Skip to main content

OneRepublic FF Part 11



HE SHOOTS ME!
Rose’s
Tiba – tiba Brent memegang tanganku. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi dan aku hanya terdiam. Perlahan aku melepas tangannya, setelah lima menit tangannya menggenggam tanganku. Aku menengoknya lalu tersenyum kecut. Dia mengerti. Dia berkata. “Maaf ya, terlalu lama..” Aku hanya mengangguk padanya. Kami berdua melanjutkan menonton film Crazy, Stupid, Love. Memang ya, filmnya yang kami tonton pas sekali dengan apa yang sedang terjadi. “Brent, janganlah membuatku tinggi hati dengan apa yang kau lakukan, aku sendiri masih bertanya, apakah perasaanmu sama dengan perasaanku ? Aku sepertinya suka padamu, tidak, tidak, ini bukan hanya sekedar suka, melainkan Cinta.” Ujarku dalam hati dan perutku kembali mencelos.

“Ayo sudah selesai filmnya, aku akan mengantarmu pulang.” Ujarnya padaku. “Serius ? maksudku, apakah tidak merepotkanmu ?” ujarku membalas. “Tidak, serius, aku juga tidak tega membiarkanmu pulang sendirian.” Ujarnya manis. “Baiklah, aku menurut saja padamu.” Senyumku padanya. Kami berdua pun menuju parkiran lalu mencari mobil Brent. Naik dan berangkatlah kami kerumahku.
“Di San Franc, apakah OneRepublic terkenal ?” tanyanya padaku sesaat setelah masuk mobilnya. “Cukup terkenal, lagi pula, kalian juga sudah mendunia kan, aku pernah melihat beberapa videomu pada saat kau tour Eropa, dan itu sangat keren.” Ujarku. “Oww, Wow, jadi kau suka music apa ? Maksudku jenis music apa ?” ujarnya lagi. “Aku ? Apa saja, asal menurutku itu enak di telingaku, maka aku akan suka, tapi jujur saja, aku kurang suka music Rock keras, heheehe.” Kataku sambil terkekeh. “Ohh, itu bagus, aku juga suka, kapan – kapan ketika musim panas lagi, kita jalan saja mengunjungi festival music.” Ujarnya menawarkan. “Hmm, tapi apakah kau tidak konser ? Maksudku, kau tidak punya jadwal tour ?” tanyaku. “Oh, iya, aku sampai lupa, aku akan menghubungimu Rose jika aku punya waktu, ngomong – ngomong aku minta maaf ya soal tadi ketika di Bioskop.” Ujarnya malu – malu. Aku mengerti apa yang sedang di bicarakan. Ini tentang hal ketika dia memegang tanganku ketika kami menonton tadi. “Tidak apa, gerakan tiba – tiba, kita kan tak tahu.” Jawabku santai. Akhirnya kami berdua sampai.
“Terima kasih ya telah mengantarku pulang.” Ujarku padanya manis. “Sama – sama..” ujarnya singkat. “Tidak mau masuk dulu ?” ujarku bertanya. Ia terlihat manis ketika bersandar di pintu mobil setelah menurunkanku. Dia malu – malu. Dia memegang tengkuk lehernya terus seakan ia ingin membicarakan sesuatu padaku. Aku pun bertanya padanya. “Hmm, Brent, kau tidak apa – apa kan ? Ada apa dengan lehermu ?” dia membalas. “Hmm, Rose, aku tidak apa – apa kok, hanya agak dingin…” ujarnya. “Dingin ? Kau mau meminjam jaketku ?” kataku menawarkan. Aku tahu dia bohong.
“Yasudah, aku pamit masuk ya, hati – hati di perjalananmu, terima kasih untuk hari ini.” Ujarku sambil melambaikan tangan dan tersenyum. “Hmmm, Rose… Rose.. Tunggu.” Ketika aku sudah berbalik ingin masuk, aku berbalik lagi untuk melihatnya. Lalu dia menghampiriku. Aku pun bertanya. “Ada apa lagi ? Jadi meminjam jaketku ?” ujarku lagi. “Bukan, Aku…. Aku….” Ujarnya gugup. Aku tambah penasaran, lalu aku bertanya lagi. “Aku apa ?? Ucapkan saja Brent.” Jelasku. Tiba – tiba ia memegang tanganku. “Aku… Hmm, Aku suka padamu, maukah kau menjadi pacarku.” Aku kaget dan tertegun merasakan ucapannya di dinginnya malam musim gugur.

Brent’s
Dia belum menjawab. Aku tahu ini mendadak. Tapi aku rasa, ini adalah saat dan malam yang tepat untuk menembaknya. “Bagaimana ?” ujarku bertanya. Aku harap dia bisa menerimaku dan punya perasaan yang sama. “Aku jatuh cinta pada pandangan pertama Rose, aku suka padamu, ini jujur dari hatiku.” Ujarku lagi. Dia tetap terdiam. Lalu ia menghela nafas dan bicara. “Hmm, aku bingung.” Ujarnya manis. Tangannya masih dalam genggamanku. “Jangan bingung, ayolah, aku butuh jawabanmu, maaf jika aku terlalu terburu – buru, Rose.” Lalu aku melepaskan tangannya.
“Haruskah kujawab sekarang ?” tanyanya. “Ya, jika kau mau..” ujarku. “Okay..” Jeda satu menit yang membuatku sangatlah gugup. Aku bisa merasakan angin kota Denver yang dingin karena musim gugur yang sebentar lagi berakhir dan sebentar lagi Halloween. “Iya..” ujarnya tiba – tiba. Lamunanku hilang. “Iya ? Maksudmu ?” tanyaku untuk meminta kejelasan. “Hmm, Iya, aku menerima kau sebagai pacarku.” Ujar Rose manis. Aku tersenyum. Rasanya aku ingin meloncat saja pada saat itu. Aaa, Rose Anderson pacarku sekarang. Hatiku berteriak teriak. Campur aduk sehingga aku terdiam. “Kenapa ? Salah ya jawabanku, aku harap sih tidak. Jujur saja, ku kira kau tidak punya rasa padaku, ternyata kau…. Kau punya rasa yang sama denganku.” Ujarnya mengangetkan tatapanku pada wajahnya yang manis. “Ohh, tidak, tidak salah.. Aku senang sekali kau menjawab seperti itu, terima kasih ya Rose.” Ujarku manis. “Okay, sama – sama, hmm, sekarang lebih baik kau pulang, malam ini dingin sekali, hati – hati ya dijalan.” Ujarnya manis. Aku memegang tangannya. Malam ini indah sekali bagiku. “Iya, aku pulang ya..” ujarku manis. Aku langsung mencium keningnya. Terima kasih untuk malam ini Rose. “Aku masuk dulu ya..” senyumnya padaku. “Iya, bye.. selamat malam dan mimpi indah..” ujarku melambaikan tangan. Aku tersenyum padanya sampai dirinya masuk ke dalam pintu masuk untuk menuju Flatnya. Ketika ia menutup pintu aku melonjak kegirangan. Kata “Yes” adalah yang paling menggambarkan. Aku langsung membuka pintu mobilku, duduk sebentar dan berujar dalam hati “Berhasil” lalu menyalakan mesin mobil dan pulang ke rumah.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...