Skip to main content

Part 14 (OneScriptFF)



Part 14

“Danny, aku pernah dengar bahwa, sahabat yang sudah berteman selama lebih dari tujuh tahun dia akan menjadi sahabat untuk waktu yang sangat lama.” Ujar Nina ketika mereka sedang bersantai di taman kampusnya untuk mengerjakan tugas bersama.
“Kamu dengar dimana ?”
“Aku lupa, yang jadi pertanyaanku adalah, kita bisa seperti itu gak ya ?” Nina menggaruk kepalanya bingung.
“Aku hanya bisa berdoa. Semua bisa terjadi.” Danny menengok ke arah Nina dan tersenyum. Nina ikut tersenyum. Tapi hatinya berbeda, hatinya tidak tersenyum bahagia karena Danny menjadi sahabatnya, tapi dia hanya takut kalau Danny itu tidak punya perasaan yang sama terhadapnya.
“Mau kemana ?” Danny tiba – tiba terburu – buru ingin pergi setelah menerima panggilan telepon.
“Alex, ada urusan sama dia.” Ujarnya lalu pergi setelah pamit pada Nina.
“Hah, gimana mau bisa jadi sahabat yang bertahan lama kalau seperti ini.” Ujarnya sambil menghela nafas. Nina sendirian duduk menatap langit yang teduh. Angin musim dingin meniup kencang rambutnya yang tergerai. Dengan memakai pakaian dingin berwarna abu – abu dengan sepatu boot warna coklat, kali itu Nina terlihat cantik sekali.
“Tanggal berapa ya sekarang ?” Nina berbicara pada dirinya sendiri. Dia membuka note book nya untuk melihat tanggal berapa hari ini. “Hah ? 30 September ? Empat hari lagi Danny ulang tahun. Aku harus kasih surprise ke dia. Tapi apa ya ?” Nina diam sejenak, kemudian ia tersenyum sendiri kala itu karena sudah mendapat ide hadiah yang akan diberikannya untuk Danny. Dia beranjak pergi dari alas rumput yang dipakainya duduk berdua dengan Danny.

Sudah tiga bulan Nina dan Eddie menjalani hubungan bersama, berbagi bersama sebagai sepasang kekasih. Memang, mereka jarang sekali bertemu karena Eddie yang bekerja sebagai member band terkenal harus menjalani tour di berbagai daerah maupun di berbagai Negara, tapi kali ini, Eddie sedang mendapat libur. Eddie dan Nina ingin berjalan bersama hari ini, suasana di luar indah sekali, udara di luar sedang cerah, secerah hati Nina yang ingin bertemu dengan Eddie. Dia berjanjian di apartement Nina. Hari ini juga Nina berdandan cantik. Nina memakai kemeja wanita berwarna putih dengan cardigan berwarna biru, dilengkapi dengan celana jeans berwarna biru tua, rambutnya dibiarkan tergerai.
Nina sedang menunggu kedatangan Eddie. Mereka berjanjian pukul 15.00, tapi sekarang sudah pukul 15.10 dan Eddie belum datang juga. Ketika matanya melihat kea rah jam tangannya yang berwarna hitam. Nina coba bersabar. Tak disangka, ketika dia ingin menelepon Eddie, ketukan dari pintu apartementnya berbunyi, dan itu ternyata adalah Eddie.
“Hi..” ujar Nina. Eddie tersenyum.
“You look so beautiful today.” Ujar Eddie, Nina tersipu malu.
“Memangnya kita mau kemana hari ini ?”
“Berjalan – jalan saja. Dan nanti  malam aku akan mengajakku untuk bertemu dengan member band ku.”
“Ahh, benarkah Eddie ?”
“Ya betul. Ayo, kita berangkat sekarang.” Ujar Eddie.
“Ahh, sebentar aku akan mengambil tasku dulu.” Nina masuk ke dalam lagi untuk mengambil tasnya. Setelah itu dia keluar dan mengunci pintu apartementnya. Eddie lalu menggandeng tangannya erat.
***
“Jadi begitulah ceritaku.” Senyum Nina kepada Eddie setelah dia menceritakan sebagaian hidupnya dan kenapa dia pindah ke New York.
“Boleh kapan – kapan aku melihat karyamu ?” ujar Eddie sambil menegak wine di gelasnya.
“Boleh saja. Tapi, karena kesibukanku, aku masih mengerjakan 5 bab saja.”
“Ahh, aku akan rela menunggu kok. Bahkan jika aku harus membaca lima bab saja, aku rela..” Eddie tertawa renyah dengan gombalannya.
“Kamu, bisa saja sih.. Hmm, kamu jadi ajak aku ketemu teman – teman band kamu ?” tanya Nina mengalihkan topic. Dia ingat janji Eddie untuk mempertemukannya dengan member OneRepublic yang lain.
“Oh iya, hampir saja lupa. Sudah hampir larut juga. Kita akan ke hotel, ku perkenalkan, kita berbincang sebentar, lalu aku akan mengantarmu pulang.” Ujar Eddie sambil melihat jam tangannya, jam kala itu menunjukkan pukul 9 malam.
“Baiklah… Aku menurut saja dengan kau.” Nina memberikan senyum termanisnya kepada Eddie. Eddie membalasnya, lalu ia mengajak Nina untuk beranjak dari restoran tempat mereka menyantap makan malam. Eddie memegang tangan Nina erat, seakan tidak mau melepaskan Nina sama sekali.
***
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di hotel tempat Eddie dan OneRepublic menginap. Mereka masuk ke lobby hotel dan bergegas menuju taman belakang hotel itu. Member – member OneRepublic yang lain beserta staf mereka sedang berbincang sambil bersenda gurau. Eddie melambai dan memanggil ke arah mereka. Mereka menyauti Eddie membalas lambaian tangan Eddie.
“Eddie, temanmu banyak sekali, aku hanya mengenal Ryan saja. Aku malu..” ujar Nina sambil menunduk.
“Sudah tenang saja. Mereka ramah – ramah kok Nina..” ujar Eddie tersenyum padanya.
“Hey, jangan menunduk terus, ada aku disini, kau tenang saja ya.” Ujar Eddie sambil mengangkat dagu Nina lembut dan menatap wajahnya. Nina mengangguk, mencoba menenangkan diri karena disana ada Eddie yang menemaninya.
Mereka pun menuju kumpulan member lain. Di perkenalkannya kepada stafnya lebih dulu dan kemudian Eddie memperkenalkan member OneRepublic yang biasa manggung bersama dia.
“Ini Ryan, kau pasti sudah kenal. Ini Zach, Ini Drew dan itu yang duduk disamping kananmu adalah Brent.” Ujar Eddie menyelesaikan perkenalannya.
“Ohh, Hi, salam kenal semua..” ujar Nina. Tapi ketika dia berkenalan dengan Brent, dia ingat sesuatu, tapi ia coba mengelak karena mungkin itu kebetulan saja.
“Jadi ini ya, Nina Alexandra Anderson.” Ujar Zach sambil mengusap dagunya dengan tangan kanannya, tersenyum pada Nina.
“Iya, salam kenal Zach. Senang bertemu denganmu, Eddie bilang kau orang yang paling lucu.” Nina tersenyum memuji Zach.
“Really ? Hey, Eddie, what did you talk about me with her ?” Ujar Zach sambil tertawa.
“Hahaha, tenang saja, dia menceritakan yang baik – baik tentang kau, kok.” Ujar Nina sambil menyikut pelan lengan Eddie.
“Do you hear that ? Aku gak akan cerita yang tidak – tidak tentang kau.” Balas Eddie sambil menegak bir yang tersedia kala itu.
“Jadi, Nina, kau bekerja di bagian Kriminal dan politik ya sebagai wartawan ?” tanya Brent padanya.
“Ya begitulah, baru beberapa bulan, belum satu tahun. Sebelumnya aku menjadi wartawan olahraga dan tidak sengaja bertemu Eddie.” Jelas Nina.
“Apa hubungannya Eddie dengan olahraga ? Memangnya dia bermain rugby ?” ledek Brent sambil tertawa renyah.
“Aku seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana ya ?” ujar Nina dalam hati. Nina terdiam sejenak memperhatikan Brent dengan seksama.
“Nina.. Nina… Kau kenapa ?” ujar Brent sambil melambaikan tangan di depan wajah Nina.
“Ahh, hah ? Apa ? Kenapa ?” ujar Nina sambil membuang mukanya menghadap Eddie. Dia tidak enak sekali terdiam di saat yang tidak tepat.
“Kau kenapa sayang ? Sepertinya kau sudah lelah ya. Baiklah, ayo aku antar kau pulang.” Ujar Eddie lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia kembali menggandeng Nina erat.
“Terima kasih atas jamuannya ya. Sampai bertemu lagi di lain waktu.” Nina tersenyum lalu melambaikan tangan kepada semua teman Eddie yang ada disitu.
***
“Kenapa ya, perasaanku seperti pernah melihat Brent ?” ujar Nina ketika dia dan Eddie sampai di depan pintu apartemennya. Mereka berbincang bersama ketika Nina mencoba untuk membuka pintu apartemennya itu.
“Mungkin hanya perasaanmu saja. Lagian kamu kan baru ketemu dia hari ini. Yasudah, pintunya sudah terbuka, aku pulang dulu ya sayang. Selamat malam dan tidur nyenyak, jangan lupa untuk memimpikanku ya.” Senyum Eddie lalu mencium pipi kanan dan kiri Nina. Nina tersenyum membalas dengan perlakuan yang sama. Betapa manisnya pasangan itu.
Diam – diam dari kejauhan ada yang sedang  memperhatikan mereka berdua. Seorang wanita menggunakan jaket hitam, celana hitam, dengan rambut pirang yang diikat satu. Membuang rokoknya yang sudah tinggal sedikit. Menginjak rokok itu dan pergi. Wanita itu terlihat kesal sekali melihat kemesraan Eddie dan Nina, berniat untuk memisahkan mereka.

“Almost arrive..” ujar Mark ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Mark. Hari ini Mark, Danny dan Glen berkumpul di rumah Mark. Bertemu Rina dan ketiga anak Mark.
“Satu belokan lagi ya ? Sudah lama sekali aku tidak berkunjung.” Ujar Danny sambil terus memperhatikan jalanan di depannya.
“Iyap, kau benar Danny. Ya, kita sudah sampai.” Mereka turun dari mobil pinjaman dari staf mereka. Mark mengunci pintu mobil itu dan segera masuk ke dalam rumahnya diikuti Danny dan Glen.
“Hi… Ayah pulang..” ujar Mark kepada Istri dan ketiga anaknya.
“Halo ayah.. Aku merindukan ayah… Wah, ada paman Danny dan paman Glen..” ujar Cameron senang. Mereka saling berpelukan senang. Tidak lupa, Mark memberikan bingkisan untuk mereka. Mereka terlihat sangat senang sekali.
“Mari silahkan duduk, Danny dan Glen. Sudah lama sekali kalian tidak main kemari.” Ujar Rina tersenyum, mempersilahkan mereka duduk, permisi ke dapur untuk membuatkan minuman.
“Apa kabar kalian ?” Ujar Rina lagi ketika kembali dari dapur. Anak – anak Mark sudah asik dengan mainan yang di berikan Mark.
“Baik.. Baik sekali..” ujar Danny mewakili. Mereka berbincang bersama malam itu.
“Jadi, bagaimana Danny ? Sudah menemukan tambatan hatinya lagi ?” pertanyaan Rina menekan Danny. Tapi Danny hanya menjawab dengan tersenyum dan bilang “Belum dapat yang cocok, sementara ini aku menikmati kesendirianku dulu.” Rina mengangguk mengerti. Glen bercanda menyenggol lengannya tanda memberikan semangat pada Danny.
Karena pertanyaan itu, sampai dirinya pulang kembali ke apartemennya, dia terus memikirkan pertanyaan itu. Rina benar, Rina tahu kalau Danny habis mengakhiri hubungannya dengan mantannya, Rina bingung kenapa Danny belum mendapatkan pasangan lagi. Tapi, apa yang di jawab nya untuk pertanyaan Rina adalah jawaban yang paling tepat, selain dirinya sedang mencari dirinya juga harus fokus terhadap karirnya yang sedang naik daun.
Danny beranjak dari tempat tidurnya dan berpikir untuk jalan – jalan sejenak, membeli beberapa makanan.
Sampailah Danny di supermarket yang buka 24 jam. Disana Danny masuk dan mengambil beberapa makanan. Di berhenti di bagian coklat, dia seperti melihat perempuan yang di kenalnya, perempuan itu sama sekali tidak berubah. Dia coba memberanikan diri untuk menyapa.
“Alex ? Alexandra ?” ujarnya. Perempuan itu menengok ke arah Danny, mencerna siapa yang baru saja memanggilnya.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...