Skip to main content

OneRepublic FF Part 13



MY LOVE LIVE

3 months later
Rose’s
“halo.. Brent… kok gelap sih ?” ujarku ketika sedang menyalakan skype. Aku pikir punyaku yang rusak di Denver, atau memang tidak ada sinyal di Venice ? Aku mengeluh dalam hati sambil terus mencoba. “Brent, ini masih gelap sayang…” ujarku lagi sedikit teriak. Tiba – tiba ketika aku sedang mensetting computer ku, semua berubah terang, lama kelamaan aku bisa melihat badan Brent. Ketika aku menyapanya. “Brent”. Dia langsung menaruh kertas bertuliskan “I Love You” di depan mukanya. “Maksud kamu apa sih sayang ? Aku kira komputerku rusak tahu.. Ahhh..” ujarku lagi.
“Jangan marah dong, aku kan udah bikini ini buat kamu.” Ujarnya menenangkanku. Hah, kukira apa. “Terus kamu emang gak ngantuk ? Sekarang kan udah jam 11 malam disana...” ujarku menasihati. “Gak kok, kan jetlag.” Ujarnya bercanda. “Oh, iya kamu seneng gak aku bikinin tulisan ini ? Oh iya, Merry Christmas ya, maaf telat, sekarang udah tanggal 27 Desember. Hehehe..” ujarnya lagi terkekeh. Brent tidak ada di Denver saat aku membutuhkannya. Aku sangat merindukannya, jika boleh jujur, aku agak was – was ketika dia sedang tur seperti ini. Jadi ingat ketika aku mengucap janji dengannya bahwa aku akan baik – baik saja ketika dia pergi tour nanti. Dan sekarang semua ketakutanku menggerayangiku.
“Ryan, Drew, Zach, sama Eddie, dimana ?” tanyaku pada Brent. “Mereka sudah tidur, mereka kelelahan mungkin, kami baru sampai tiga puluh menit yang lalu, aku rindu kau, jadi aku memutuskan untuk menghubungimu dulu.” Ujarnya. “Serius ? Aduh aku jadi tidak enak.” Ujarku. “Jangan begitu, aku kan yang rindu, masa’ sih kau tidak senang aku hubungi. Aku juga sudah membuatkan ini.” Ujarnya sambil menunjukkan kertas yang ia tulis “I LOVE YOU” untukku. “Aku senang, senang sekali, rinduku juga tak kalah denganmu. Kapan kau pulang ?” ujarku bertanya. “Hmm, aku akan menelponmu, masih ada lima tour lagi. Lalu kembali ke Denver dan mengikuti Tour Amerika, lalu melaunching album “Native”, lalu bertemu kau lagi.” Ujarnya. “Ahhh, kau membuatku senang terus.”

Brent’s

“Yap, itulah tugasku.” Ujarku sambil tersenyum. Jujur saja, sebenarnya aku lelah, tapi aku masih merindukannya. Merindukan melihat wajahnya, matanya yang indah bagiku. Dia terlihat senang sekali ketika aku menghubunginya. Disana memang masih jam 5 sore. Rose sedang libur, jadi waktunya pas sekali aku hubungi. Sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk memeluknya. Tapi, kami masih harus menyelesaikan lima tour Europe lagi.
“Kok diam..” ujarnya mengagetkan lamunanku. “Hey, Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu.” Ujarku mengelak bahwa aku sedang memikirkannya. “Ku kira kau kelelahan, aku takut kau kenapa – kenapa, besok apa yang akan kau lakukan ?” tanyanya lagi. “Aku akan istirahat besok, lalu terbang ke Jerman pada sore harinya, jadi kau tenang saja, aku masih punya waktu untuk beristirahat. Terima kasih telah mengkhawatirkanku.” Ujarku menjelaskan. “Baiklah kalo begitu, oh iya, biarkan aku menjemputmu ya ketika kau pulang dari Europe tour mu, boleh ?” ujarnya. “Boleh, boleh sekali, aku akan sangat senang, mungkin istri Ryan juga akan menjemput.” Ujarku sambil tersenyum. “Okay, itu bagus.” Ujarnya singkat. “Hmmm… Rose..” Aku lelah sekali, aku ingin pamit tapi aku tidak mau, tapi aku harus istirahat, sekarang jam menunjukkan pukul 12 malam. “Apa sayang ?” ujarnya manis. “Aku… Aku ingin pamit, aku minta maaf harus memutuskan hubungan di skype ini. Sebenarnya aku masih ingin berbicara padamu, tapi, aku harus out.” Ujarku perlahan. Kenapa sih aku harus lelah ? Aku masih ingin berbincang dengannya. “Ahh, yasudah tidak apa, berbicara seperti ini denganmu saja aku sudah senang. Yasudah aku pamit juga ya, jaga kondisimu baik – baik. Jangan macam – macam ya. I love you..” ujarnya menasihatiku. “Iya sayang, terima kasih waktumu, aku juga cinta padamu, sampai ketemu lagi ya.” Senyumku padanya, lalu aku melambaikan tangan diikuti olehnya. Senyum manisnya akan menjadi mimpi indahku malam ini di Venice. Besok aku akan berangkat ke Jerman untuk melakukan tour lainnya. Aku cinta padamu Rose, semoga semua ini menjadi akhir yang bahagia. Aku pun memutuskan hubungan internetku, mematikan laptopku lalu menaruhnya di tas yang sudah kami bereskan dan sudah di packing. Aku melihat anak – anak sudah tidur dengan nyenyaknya sedangkan aku masih sibuk dengan beres – beres.
Aku pun menggeser badan Eddie perlahan. Ya, aku tidur dengan Eddie. Eddie menggeser tubuhnya. Aku berbaring. Sekejap tertidur.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...