perlu dengan anda.”
“Bisa sus. Javi aku tinggal dulu ya, aku nitip Liam.”
“Oh, okay, tenang aja.”
Pergilah Elina dengan suster itu. Javi pun menengok sebentar ke dalam untuk melihat Liam. Ternyata Liam masih tidur. Javi menutup pintunya lagi dan menunggu.

Setelah Javi menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya Elina datang menghampiri. Elina duduk dan tersenyum setelahnya.
“Kenapa ?” tanya Javi singkat.
“Hah… aku tenang, besok Liam bisa pulang. Terus tadi abis ngurusin administrasi.” Senyum Elina merekah.
“Ohh, gitu, syukur deh, akhirnya.” Senyum Javi.
“Iya..”
“Kamu gak mau pulang dulu ? Aku bisa kok jagain Liam.”
“Gak usah Vi, aku juga mau jagain dia. Oh iya, bentar ya, aku mau nelpon orang tua Liam dulu.”
Elina mengambil handphonenya. Mencari nomor rumah Liam.
“Halo Leona disini, ada yang bisa saya bantu ?”
“Halo tante ? Kebetulan, ini Elina..”
“Oh, Elina, apa kabar ? Gimana keadaan Liam disana ? Tante tahu kalo kamu bakal jagain dia dari kakak kamu.”
“Hehe, iya tante, Elina baik kok, Liam baik – baik aja, dia lagi istirahat, iya tante, ini aku Cuma mau ngabarin kalo Liam besok bakal pulang.”
“ Oh iya ? Syukurlah, oke kalo gitu besok tante kesana ya…”
“Iya tante, silahkan, yaudah tante Elina Cuma mau ngabarin itu aja kok.”
“Oke makasih ya sayang udah ngasih tahu tante, titip Liam ya, jagain dia.”
“Iya tante tenang aja, yaudah makasih ya tante, selamat malam..”
“Malam Elina..”Mrs. Leona menutup telponnya diikuti Elina.
Malam yang panjang. Pikir Elina. Javi pamit untuk pulang dan berjanji akan balik lagi esok hari. Elina senang tersenyum, Javi mencium pipi kanan kiri Elina, memeluknya, meminta maaf dan mengucapkan selamat malam.
Elina pun masuk ke ruangan Liam. Duduk di sofa dan tak lama dia tertidur di sofa di dalam ruangan Liam.

Pagi menjelang. Liam sudah bangun terlebih dahulu. Duduk di tempat tidurnya. Sudah rapi dengan pakaian gantinya. Suster sudah mengurusinya. Tetapi Elina belum bangung. Liam menyiapkan sesuatu untuk Elina ketika ia bangun. Liam menyiapkan kertas yang ia tuliskan “Good morning My love.” Dengan tanda hati di gambarkan itu juga.
Tak berapa lama Elina bangun. Ia membenarkan tubuhnya dan duduk. Kaget, samar – samar ada seseorang yang memegang seseorang bertuliskan “Good morning My love”. Lalu dia mencoba memperjelas pandangannya. Senyum tersurat diwajahnya. Liam membuka dan memperlihatkan wajahnya dari kertas yang ia buat tadi.
“Good morning my Love..” ujar Liam lembut.
Elina hanya bisa tersenyum. Belum menjawab apapun. Liam bingung dan menghampiri Elina dan duduk bersandingan di samping Elina. Liam menghampirinya secara perlahan karena ia masih merasakan nyeri diperutnya. Elina membantu Liam untuk duduk disampingnya. Mereka berpandangan.
“Kok kamu diam aja sih ? Gak seneng aku udah sembuh gini ?”
Elina masih diam.
“Tuh kan diem aja…” Elina masih diam. Lalu Elina pun menyentuh bibir Liam dengan tangannya dan ia langsung mencium bibir Liam dengan lembut dan cepat. Liam terdiam. Tak berapa lama Elina membuka pembicaraan.
“Itu ungkapan kesenangan aku. Udah tiga hari ini aku kesepian karena kamu tidur terus ditempat tidur itu. Bikin aku khawatir sama nangis terus. Aku seneng “the man who can’t be moved” aku udah berangsur sembuh.” Jelas Elina sambil tersenyum pada Liam.
“Hahaha, aku jahat ya ? maaf deh… Maafin aku ya, maafin aku atas kesalahan aku kemarin sehingga kamu sampai pergi ke Scotlandia tanpa pamit sama aku. Aku nyari ke rumah kamu, tapi Danny bilang aku gak boleh nyusul dia. Apa karena ini kamu maafin aku ? Masa sih aku terluka dulu..” Liam berubah serius.
“Ya, untuk itu aku minta maaf, aku udah tahu semua dari Lisa siapa Viona sebenarnya, bikin aku sadar dan salah menilai kamu. Aku juga merasa bersalah dan gak bisa tenang disana. Tapi aku janji untuk stay seminggu sama Lisa.” Elina mencoba menyembunyikan dulu berita duka dari Lisa yang telah tiada ke Liam.
“Oww gitu, jadi aku gak perlu ngejelasin lagi ya, hehehe. Eh, makasih ya..” Liam berujar tiba – tiba.
“Makasih untuk apa ?” tanya Elina bingung.
“Makasih untuk semuanya. Nanti kamu juga tahu kenapa aku makasih sama kamu..” Ujar Liam sambil mencium kening Elina. Liam sebenarnya berterima kasih atas pengakuan Elina pada malam hari kemarin. Pagi itu sungguh romantis bagi mereka berdua. Sambil menunggu Javi dan orang tua Liam datang. Mereka berbincang sangat seru. Tapi tetap Elina menyembunyikan apa yang terjadi ketika Liam sedang sakit. Elina senang sekali hari itu. Rasa bersalahnya berangsur angsur hilang karena Liam sudah bisa membuatnya tersenyum lagi.
“Aku gak akan pernah salah dan menyesal telah milih kamu..” Ujar Elina tiba – tiba. Membuat Liam terdiam dan mencium kening Elina. Elina membalas dengan memeluk Liam.
“Awww jangan kenceng – kenceng dong, perut aku masih sakit nih.” Ledek Liam.
“Ehh, maaf, aduh kamu gapapa kan..”
“Hahahha, kasihan deh diboongin, gak kok, Cuma sakit dikit, lucu banget kamu ketakutan gitu..
“Ihhh, kamu mah…” Ujar Elina sambil tertawa.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...