Skip to main content

Part 29 (OneScriptFF)



Part 29

“Boleh aku pesan satu kue red velvet itu ?” ujar seseorang memesan makanan kepada Nina. Nina membalikkan badannya dan kaget ternyata itu adalah Eddie yang berjanjian dengannya sejak kemarin.
“Hi…” ujar Nina senang. Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.
“Hi…” balas Eddie.
“Tunggu sebentar ya…” ujar Nina sambil memberi kodenya dengan tangannya. Nina pun melepas celemek nya dan bergegas memanggil Max yang sekarang menjadi asistennya. Max mengangguk dan menggantikan pekerjaannya untuk melayani pelanggan yang lain.
“Tidak apa aku menganggumu ?” tanya Eddie berjalan berbaringan dengan Nina menuju meja dan kursi yang ada di dekat pintu keluar toko.
“Tidak kok. Tidak terlalu ramai, mungkin nanti malam akan ramai. Oh iya, kau duduk duluan ya, aku akan mengambilkanmu minum dulu.” Senyum Nina. Eddie mengangguk.
Tidak lama kemudian, Nina datang dengan membawakan secangkir teh rasa apel buatannya. Dia juga membawakan kue khas Indonesia yang ia beli di Negara itu.
“Kue ini enak, jadi aku memberikanmu agar kau mencobanya.” Senyum Nina lagi.
“Terima kasih..”
“Jadi, coba ceritakan apa saja yang kau lakukan ketika kau tidak bersamaku lagi ? Kenapa kau memutuskanku dan… kenapa kau harus menghilang dariku ?” Eddie bertanya secara langsung dengan pertanyaan beruntun, membuat Nina bingung harus yang mana dulu yang harus dia jawab.
“Aku harus menjawab yang mana dulu ?” Nina bertanya sambil tersenyum meledek.
“Terserah padamu.”
“Jadi begini. Ingat masalah bersama Joanna ? Itu adalah masalah yang besar Eddie. Dia… dia menculikku..”
Eddie tersedak ketika ia mencoba menelan kuenya. “Apa ? Uhukk. Uhukk..” Nina panic lalu mengambilkan tisu untuknya dan mengelap sedikit kotoran yang ada dimulut Eddie. “Terima kasih, aku tidak apa…” ujar Eddie lalu membenarkan posisi duduknya dan merespon pemberitahuan Nina.
“Bagaimana itu bisa terjadi ?” tanya Eddie penasaran.
“Ketika itu, malam hari, setelah kau kembali ke Denver. Aku pulang dari kantorku dan tiba – tiba ada seorang lelaki menarikku sangat kencang dan… ternyata itu adalah Steve. Wow. Bahkan aku sampai tidak percaya dengan itu.” Nina meneguk tehnya yang hangat dengan menggunakan mug biru bercorak sapi di tengahnya.
“Wow. Bahkan aku juga tidak percaya. Lalu ?” Eddie sangat antusias dengan cerita Nina.
“Steve membawaku ke suatu tempat yang aku lupa dimana tempatnya itu. Aku disekap, diikat dikursi, dan tidak bisa bicara. Ketika sudah setengah jam berlalu, kira – kira ya menurutku, datanglah Joanna, kain yang menutup mulutku dilepas, dan aku berteriak. Tidak ada orang yang mendengar.”
“Setelah itu Joanna seperti memasang wajah dendam dan marah kepadaku, mengancamku agar segera memutuskanmu malam itu juga. Lalu, aku disuruh olehnya untuk meneleponmu, aku langsung menghubungi dan semua selesai…”
“Ya. Aku tahu akan hal itu.” Balas Eddie ketika Nina menyelesaikan ceritanya.
“Tapi semua ternyata belum selesai..” Nina kembali membuka ceritanya. “Ternyata Joanna masih dendam pada Steve yang mempunyai hutang dengan ayahnya yang mungkin menurutku cukup banyak. Sehingga pada saat itu… Oh My God..” Nina memegang kepalanya karena tak percaya dengan kejadian yang akan dia ceritakan itu. Nina kembali meminum tehnya.
“Kenapa ?” tanya Eddie yang ikut meminum tehnya.
“Joanna shot Steve. Untung saja itu hanya mengenai bagian dekat pundak. Aku panic dan langsung membawanya ke rumah sakit. Tanganku penuh darah. Untunglah aku bukan orang yang sangat takut dengan darah. Dokter bilang, untung saja tidak terkena jantungnya, sehingga dia masih selamat, dan aku menitipkan surat perpisahan pada suster yang menjaganya dan selesai.” Nina menarik nafas dalam – dalam.
“Lalu hanya karena itu kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku tanpa kabar ? Tidak masuk akal Nina.” Eddie berdalih. Dia coba membela dirinya yang ditinggalkan lama oleh Nina tanpa sebab.
“Bukan soal itu Eddie. Joanna kala itu masih berkeliaran. Sehari setelah kejadian itu, Joanna mengirim pesan singkat padaku kalau dia bisa saja membunuhmu jika aku masih dekat denganmu. That’s why I decided to move to Los Angeles.” Nina menjelaskan dengan nada tinggi. Lalu dia mencoba tenang dan mengambil nafas panjang.
“Lalu setelah itu, kau bertemu Brent dan temanmu Jackie ?”
“Iya begitulah. Tak sengaja aku bertemu Brent disini. Aku bertemu di sebuah café bersama bandnya. Brent dekat denganku karena ternyata, dia adalah orang yang waktu itu menabrakku dan menyimpan sapu tangan biruku. Dunia sempit Eddie.” Senyum Nina.
“Hah ? Bisa seperti itu Nina ? Dia juga bercerita padaku bahwa dia bingung untuk mengembalikan sapu tangan itu karena dia lupa dengan orang yang ditabraknya. Sungguh lucu.” Ujar eddie sambil tertawa pelan.
“Ya begitulah. Kebetulan aku membeli yang baru dan sama dengan punya ku yang ada padanya. Maka dari itu aku berikan saja sapu tangan itu untuknya. Lalu, hal lucu terjadi, dia ternyata suka pada Jackie. Aku perkenalkan saja, sampai sekarang mereka bersama.” Jelas Nina lagi. Nina mengambil kue yang ia bawa dari Indonesia, memakannnya sedikit demi sedikit.
“Lalu, kenapa harus lari ke Indonesia ?” tanya Eddie lagi.
“Aku bingung sekali. Aku tidak bisa berpikir jernih kala itu. Ibuku… Ibuku tiada setelah kejadian pertengkaran aku, Danny dan Brent. Aku benar – benar jatuh kala itu, lalu aku memutuskan untuk mengunjungi temanku disana. Ternyata semua itu berhasil. Disana aku benar benar bisa hidup tenang dan… dan menyelesaikan bab terakhir bukuku.” Jawab Nina sambil menerawang jauh ke jendela yang ada disebelah kirinya. Hari itu cukup ramai. Nina tak sengaja mengucurkan air mata nya dan membasahi wajahnya. Dia langsung menghapusnya kala itu juga.
“Aku… Aku minta maaf atas Ibumu, Nina. Aku sebenarnya.. sebenarnya sudah tahu dari ayahmu.” Ujar Eddie memberitahu Nina secara gugup.
“Kau ? Kau bertemu ayahku ? Bagaimana bisa ?” tanya Nina kaget.
“Long stories. Tapi, intinya, Danny yang memberitahuku untuk menjemputmu di Dublin. Dia tahu rumahmu dan memberikan alamat itu. Aku tahu kau sedang di Dublin dari Jackie. Tapi, Jackie kala itu pun tidak tahu bahwa kau ke Indonesia.”
“Maka dari itu, aku segera menyusulmu kesana. Aku mengambil libur di kala jadwal summer tour ku dengan The Script. Lalu aku bertemu ayahmu dan kami berbincang banyak hal dan disitu pula aku tahu kau berlibur ke Indonesia.” Jelas Eddie. Nina tersenyum.
“Ayahmu adalah orang yang paling baik dan bijak yang pernah aku temui. Dan dia sayang sekali terhadap ibumu. Dia bilang kau mirip sekali seperti ibumu.” Ujar Eddie lagi yang membuat pipi Nina memerah.
“Iya, aku tahu itu. Karena ayahku peduli sekali dengan Ibuku. Ketika Ibuku tiada, tidak hanya dia yang kehilangan, tapi aku juga. Ibuku adalah tumpuan ceritaku. Aku selalu bercerita dengannya.” Nina menaikkan rambutnya yang menutupi wajahnya.
“Nina, listen.” Ujar Eddie tiba-tiba setelah mereka terdiam cukup lama. Eddie menegakkan badannya dan memajukan bangkunya agar lebih dekat dengan Nina. Ia pun mengambil tangan Nina dengan lembut dan menggengamnya. Nina pun terpana dengan apa yang dilakukan Nina.
“Mungkin ini adalah ucapan yang paling berani, ucapan yang jarang bahkan tidak pernah aku keluarkan untuk meminta kembali seseorang kepadaku. Nina, aku mohon, aku mohon maaf akan semua kesalahanku, kesalahan mantanku yang menyulitkanmu.”
“Karena itu, bolehkah aku memintamu kembali untuk menjadi… untuk menjadi kekasihku ?” Di sela – sela Eddie sedang meminta Nina kembali untuk menjadi kekasihnya, Eddie mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kotak itu berwarna biru, sesuai warna kesukaan Nina. Dibukanya kotak itu, ternyata kotak itu berisi sebuah cincin emas.
“Apakah kamu mau menikah denganku ? Next summer. Aku ingin kamu jadi salah satu wanita terbaik dalam hidupku. Aku ingin kau selalu ada dalam setiap perjalanan hidupku. Aku ingin kau menjadi seorang yang selalu menungguku disaat aku pergi jauh dan kembali untuk membawakan kebahagiaan untukmu.” Pinta Eddie yang membuat Nina makin tertegun dengan apa yang dilakukan Eddie. Nina tak bergeming. Ia bingung harus menjawab apa.
“Aku juga minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku buat padamu. Aku minta maaf sebesar – besarnya. Akulah yang selama ini mempunyai banyak kesalahan padamu. Tapi, ya, kau benar. Aku menerimamu sebagai kekasihmu dan bonus lagi untukmu, aku… aku menerima cincin itu. Aku bersedia untuk menikah denganmu musim panas tahun depan.” Ujar Nina dengan mata yang berkaca – kaca. Eddie tersenyum lalu melepaskan tangan Nina dan mengambil cincin yang ada di kotak kecil itu, lalu memakaikannya di jari Nina.
“Terima kasih.” Eddie mengecup tangan Nina. Nina kembali tersipu malu. Hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi mereka berdua. Akhirnya dua pasangan yang saling mengerti itu kembali bersatu dan terlihat bahagia.

****
Setelah beberapa bulan di Amerika, akhirnya Nina memutuskan untuk pulang ke Dublin, ke rumah ayahnya pada saat Natal datang. Dia sudah sampai sejak hari sabtu. Hari minggu ini dia akan disibukkan dengan rangkaian kegiatan mengenai natal. Ayahnya juga ikut membantu. Kepulangannya ini juga Nina ingin memberitahu bahwa dirinya di lamar oleh Eddie. Kabar yang bahagia pasti untuk ayahnya. Sambil ia membantu ayahnya membereskan ruangan yang ada di dalam rumahnya, ia berbincang dengan ayahnya.
“Akan sepi ya, tidak ada Ibu.” Ujar ayahnya ketika sedang membereskan pigura yang ada di meja di samping televisi miliknya.
“Iya, tapi aku yakin ibu juga pasti bahagia melihat kita dari surga.” Ujar Nina bijak. Ayahnya tersenyum padanya. Nina sedang menghias pohon Natal yang ada di ruang keluarga Anderson.
“Ayah, siang ini aku ingin belanja ke supermarket untuk membeli bahan – bahan memasak untuk natal. Apakah kau butuh sesuatu ?” tanya Nina.
“Hmm, sepertinya tidak ada. Kau paling tahu apa saja yang dibutuhkan, jadi aku percayakan saja semua padamu.” Ujar Ayahnya kemudian tersenyum dan meninggalkan Nina untuk pergi ke dapur. Nina tersenyum juga dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Siang hari itu, Nina sudah selesai dengan pekerjaan beres – beresnya, ia pun berangkat menggunakan sepedanya. Dia berangkat ke supermarket yang cukup besar yang berada di dekat rumahnya. Mengayuh sepedanya sekitar lima belas menit, akhirnya dia sampai ke supermarket itu.
Sedang asyik memilih bahan makanan yang akan disediakan untuk natal kali ini, ia tak sengaja menabrak seorang lelaki.
“Oh, maaf sekali…” Nina menengok kearah lelaki yang juga belanja bumbu dapur.
“Iya tidak apa.” Ujar Lelaki itu tersenyum tipis. Nina tersentak dengan apa yang dilihatnya bahwa lelaki itu adalah lelaki yang dulu dikenalnya. Lelaki yang dulu dekat sekali dengannya sewaktu ia duduk di bangku SMA nya.
“Evans ? If I’m not mistaken. Karena aku masih ingat wajahmu.” Senyum Nina memanggil lelaki itu.
“Iya betul sekali. Kalau boleh tahu kau siapa ya ?”
“Oh, yang benar saja, kau lupa denganku ?” tanya Nina sambil menjabatkan tangannya dengan tangan Evans.
“Aku Nina. Temanmu yang dulu suka sekali dengan olahraga. Dulu, yang selalu suka bercerita apapun di waktu SMA.” Ucap Nina sambil menegakkan badannya bercanda. Evans coba mengingat. Tak lama ia tersenyum dan memeluk Nina erat.
“Wah, maaf kalau begitu. Aku lupa sekali. Kau berubah Nina. Hahaha.” Tawa Evans renyah.
Ketika mereka sedang asyik berbincang bersama, tiba – tiba ada seorang wanita datang dan langsung memanggil Nina.
“Nina ?” panggil wanita itu. Nina dan Evans menengok berbarengan kearah wanita itu. Nina kaget bukan kepalang. Yang dilihatnya juga adalah orang yang sangat ia kenal.
“Alex…..” Nina memanggilnya cukup kencang lalu Alex menghampiri Nina dan memeluknya erat.
“Sedang apa kau disini ?” tanya Nina setelah melepaskan pelukan itu.
“Aku ? Justru aku yang ingin bertanya padamu. Sedang apa kau bersama Evans ?” tanya Alex lagi. Evans tersenyum.
“Loh ?”
“Iya. Kami sudah bertunangan. Akhir musim dingin kami akan menikah.” Evans menjelaskan dengan sedikit malu – malu.
“Wah. Aku sangat tidak menyangka. Dunia memang sempit bagiku. Kau bertemu Evans dan akan menikah dengannya. Selamat untuk kalian ya.” Ujar Nina yang mengeluarkan rasa bahagia untuk Alex dan Evans.
“Terima kasih banyak. Nanti datang ya, jika semua sudah beres aku akan mengirimkan undangan padamu. Cepat – cepatlah menyusul Nina.” Ujar Alex sambil tersenyum memandang wajah Evans yang dibalas senyum juga olehnya.
“Tenang saja. Aku akan usahakan untuk datang. Karena aku sudah tidak tinggal dan menetap disini lagi. Aku sudah, aku sudah buka usaha di Los Angeles. Aku sekarang menetap disana.” Jelas Nina.
“Ahh benarkah ? Jika aku ada waktu, aku ingin berkunjung. Tapi Nina maaf sekali. Aku dan Evans sedang buru – buru karena aku harus pergi ke rumah Evans bertemu ibunya.”
“Iya benar Nina. Maaf sekali ya kami harus pergi duluan. Aku dan Alex senang sekali bertemu denganmu. Tak menyangka juga kalau kau adalah teman Alex. Alex yang tidak pernah cerita padaku. Yasudah, sampai bertemu lagi ya Nina.” Evans pamit pada Nina juga Alex. Mereka membalikkan badannya meninggalkan Nina dengan bergandengan tangan yang membuat iri Nina. Tapi, untuk apa iri, Nina sudah punya kekasih yang selama ini dia cari dan dia dambakan. Nina pun tersenyum melihat perlakuan Evans yang sangat menyayangi Alex. Dia pun kembali melanjutkan acara belanjanya.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...