Skip to main content

Part 22 (OneScriptFF)



Part 22

“Maka dari itu, ketika aku tahu Nina tak memberitahukanmu kalau dia pindah aku sangat bingung.” Lea meneguk minumannya perlahan. Memerhatikan Danny yang sedang bingung.
“Iya, aku juga. Nomornya juga tak aktif lagi.” Ujar Danny sambil menunduk.
“Oh iya. Aku dengar bandmu dan OneRepublic akan konser satu panggung ?” tanya Lea penasaran.
“Yes. Mei sampai Juni nanti. Kenapa ?”
“Ohh, bagus sekali. Aku suka bandmu, aku suka OneRepublic juga. Jadi mungkin aku akan menontonnya.” Senyum manis Lea kepada Danny. Danny agak bingung dengan hatinya. Apakah ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Danny suka dengan Lea karena ia sangat asyik untuk diajak berbincang bersama.
“Danny ?”
“Iya..” Danny sadar dari diamnya ketika Lea memanggilnya.
“Ahh, pasti kau tak mendengarkanku. Jadi apa rencana mu selanjutnya ?”
“Aku tak tahu, Lea. Kalau misal dia sudah pindah, aku pun tak tahu dimana sekarang ia tinggal.”
“Di Washington D.C. ini aku kasih alamat apartemennya. Aku kasihan dengan kau. Sekarang kau bilang ke dia apa yang ada di hatimu. Jujurlah Danny. Nina butuh kepastianmu.” Ujar Lea meyakinkan Danny. Danny mengangguk, lalu dia pamit pada Lea dan berterima kasih sebanyak – banyaknya. Dia juga, meminta nomor Lea.
***
Danny berangkat menuju Washington dengan menggunakan kereta bawah tanah. Setelah menempuh perjalanan 15 menit, sampai lah dia di stasiun daerah Washington. Dia bergegas menuju apartemen yang dibilang Lea tadi. Setelah sampai dia terdiam, apartemennya seperti tak berpenghuni.
“Nina… apakah kau di dalam ?” tanya Danny dengan suara berteriak. Berkali – kali dia mengetuk pintu apartemennya tapi tidak ada jawaban juga.
“Hey.. berisik sekali kau berteriak seperti itu.” Ujar bapak – bapak yang berada di samping apartemennya. Apartemennya Nina saat itu tingkat, dan berjejeran bentuknya dengan apartemen yang lain.
“Oh maaf.” Ketika Danny menunduk dan meminta maaf, tiba – tiba anak perempuan laki – laki itu keluar. Mungkin anak perempuan itu bingung ada kebisingan apa yang terjadi di luar rumahnya.
“Danny O’donoghue ?” teriak sang anak perempuan. Ternyata anak lelaki itu adalah penggemar berat The Script. Ketika itu juga perempuan itu memakai kaos The Script.
“Yes.” Danny bingung. Tapi, kebingungannya hilang ketika dia melihat bahwa anak perempuan itu memakai kaos officialnya.
“Hi.” Ujar Danny lagi. Anak perempuan itu menghampiri Danny dan meminta ayahnya untuk membantunya foto bersama Danny. Setelah itu Danny tersenyum, dan anak perempuan itu berterima kasih.
“Aku Lili.” Ujar Anak perempuan itu mengenalkan diri. Ayah sang anak tak jadi marah pada Danny karena ayahnya tahu anaknya penggemar berat Danny.
“Kau sedang apa disini ?”
“Aku sedang mencari Nina, katanya dia tinggal disini.” Anak perempuan itu terdiam, karena dia tahu bahwa Nina sudah pindah.
“Dia sudah pindah. Sudah beberapa bulan ini. Memangnya kau siapanya ?”
“Aku temannya.”
“Hah ? Temannya ? Beruntung sekali dia berteman denganmu.” Ujar Lili kaget.
“Hahaha. Iya. Kau tahu dia pindah kemana ?”
“Aku tidak tahu dia pindah kemana. Aku hanya tahu bahwa dia sudah pindah. Dulu aku dekat dengannya, tapi semenjak ada masalah yang entah aku tahu itu apa, dia jadi semakin mengurung dirinya di rumah.” Jelas Lili. Danny membuang mukanya, melihat pintu apartemen yang terkunci dan telah kosong. Ini menjadi masalah yang Danny pikirkan, dia belum bisa jujur lagi dengan perasaannya kepada Nina.

****
Enam Bulan Kemudian.
Hidup baru, perasaan baru, pekerjaan baru. Sudah beberapa bulan ini, Nina sudah menjalani usahanya, yaitu membuka toko kue dan roti di daerah dekat apartemennya di Los Angeles. Usahanya juga berjalan cukup maju walaupun belum terkenal sekali. Nina senang sekali menjalankan bisnis ini. Karena beberapa bulan dia tinggal di Los Angeles, dia belajar untuk membuat roti dan kue, itu saja yang ia lakukan, ia selalu mencoba membuat experiment.
Jackie temannya juga sering mengunjungi Nina. Nina juga masih berhubungan dengan Brent, karena Brent sekarang telah menjadi kekasih Jackie. Kadang – kadang kalau Brent sedang ada urusan dengan Monarch di San Francisco, dia pasti mampir ke Los Angeles untuk bertemu Nina dan Jackie. Tapi dengan perjanjian bahwa Brent tidak boleh memberitahu Eddie tentang keberadaannya.
“Aku beli satu ya. Aku beli croissant yang berisi daging sapi.” Ujar pembeli yang meminta pesannanya segera diambilkan kepada Nina. Tapi Nina sedang sibuk merapikan roti yang baru saja matang.
“Sebentar ya, aku ambilkan.” Ujar Nina, lalu membungkusnya dengan kertas. Belum beres dia dengan pesanan pembeli itu, pembeli itu memanggil lagi.
“Nina.” Panggil pembeli itu. Nina terdiam. Suara itu adalah suara yang dia kenal. Suara yang tak akan pernah ia lupakan walaupun dia harus melupakannya. Nina pun memberanikan diri untuk membalikkan badannya. Ternyata benar, itu adalah….. Eddie.
Mereka berpandangan. “Ini pesananmu. Maaf ya aku harus meninggalkanmu, ada yang harus kukerjakan di dapur.” Ujar Nina lalu pergi meninggalkan Eddie, Eddie coba memanggilnya lagi namun gagal. Nina tak mau mendengarkannya. Nina memilih untuk pergi meninggalkannya.
“Nina.. Nina.. Please.. I need you.” Eddie coba memanggil lagi.
“Max, biar aku gantikan untuk menghias kue ini. Diluar ada banyak orang ingin membeli kue, tolong kau layani ya.”  Ujar Nina menyuruh Max, teman kerjanya.
“Nina. Kau tidak apa. Matamu kenapa kok berair ?” Max bertanya. Nina tahu bahwa dia habis menangis, tapi dia berbohong pada Max. “Aku tidak apa, cepat, antriannya cukup panjang.” Ujar Nina agak dengan suara keras. Max pun langsung berlari keluar.
Diluar Eddie hanya berdiri memegang pesanannya. Meratapi nasibnya yang gagal berbincang pada Nina. Ia tak berani masuk ke dapur untuk jujur pada Nina. Berbincang dengannya. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
***
“Ini untukmu.” Ujar Jackie sambil menyerahkan tiket konser OneRepublic dan The Script yang akan digelar dua hari lagi.
“Apa ini ?” Nina coba meyakinkan pandangannya dengan mengambil tiket itu dan melihatnya lebih dekat. “Kau gila ? setelah aku tadi bertemu dengan Eddie, sekarang kau menyuruhku bertemu dengan Eddie dan Danny lagi.”
“Aku tidak gila, Nina. Kau memang butuh itu. Selesaikan semua urusanmu agar hidupmu tenang.” Jelas Jackie bijak.
“No. Sekarang sudah selesai. Aku tak mau lagi melihatnya. Aku tak mau lagi bertemu mereka. It’s over Jackie.” Ujar Nina marah. Jackie hanya tersenyum.
“Itu yang membuat hidupmu tidak tenang. Kau harus menyelesaikannya Nina. Begini. Anggap konser ini sebagai hiburanmu saja. Kalau kau tidak datang, aku akan marah, lagian aku sedang dapat bonus gaji, jadi aku belikan ini untukmu.”
“Tapi kenapa harus VIP tiket ? Otomatis aku akan bertemu dengan mereka Jackie.”
“Iya, iya aku tahu. Sudahlah, bawalah itu sebagai kesenangan.”
“Kenapa hanya satu ? Kau kenapa tidak ikut ?”
“Aku ada urusan. Aku tidak bisa ikut. Aku harus mengerjakan laporanku.” Ujar Jackie lagi. Nina tetap diam tak bergerak, hanya memandangi tiket yang tergeletak di atas meja itu.
“Ingat, Nina, dua hari lagi ! Aku pulang dulu ya. Aku ingin kerumah teman kerjaku. Muaaachhh.” Ujar Jackie sambil mencium pipi kanan Nina. Nina hanya tersenyum kecut. Inilah awal dari cerita yang harus dia akhiri.
***
Setelah berpikir, akhirnya Nina menyadari bahwa apa yang dikatakan Jackie benar. Dia tak bisa terbelenggu dengan kesakit hatiannya itu. Bagaimanpun juga, Eddie harus tahu apa yang terjadi, Danny harus tahu juga apa yang telah terjadi. Danny adalah teman yang paling dekat dengannya, dia juga menyimpan perasaan pada Danny.
“Hah. Sampai juga ramai banget. Katanya harus nunggu di bagian backstage buat foto bareng. Siap gak siap harus siap, Nina.” Nina berbicara pada dirinya sendiri, meyakinkan hatinya.
“Nina…” tiba – tiba ada yang memanggil dirinya dari belakang. Nina tersenyum melihat lelaki itu, dia adalah Brent.
“Syukurlah kau datang. Tunggu aku di bangku sana ya, ada yang harus kubicarakan.” Ujar Brent senang. Nina hanya mengangguk dan menuju bangku yang dimaksud Brent. Tapi ketika dia sedang menuju bangku yang dimaksud dia menabrak seorang lelaki.
“Bukkk..” dirinya kaget lalu langsung melihat lelaki itu.
“Nina… Nina.. beneran ini kamu ?” ujar Danny sumringah. Dia senang sekali, akhirnya dia bisa bertemu dengan Nina.
“Danny…” Nina hanya berujar pelan. Dia hanya diam, lalu Danny memeluknya dengan erat sekali. Seakan – akan tak ingin melepasnya, orang yang selama ini dia cari akhirnya berdiri di depannya.
“Danny.” Setelah Nina memanggil namanya lagi, dia melepas pelukannya.
“Aku kangen banget sama kamu…” ujar Danny lagi. Danny tak lepas dari senyumannya, tapi pertemuannya itu harus ditunda ketika ada official staff memanggilnya. “Danny, I need you. Please come here. It’s very important.” Ujar staf itu lagi. Danny mengangguk. Lalu dia pamit pada Nina.
“Aku seneng banget kamu bisa nonton konser aku secara langsung. Dan.. Hey, kamu beli VIP tiket, jadi kamu bisa foto sama aku nanti.”
“Iya, Danny. Tapi, kamu kayaknya ditungguin staf itu deh, nanti lagi ya ngobrolnya.” Senyum Nina padanya. Danny pun menurut.
***
“Hi. Maaf aku lama ya. Ada sedikit masalah sama Cello aku tadi.” Ujar Brent yang ikut duduk di samping Nina ketika dia selesai dengan urusannya.
“Mulainya berapa jam lagi ?”
“Cuma tinggal satu setengah jam lagi. Kamu kok datengnya cepet banget ?” Brent bingung.
“Iya, Lumayan jauh, aku juga gak ada urusan, jadi berangkatnnya lebih awal.”
“Toko Roti kamu ?”
“Udah di tangani sama Max.”
“Oww, okay. Jackie gimana ? Oh iya, sampai akhir acara jangan pulang dulu ya, aku mau nitip sesuatu buat dia. Oh, kalau enggak, aku akan kasih hadiahnya ketika kamu ngambil foto sama aku nanti.” Ujar Brent.
“Brent, aku gak mau ngambil foto sama OneRepublic ataupun The Script, sebenarnya aku niat kesini, karena dipaksa Jackie. Aku gak berani dan gak siap untuk ketemu Eddie. Oh iya, aku iri deh sama kamu dan Jackie, kalian romantis banget.” Ujar Nina memangdang kosong ke depan. Brent hanya tersenyum mendengar keluhan Nina.
“Tapi, itu kan udah ada di daftar VIP ticket rule. Kalau kamu gak foto, kamu rugi lah.”
“Kamu sengaja ya, kamu sebelumnya kompromi sama Jackie untuk ngasih tiket VIP ini ke aku ?”
Brent tak bergeming, dia hanya sibuk dengan tangannya yang tidak ada apa – apanya. Memang sebenarnya ide ini adalah ide Jackie dan Brent untuk mempersatukan lagi Eddie dan Nina, tapi ternyata Nina sudah tahu idenya itu, dan Brent tak punya feeling kalau rencananya ini akan bocor.
“Iya..” jawab Brent singkat.
Nina hanya menunduk, menghela nafas. Diam tanpa ide untuk bicara lagi. Dia menyadari bahwa niat temannya itu baik, tapi, dirinya belum siap untuk melakukan itu.
“Aku ingat sesuatu Brent. Boleh aku tanyakan sesuatu itu ?” Nina membuka pembicaraan lagi.
“Iya, kenapa Nina ?” ujar Brent menyauti.
“Aku punya teman bernama Alexandra. Dia berasal dari Dublin, dia adalah teman kuliah ku dulu. Yang mau aku tanyakan adalah, apakah kau.. kau dulu adalah pacarnya ?”
“Alexandra ? Kau tahu darimana ?” Brent langsung kaget mendengar nama itu. Dia langsung ingat tentang mantan kekasihnya itu yang dulu meninggalkannya tanpa sebab.
“Iya. Beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya. Kita tak sengaja bertemu karena ternyata dia satu tempat kerja denganku. Dia wartawan juga, dia bilang dia ingin keluar dari kantorku karena ingin kembali ke Dublin.” Jelas Nina. Brent membuang muka.
“Benar. Dia bekerja di kantor berita itu juga karena aku membantunya. Tapi, ternyata dia ingin kembali ke Dublin, kami sempat bertengkar, alasan dia tidak masuk akal karena dia bilang dia tak bisa berhubungan jarak jauh denganku.” Jelas Brent setelah perasaannya sedikit emosi. Dia pun berusaha menenangkan diri.
“Iya. Karena Ibu nya sakit keras juga.” Lanjut Nina singkat.
“Hah ? Maksudmu ? Ibunya sakit apa ? Kenapa dia tidak jujur padaku ?”
“Dia juga tak jujur padaku. Dia tidak bilang ibunya sakit apa. Brent…”
“Nina. Tolong jangan beritahukan hal ini pada Jackie dulu. Tolong sekali. Kenangan dengan Alex begitu indah juga menyebalkan untukku, aku tidak mengerti dengan wanita itu. Mungkin memang dia ingin cari yang lebih lagi dariku.” Ujar Brent memohon sambil memegang tangan Nina. Nina bingung dengan apa yang dilakukan Brent. Tapi, Nina mengerti akan hal itu.
“Tenang saja. Tapi, bagaimanapun kau harus jujur pada Jackie.” Ujar Nina tersenyum pada Brent.
“Iya, aku akan jujur padanya suatu saat……”
“Nina… Apa yang sedang kau lakukan ?” Ujar Danny berteriak. Brent dan Nina pun menoleh bersama. Mereka kaget ketika Danny memanggil Nina. Brent pun kaget darimana Danny mengenal Nina. Mereka berdua sudah kenal lama, tapi Brent baru tahu bahwa Danny mengenal Nina.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...