Skip to main content

Part 15 (OneScriptFF)



Part 15

“Danny.. Angkat dong teleponnya..” Nina kesal dengan Danny yang sejak tadi tidak mengangkat teleponnya. Dia sudah menghubunginya tiga kali, dan yang sekarang keempat kalinya, tetap tidak ada jawaban. Nina bingung dan menggaruk kepalanya kesal.
“Atau mungkin aku kerumahnya saja ya.” Ujar Nina lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk ke rumah Danny. Pasti ada perayaan kecil – kecil yang diadakan keluarganya. Nina pun mengambil hadiah dan kue berukuran 18x18 yang bertuliskan “Happy Birthday Danny” di atas kue itu. Hadiah yang akan ia berikan adalah sebuah jam tangan berwarna abu – abu metalik.
Nina beranjak dari tempat duduk di ruang tamu dengan membawa barang bawaannya. Nina pamit dengan Ibunya dan menitip salam pada ayahnya yang sedang berada di tokonya saat itu. Nina menitip salam pada ayahnya agar jika ia pulang larut malam nanti tidak perlu khawatir. Berangkatlah Nina menuju rumah Danny.
Sesampainya di rumah Danny, ternyata rumahnya sepi, tidak ada perayaan. Nina juga baru ingat kalau Danny tidak berpesan apa – apa padanya, maupun mengundangnya untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Nina pun mencoba mengetuk pintu rumah Danny, mengetuknya sebanyak tiga kali, lalu dia lega sekali ketika ada jawaban dari dalam rumah itu. Tapi, yang membukakan pintunya bukanlah Danny, melainkan Ibunya.
“Siapa ya ? Oh, Nina, ada apa kemari ?” ujar Ibu Danny karena mereka sudah saling mengenal.
“Halo bu, iya, aku kemari ingin bertemu Danny, apakah ada ?” ujar Nina sambil tersenyum.
“Oh, dia sudah pergi sejak jam 7 tadi, tapi katanya hanya main ke taman tempat biasa dia main dengan kamu.”
“Oh begitu ya bu. Dia pergi sendiri atau..”
“Dia sendirian Nina.” Senyum Ibu Danny pada Nina. Nina diam sejenak, dia berpikir, lebih baik dia menghampiri Danny dan memberikan kejutan itu padanya.
“Oh baiklah, terima kasih kalau begitu, bu. Aku pamit.” Senyum Nina pada Ibu Danny, akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri Danny di taman tempat mereka bercengkrama.
Di perjalanan menuju taman itu, dia sangat senang sekali karena ia akan memberikan kejutan itu pada Danny. Taman itu dekat, jadi dia sempat sampai di taman itu. Tapi ketika dia sampai, yang dia lihat bukanlah pemandangan Danny duduk seorang diri, dia duduk bersama seorang perempuan. Dia tahu, perempuan itu adalah kekasih Danny, Alexandra. Hancur sudah kejutan itu, hancur sudah hati Nina melihat kejadian itu. Dia sangat kecewa ketika Danny tidak mengangkat teleponnya dan ternyata dia berduaan dengan Alex. Gagal semuanya, akhirnya dia memutuskan untuk memberikan kejutan itu kepada Ibu Danny.
“Bu, saya nitip ini saja ya bu pada Danny. Di dalamnya sudah saya tulis nama saya. Dia pasti akan tahu.” Ujar Nina ketika dia sampai di rumah Danny lagi. Perasaannya hancur, yang dia rasakan hanyalah keinginan untuk menangis saat itu juga.
“Loh, memangnya Danny kemana ? Kamu gak ketemu sama dia.” Tanya Ibu Danny heran.
“Dia tidak ada di taman bu, mungkin dia sudah pergi bersama teman – temannya.” Nina akhirnya berbohong pada Ibu Danny. Ibu nya hanya tersenyum dengan penjelasan Nina.
“Yasudah, nanti akan ibu sampaikan ya padanya. Terima kasih sekali ya Nina. Hmm, maaf juga, ibu tidak mengadakan pesta ulang tahun untuk Danny, maka dari itu mungkin dia pergi dengan temannya.”
“Iya bu, tidak apa – apa, salam ya bu untuknya. Saya permisi.” Ujar Nina membalikkan badannya. Dia akhirnya menangis dalam perjalanan pulang kerumahnya.
***
“Danny, tadi Nina datang kemari, dia bilang dia nyariin kamu, tapi kamu kan tadi pergi, jadi dia Cuma nitipin bingkisan yang ada di meja itu untuk kamu.” Ujar Ibu Danny ketika dia sampai rumah. Danny tak menjawab, dirinya merasa bersalah dan langsung mengeluarkan telepon genggamnya. Di lihatnya ponsel nya itu ternyata mati total, dan dia tak menyadari hal itu. Dia mencolokkan kabel pengisi baterai ke ponselnya itu, dinyalakan ponselnya dan ternyata banyak sekali telepon dan pesan yang masuk, hampir semuanya dari Nina.
Danny lalu membuka bingkisan yang diberikan Nina. Ketika dia melihat isinya, ternyata kue dan sebuah kado. Kue itu dilihat oleh Danny dan dia tambah terharu dan merasa bersalah tidak menghabiskan malam ulang tahunnya itu bersama sahabatnya. Danny meninggalkan kuenya di meja makan dan membawa kado yang diberikan Nina ke kamarnya. Ketika sampai kamar dia membuka hadiah itu, ternyata isinya adalah sebuah jam tangan. Dia pun memutuskan untuk menghubungi Nina kembali. Tapi ternyata handphone Nina yang mati, benar – benar tak bisa dihubungi. Dia semakin merasa akan hal itu.

“Tok – Tok – Tok…” Bunyi pintu diketuk dari luar rumah singgah Eddie. Dia bingung siapa yang mengetuknya. Kala itu dia sedang berada di Denver, liburan, tidak ada tour maupun pekerjaan membuat album. Pagi sekali ada tamu yang datang ke rumah Eddie.
“Siapa ya.. ?” Eddie mengeluarkan suara bertanya, dan ketika dia membuka pintu, dia sangat kaget. Dia mendapati wanita yang sangat ia kenal dan sangat ia sayang dulunya.
“Eddie..” ujar wanita itu.
“Joanna. Ada apa kau kesini ? Kau....” Ya, wanita itu adalah Joanna, seseorang yang dia sayangi dahulu. Seseorang yang menyakitinya dahulu kembali lagi ke bagian hidup Eddie.
“Hi Eddie.. Aku sangat merindukanmu.” Dia langsung memeluk Eddie, seakan akan sudah tidak bertemu lama sekali.
“Hey..” Eddie menghindar dari pelukan itu.
“Eddie. Aku hanya minta maaf padamu atas kesalahanku yang lalu. Bisa kita bicara sebentar boleh aku masuk ?” ujar Joanna. Dia terlihat kasihan sekali. Dia sekarang terlihat lebih kurus, pucat dan rambutnya seakan tidak terawat.
Eddie terdiam melihat keadaan Joanna, dia pun akhirnya meluluhkan hatinya supaya bisa mendengarkan cerita Joanna.
“Silahkan duduk. Mau minum apa ?” tanya Eddie pada Joanna.
“Tidak usah. Aku hanya perlu bicara denganmu saja.”
“Oh baiklah kalau begitu. Aku ambilkan segelas air dulu.” Eddie menuju dapur mengambilkan minuman untuk Joanna. Joanna tersenyum ketika Eddie kembali dari dapur, seakan dia tidak sabar menceritakan kejadian hidupnya setelah berpisah dari Eddie.
“Ada apa kau kemari ?” Eddie membuka pembicaraan.
“Begini Eddie, aku kesini untuk…. Untuk memintamu kembali padaku..”
“Maksudmu apa ? kembali padamu ?” tanya Eddie bingung.
“Iya, bisakah kita mengulang hubungan kita lagi dari awal ? Aku ingin sekali memperbaiki semuanya ?” ujar Joanna memohon.
“Hah ? Kau bercanda. Kita sudah berpisah lama. Tiba – tiba kau datang meminta ingin kembali padaku. Itu tidak bisa Joanna, kau sudah tunangan, atau jangan – jangan kau…”
“Tidak Eddie, aku tidak jadi menikah. Lelaki itu meninggalkanku. Dia bersama wanita lain. Aku sekarang merana karenanya. Aku ingin membangun kembali hubungan kita yang telah aku rusak Eddie.” Ujar Joanna menangis. Eddie tambah ingin marah pada Joanna.
“Aku tidak bisa Joanna. Bagaimanapun aku ingin memindahkan hatiku darimu. Dulu, ketika aku ingin mencoba membahagiakanmu, kau sudah bahagia dengan yang lain, tapi sekarang kau memohon kebahagiaan lagi dariku. Apa maksud semua ini ?” Nada tinggi Eddie membuat Joanna tambah menangis.
“Tapi, apa karena wanita itu kau tidak mau kembali padaku ? Perempuan yang kau antar kan pulang, perempuan yang kau cium pipinya, sehingga kau menutup hatimu untukku.” Joanna marah tidak mau kalah dengan Eddie.
“Bukan hanya karena itu. Tapi hatiku sudah terlanjur sakit karenamu. Kalau kedatanganmu hanya untuk meminta kasih sayang ku lagi, sebaiknya kau pergi dari sini. Silahkan, aku sudah membuka pintuku, aku mohon, jangan ganggu lagi kehidupanku.” Ujar Eddie menurunkan nada bicaranya. Bagaimanapun Joanna adalah perempuan yang sedang tersakiti.
“Eddie kau… Kau jahat.. kau akan menyesal nantinya.” Joanna menangis lalu menunjuk wajah Eddie. Eddie hanya mengerutkan dahinya. Joanna akhirnya keluar dari rumah Eddie tanpa pamit. Eddie bingung apa yang sedang terjadi padanya itu. Eddie mengira semua selesai, tapi ternyata Joanna datang lagi.
***
“Danny ? Kau Danny kan ?” Alexandra bertanya – tanya. Dia tidak percaya apa yang ada di depannya saat ini. Lelaki yang sangat baik padanya dulu, lelaki yang dia sakiti karena harus memilih kekasih lamanya, lelaki yang dulu hanya menjadi pelariannya.
“Yeah. I am. Kamu apa kabar ?” ujar Danny. Dia langsung member pelukan pada Alex, Alex hanya diam, lalu kemudian membalas pelukan sambil memejamkan matanya.
“Aku baik – baik aja. Kamu sendiri gimana ?” ujar Alex lalu Danny melepaskan pelukannya itu. Mereka sambil memandang, cukup lama, tapi akhirnya Danny sadar lalu mengalihkan perhatian.
“Sudah lama sekali kita gak ketemu. Aku dengar kau masuk di salah satu band ya. Ahh, maaf aku lupa namanya.” Ujar Alex yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
“The Script. Itu nama band ku. Iya, sudah hampir 5 tahun. Kau sendiri, sedang di Dublin ? Ada perlu apa ?” Danny bertanya kepada Alex.
“Oh, akhirnya menetap disini, aku ingin tinggal bersama ibuku, dia sedang sakit, jadi aku harus menjaganya. Oh iya Danny, sudah malam, ibuku sudah menunggu dirumah. Aku kesini hanya membeli makanan untuk ibuku dan beberapa obat. Aku pulang duluan ya. Senang bertemu denganmu.” Ujar Alex. Danny terdiam, tapi tiba – tiba dia sadar lalu menawarkan diri untuk mengantarkan Alex pulang.
“Alex ?”
“Iya, kenapa Danny ?” Alex menghentikan langkahnya.
“Rumahmu masih yang dulu kan ? Boleh aku mengantarmu pulang ? Sudah malam sekali ini.”
“Tidak usah, Danny. Aku bisa sendiri, nanti merepotkan.”
“Oh tidak, aku memaksa. Ahh, maksudku, aku memang ingin mengantarkanmu saja.” Ujar Danny pada Alex. Alex pun menurut akan perkataan Danny. Mereka akhirnya pulang bersama, berbincang bersama.
***
“Sudah sampai, mau mampir dulu ?” tanya Alex pada Danny.
“Hmm, tidak usah sudah malam. Aku titip salam saja pada ibumu ya. Semoga lekas sembuh.” Senyum terkembang di wajah Danny, membuat Alex tidak kuat melihatnya. Perasaan suka itu tumbuh lagi.
“Oh, yasudah kalau begitu. Terima kasih banyak ya Danny.” Senyum Alex malu. Alex menutup pintu rumahnya, bersandar sebentar. Dia tak percaya dia bertemu lagi dengan Danny. Lelaki itu ternyata tidak sama sekali terlihat kesal pada Alex, yang dulu pernah menyakitinya. Alex tersenyum bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...