Part
17
“Danny,
kenapa sih kamu gak sadar juga kalau aku suka sama kamu ?” ujar Nina sambil
menangis di dalam kamar mandi wanita yang ada di kampusnya. Ia bercermin, apa
yang salah di dalam dirinya. Dia tak pernah tahu, dia tidak pernah mendapat
jawaban. Danny yang menurutnya sosok sempurna, tidak dapat melihat kesempurnaan
perasaannya terhadap Danny.
“Ngiikkkk..”
suara pintu kamar mandi terbuka. Dilihatnya sosok perempuan memasuk kamar mandi
itu. Tidak disangkat, sosok perempuan itu adalah Alexandra, kekasih Danny
sekarang. Hubungan mereka masih baru, jadi masih mesra sekali kelihatannya.
Nina
buru – buru menyeka sisa air mata yang ada di wajahnya, dia takut ketahuan
kalau dia habis menangis. Setelah terlihat bersih, Nina mencoba untuk bersikap
santai, seolah – olah tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya kala itu.
“Hi
Nina… Sedang apa kau disini ?” tanya Alex pada Nina ketika Alex menyadari bahwa
Nina sedang bercermin.
“Hi.
Alex. Aku sedang bersih – bersih sebelum masuk ke kelas ku. Hmm, seharusnya aku
yang bertanya padamu, mengapa kau ada di gedung fakultas ini ?” Nina balik
bertanya. Benar, seharusnya Alex ada di gedung jurusan yang Danny ambil, bukan
disini.
“Hmm,
aku sedang jalan – jalan dengan Danny. Dia bilang, dia ada urusan disini, ingin
bertemu seseorang.” Nina terdiam, apakah urusan itu adalah urusan dengannya ?
“Hmm,
yasudah, Alex, aku duluan ya, aku ingin masuk kelas dulu.” Senyum Nina, lalu
dia buru – buru keluar dari kamar mandi itu. Hatinya sedikit terganggu dengan
kata – kata Alex yang bilang bahwa dia sedang jalan dengan Danny untuk bertemu
seseorang. Kemesraan mereka semakin membuat Nina sakit. Tapi, dia tidak bisa
berbuat apa – apa. Dia hanya bisa diam.
***
“Datang
gak ya. Ahh, gak usah, nanti sakit hati lagi karena Alex berduaan sama Danny.
Tapi kan kalau gak dateng, nanti Danny marah. Aku kan temen deketnya.” Nina
bingung. Dia bergulat dengan hatinya yang tidak ingin datang ke pesta ulang
tahun Danny, tapi pikirannya ia ingin sekali datang karena dia pikir dia adalah
sahabatnya.
“Gak
usah. Bilang aja, aku sakit. Eh, tapi nanti Danny malah khawatir, eh memangnya
Danny bakal khawatir sama aku ? Kan udah ada Alex. Yaudah gak usah dateng deh.”
Ujar Nina lagi. Dia memegangi bantalnya sambil sibuk menggaruk kepalanya karena
bingung.
“Hah…”
Dirinya menghela nafas. Akhirnya dirinya memutuskan untuk tidak ada ke pesta
ulang tahun Danny. Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada Danny
bahwa dirinya tidak bisa datang, karena dirinya sakit. Setelah menekan tombol
send, dirinya langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang nyaman
itu. Mencoba melupakan malam ini, malam yang indah untuk Danny dan malam yang
buruk baginya.
***
“Aku
sudah di tempat rehabilitasinya, kau dimana James ?” tanya Nina ketika baru
saja sampai di tempat rehabilitiasi narasumber yang akan di wawancarainya.
Narasumbernya adalah wanita yang kemarin dia lihat di tv. Narasumber yang
mungkin sedikit gila, pikirnya. Mungkin dia gila karena pengaruh obat.
“Aku
dibelakangmu.” James menyahut. Nina langsung mengarahkan badannya kearah suara
berasal. Dia langsung mematikan handphonenya. Nina tersenyum. “Ayo langsung
saja kita masuk.” Ujarnya lalu mereka berdua masuk.
“Bukk…”
lagi – lagi Nina harus bertabrakan dengan seorang pria. Entah dia yang tidak
fokus berjalan atau orang yang di tabraknya itu yang tidak fokus.
“Maaf,
aku…” lelaki itu menggantung kalimatnya. “Nina..” lanjut lelaki itu. Nina pun
kaget bukan main ketika melihat lelaki di depannya adalah Steve. Mantannya
dulu, dia juga sempat bertemu dengan Steve di New York.
“Steve…
Sedang apa kau disini ? Kau ???” Nina menerka nerka apa yang dilakukan Steve.
Nina mengira kalau Steve juga ikut rehabilitasi di tempat itu.
“Ohh,
haha, bukan – bukan. Aku hanya mengunjungi temanku yang sedang dirawat disini.”
Ujar Steve sambil tertawa karena wajah Nina seperti menuduh Steve seorang
pengguna obat – obatan terlarang.
“OH,
ku kira. Yasudah, aku masuk dulu ya. Aku harus bertemu narasumberku disini.”
Senyum Nina, lalu Steve membalas. “Good luck ya, Nina.” Sahut Steve. Nina
kembali tersenyum.
Nina
dan James mencari tempat dimana dia harus bertemu dengan narasumbernya itu.
Sampailah mereka berdua di bangsal bernomor 24 di tempat rehabilitasi itu.
“Permisi…”
ujar Nina. “Iya, silahkan masuk.” Sahut salah seorang petugas yang menjaga
wanita itu. Wanita itu mencoba tersenyum pada Nina. Wanita yang kemarin jadi
headline berita di televisi yang di lihat Nina.
“Hello.
Aku Nina dan ini James.” Nina mencoba memperkenalkan diri. Mereka mengangguk.
“Silahkan duduk.” Ujar petugas. Mereka memulai wawancaranya.
Nina
bertanya tanya tentang kasus yang dialami wanita itu, bertanya tentang kenapa
dia harus menjadi pecandu narkoba, dan kenapa harus ada kalimat kalau dia ingin
membalas dendam terhadap seseorang.
“Sebelumnya
boleh aku tahu namamu lagi ? Maaf aku lupa.” Ujar Nina sambil tersenyum.
“Aku
Joanna. Boleh aku tahu nama lengkapmu ?”
“Nama
lengkapku Nina Alexandra Anderson.” Mereka kemudian terdiam. Joanna memandangi
Nina dengan pandangan yang tidak biasa.
“Ada
apa Joanna ?” Nina membuyarkan pandangan Joanna.
“Ahh,
tidak, aku seperti pernah melihat kau disuatu tempat.”
“Benarkah
?”
“Ya
begitulah.”
“Hmm,
tapi sayangnya aku tidak bisa berbincang terlalu lama.” Ujar Nina mengakhiri
wawancara hari itu. Mereka pun berpamitan untuk pergi dari tempat rehabilitasi
itu.
Mereka
keluar dari ruangan no. 24 itu, lalu sebelum Nina dan James menuju pintu
keluar, tiba – tiba ada salah satu petugas yang tadi menemani Joanna wawancara
memanggil Nina.
“Nina..”
“Ahh,
ya mister, ada yang bisa saya bantu ?” ujar Nina ramah.
“Iya.
Joanna ingin menitipkan amplop ini untukmu. Dia baru saja menuliskannya untukmu
lalu menyerahkannya padaku.” Jelas petugas itu. Nina mengerutkan dahinya. Dia
bingung dengan isi amplop.
“Terima
kasih.” Nina pun langsung berpamitan ketika mendapat amplop itu dan langsung
diletakkan di dalam tasnya.
“Joannya
sangat ramah ya. Bukan seperti orang yang jahat.” Ujar James ketika keluar dari
tempat rehabilitasi itu dan menaiki mobilnya untuk kembali ke kantor berita
mereka.
“Ya
betul aku setuju denganmu. Tapi, maksud dia apa ya memberikan amplop tadi
padaku ?”
“Mungkin
dia penggemarmu Nina. Penggemar karena pandangan pertama.”
“Ahh,
James bisa saja kau. Tapi dia bilang pernah melihatku.”
“Sudahlah
Nina, tidak usah dipikirkan.” Senyum James membuat Nina tenang, akhirnya mereka
berangkat pergi dari tempat itu.
***
Nina
pun pulang setelah seharian lebih berada dikantornya. Setelah duduk di tempat
tidurnya, dia langsung ingat bahwa ia lupa untuk melaporkan ancaman yang ia
terima kemarin ke polisi. Dia hanya menghela nafas dan berpikir mungkin besok
ia baru melapor. Ia menaruh tasnya di samping dia duduk, dan ternyata tasnya
terbuka dan amplop yang diberikan Joanna tadi tak sengaja keluar dari tas itu.
“Ahh,
itu amplop dari Joanna kan.” Nina langsung mengambil amplop itu lalu dia
menyegerakan untuk membukanya.
Tertulis
disana “Jangan dekati Eddie lagi atau kau akan mati.” Nina langsung mengerutkan
dahinya dan menutup mulutnya kaget. Apa iya orang yang mengancamnya itu dia ?
Apakah Joanna sejahat itu. Apakah Joanna adalah mantan Eddie yang pernah Eddie
ceritakan dulu. Nina langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Eddie.
“Hello,
Eddie ? It’s me Nina.”
“Yeah,
ada apa sayang ?” ujar Eddie membalas.
“Joanna.
She’s back. Aku baru bertemu dengannya.” Ujar Nina. Pembicaraan terhenti
sejenak, keduanya terdiam tak tahu harus bicara apa.
Comments
Post a Comment