Part
12
“Semoga
kita bisa ketemu lagi ya. Semoga ini langkah awalku buat sukses di dunia
music.” Danny memeluk temannya erat. Danny pamit pada Nina karena dia akan
pindah ke London dan seminggu kemudian Nina akan merantau ke New York.
“Iya,
kamu hati – hati ya Danny. Aku juga minta doa dari kamu.” Nina mengusap air
matanya yang mengalir cukup deras melepas kepergian Danny, memulai perpisahan
mereka berdua. Ini semua karena mereka teman akrab. Rumah dekat. Jadilah Nina
dan Danny selalu bermain bersama.
“Aku….”
Kalimat Nina menggantung. Dia ingin saat itu dia bisa menyatakan perasaan
kepada Danny. Tapi tetap saja hal itu tak pernah berhasil. Nina selalu malu,
mulut Nina seperti ada yang menutup ketika ia ingin mengatakan perasaaan
sukanya pada Danny.
“Aku
???? Kamu kenapa Nina ? Kamu selalu begitu, menggantung kalimat, seperti ingin
mengatakan sesuatu, tapi semuanya tak bisa kau keluarkan.” Ujar Danny sambil
tersenyum dalam kesedihannya berpisah dengan Nina.
“Aku,
aku… Cuma mau ngasih ini sama kamu.” Akhirnya Nina punya alasan untuk mengubah
arah pembicaraannya. Nina memberikan sebuah kotak kecil. Kotak berwarna merah
dengan pita yang mengikatnya. Pitanya berwarna merah muda. Kontras dengan kotak
kecil yang diisikan suatu hadiah oleh Nina.
“Apa
ini ? Gak biasanya kamu ngasih aku hadiah. Hahaha.” Tawa Danny memecahkan
keharuan diantara mereka berdua.
“Iya,
itu hadiah buat kamu. Tapi jangan buka hadiah itu disini. Buka hadiah itu saat
kamu udah ada di London.” Ujar Nina tersenyum.
“Oh
iya, aku juga punya sesuatu.” Danny mengeluarkan hadiah untuk Nina dari dalam
tasnya. Sebuah flower crown dengan bunga berwarna biru menghiasi benda itu.
Terlihat indah. Danny tersenyum dan memakaikan benda itu langsung ke kepala
Nina.
“Ahhh…
bagus Danny…” ujar Nina tersipu malu. Spesial sekali hadiah yang diberikan
Danny. Pikir Nina.
Danny
tersenyum. Panggilan dari ruang informasi bahwa pesawat tujuan London akan
segera berangkat satu jam lagi. Hal itu mengharuskan Danny menunggu di dalam
ruang check in. Danny sekali lagi memeluk erat sahabatnya itu. Dia tidak
berbicara apa – apa lagi. Bagi Nina harapannya adalah Danny bisa sukses dan
mereka bisa bertemu lagi dengan kesuksesan yang mereka bawa. Yang nantinya Nina
dan Danny bisa bercerita bersama tentang pengalaman mereka meraih kesuksesan.
“Kita
gak bisa bersama lagi Brent.” Ujar Alex yang akhirnya mengeluarkan kalimat
terakhir yang bisa ia bicarakan pada Brent. Setelah perdebatan panjang antara
dirinya dengan Brent, itulah kalimat yang bisa keluarkan untuk menyelesaikan
semuanya.
“Tapi,
kita gak harus putus kan ?” sela Brent untuk mempertahankan argumennya.
“Bukan
itu permasalahannya. Aku sudah tidak bisa mempertahankan hal ini karena alasan
yang aku gak bisa kasih tahu ke kamu.”
“Alasan
apa ? Kenapa kamu gak mau jujur sama aku Alex ? Alasan karena aku gak bisa
sering – sering ngunjungin kamu disini ? Karena aku harus tinggal di Amerika.
Jujur Alex, aku disana selalu mikirin kamu.” Pertanyaan Brent makin menekan
Alex. Alex terdiam dan air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.
“Iya…
Iya aku gak bisa menjalani LDR ini lagi. Aku kesepian Brent. Disaat semua orang
bisa bermalam minggu setiap minggu. Disaat aku butuh kamu, aku butuh kamu
berbincang empat mata, bukan melalui media online. Disaat aku pengen peluk
kamu, aku Cuma bisa mandangin lukisan yang kamu kasih dan memeluk boneka panda
yang kamu kasih. Aku itu mau meluk kamu Brent.” Balasan Alex lebih menyakitkan
Brent. Brent merasa semakin bersalah.
“Maafin
aku Brent…” ujar Alex pelan kepada Brent. Dia tertunduk lalu membalikkan
tubuhnya untuk pergi meninggalkan Brent. Brent hanya terpaku melihat kepergian
Alex.
“Okay,
Aku Liza, aku adalah teman bekerja mu disini, dan itu David, itu Josh dan yang
disana James. Dia adalah partnermu juga. Dia akan membantu kita dalam peliputan
karena kita adalah satu tim” ujar temanku Liza. Liza adalah teman satu tim Nina
untuk peliputan nanti. Nina masuk di bagian criminal dan politik, jadi
pekerjaannya bukanlah berkutit dalam hal atlet, olahraga dan segala macamnya
lagi. Nina bekerja untuk masalah pemerintahan dan kasus – kasus criminal di
luar kemampuannya. Dan itulah tantangannya.
“Apa
ada yang kurang jelas ? Jika kau kurang jelas, aku duduk tepat di depan mejamu
ini, Nina. Selamat bergabung dan semoga kau betah ya.” Senyumnya pada Nina.
Nina berharap semoga Liza bisa jadi partner kerjanya yang baik. Nina pun
melanjutkan pekerjaannya lagi untuk menata meja kerjanya dengan barang – barang
dan berkas – berkas yang di bawanya dari New York.
Dia
juga sudah mendapatkan apartement yang cukup besar di dekat tempat kerjanya.
Beruntungnya dia mendapatkan tempat tinggal yang dekat. Hanya perlu beberapa
blok berjalan kaki dia sudah sampai ke apartemennya. Nina berpikir bahwa
pekerjaannya kali ini pastilah lebih berat. Lebih menguras energy dan
pikirannya. Membuat sebuah berita criminal dan politik tidak boleh sembarangan,
apalagi dia tinggal di Amerika
“Waktunya
pulang. Pekerjaan sesungguhnya akan dimulai besok.” Ujar Nina sambil mematikan
computer yang digunakannya pada saat itu.
Nina
melewati area lobby gedung yang di tempatinya, dia lupa akan sesuatu bahwa dia
harus menitipkan pesan kepada receptionist karena ia akan wawancara dengan
seorang politisi besok di gedung itu. Nina pun menuju meja receptionist,
memberikan pesan kepada orang itu dan menunggu sebentar karena orang yang
menjaga sedang bertemu seseorang tak jauh dari meja receptionistnya.
“Nina
? Nina kan ? Nina yang dulu satu kampus sama Danny.” Ujar seseorang yang berada
disampingnya. Nina kebingungan dengan sapaan itu. Siapa wanita itu ? Nina masih
menerka nerka. Tapi sebelum Nina menebak namanya, dia sudah memperkenalkan
dirinya.
“Aku
Alexandra. Alex, masih ingat ? Danny’s friend” ujar wanita itu. Nina masih
mencoba mengingat lagi. “Ahhh” ujar Nina sambil membuka mulutnya pertanda kalau
dia sudah ingat. Tapi, Nina ingat Alex bukan sebagai teman Danny, melainkan
sebagai mantan yang sudah menyakiti temannya Danny.
“Oh
iya aku ingat. Alex ya. Apa kabar ?” ujar Nina sambil mengulurkan tangannya
untuk berjabat tangan dengan Alex. Dia juga mencium pipi kanan dan kiri Alex.
“Aku
baik. Baik sekali. Apa kabar dengan mu ?”
“Aku
juga baik. Oh iya, sedang apa kau kesini ?” ujar Nina sambil menyerahkan pesan
kepada receptionis yang sedang bertugas kala itu. Perbincangan berhenti ketika
Nina melakukan hal itu.
“Aku,
aku sedang menyerahkan beberapa laporan liputan ke kantor ini.” Jelas Alex.
“Laporan
liputan ? Kau bekerja disini ?”
“Iya.
Laporan liputan. Iya, aku sudah bekerja di kantor berita ini selama setahun
belakangan. Hanya saja aku tak bekerja di cabang ini, aku bekerja untuk cabang
di Denver.” Jelas Alex.
“Ahh
baiklah aku mengerti sekarang.” Nina mengiyakan.
“Kau
sendiri sedang apa ? Aku lihat kau memberikan sebuah pesan kepada receptionis
yang sedang bertugas tadi, jangan – jangan kau bekerja disini ya ?” tanya Alex
menerka – nerka.
“Dugaanmu
tepat. Aku bekerja disini sudah dua tahun belakangan, dan baru pindah ke cabang
disini kemarin, jadi aku masih baru untuk cabang ini.” Pembicaraan Nina
terhenti. Tak enak sekali berbincang sambil berdiri di depan meja receptionis.
Akhirnya Nina memutuskan untuk mengajak Alex ke restoran untuk sekalian dirinya
dan Alex makan malam.
“Kita
ngobrol di restoran itu saja yuk. Pasti lebih enak. Sebentar lagi juga jam
makan malam, bagaimana ?” tanya Nina sambil menunjuk restoran mexico yang
berada tak jauh dari depan kantor berita tempat Nina bekerja.
“Hmm,
okay kalau begitu. Ayo..” Alex mengiyakan. Mereka berjalan berbarengan menuju
restoran tersebut.
Mereka
sampai di restoran yang dituju. Alex memilihkan kursi di dekat meja kasir.
Suasana disitu cenderung tidak berisik, jadi nyaman untuk mereka berbincang
berdua.
“Hah.
Kau mau pesan apa ?” tanya Alex. “Aku yang bayarkan.” Ujarnya lagi sambil
mengedipkan sebelah matanya. Nina menggangguk senang. Dia tersenyum dan
mengucap terima kasih pada Alex.
“Aku
ingin salad dan orange juice saja. Tapi saladnya yang pakai Tuna ya.” Ujar Nina
pada pelayan berbaju biru, seragam dari restoran itu.
“Tolong pesankan dua untuk saladnya ya. Aku ingin soda saja.” Ujar Alex mengikuti. Buku menu dan catatan pesanan dipegang oleh pelayan itu dan pelayan itu pergi untuk membuatkan pesanan mereka berdua.
“Tolong pesankan dua untuk saladnya ya. Aku ingin soda saja.” Ujar Alex mengikuti. Buku menu dan catatan pesanan dipegang oleh pelayan itu dan pelayan itu pergi untuk membuatkan pesanan mereka berdua.
“Jadi
kau sudah cukup lama ya bekerja di kantor ini ?” tanya Alex membuka
pembicaraan.
“Iya,
seperti yang kubilang tadi, sudah hampir 5 tahun.” Senyum Nina. “Kalau kau
kenapa bisa mendarat di kantor berita ini ?” Nina berbalik bertanya.
“Ahh,
itu hal yang lucu. Aku sebenarnya kurang suka dunia jurnalistik. Tapi…” Kalimat
Alex menggantung. Pesanan datang dan mereka menghentikan sejenak pembicaraan
mereka.
“Tapi
kenapa ?” tanya Nina sambil menikmati orange juice nya.
“Tapi
karena teman laki – laki ku menawariku pekerjaan itu, jadi aku sungkan untuk
menolaknya, aku coba terima saja, dan ternyata pekerjaan ini bisa kujalankan
sampai sekarang.”
“Ohh
begitu. Kupikir kau memang mengincar pekerjaan ini.”
“Kalau
kau bagaimana bisa masuk ke kantor berita ini ?” Alex balik bertanya.
“Ahh,
itu karena aku sebenarnya ingin menjadi penulis. Sambil aku menjalankan dan
mengerjakan tulisanku, aku coba bekerja di bidang jurnalistik, bidang yang
tidak jauh dari bidang kesukaanku.” Jawab Nina sambil menyuapkan saladnya ke
mulutnya.
“Ohh,
begitu. Oh iya Nina, bagaimana hubunganmu dengan Danny ? Kamu masih berteman
tidak dengannya ?” tiba – tiba Alex bertanya seperti yang membuat Nina sedikit
tersentak.
“Ohh,
maaf – maaf. Oh Danny, aku masih berkirim Surel padanya, tapi tidak terlalu
sering, baru kemarin aku bertemu dengannya.” Jelas Nina.
“Ohh
begitu. Minggu depan aku akan ambil cuti untuk pulang ke Dublin, tapi, mungkin
tidak hanya sekedar cuti.” Ujar Alex sambil menundukkan kepalanya. Nina
bingung. Ia pun bertanya.
“Memangnya
ada apa ? Maksudmu kau mau keluar dari kantor ini ?”
“Ya
begitulah, ada suatu masalah yang aku harus selesaikan. Dan aku harus pulang ke
Dublin.”
“Maksudmu
? Kau boleh cerita jika kau mau.” Ujar Nina.
“Aku
tak bisa, masalahku terlalu berat.” Ujar Alex yang masih menunduk. Lalu Nina
melihat ada tetesan air yang jatuh dari wajah Alex. Kala itu juga Nina
menggenggam tangan Alex coba menguatkan Alex.
“Ayolah
Alex. Aku siap mendengarkan ceritamu, ya walaupun aku tak punya ahli dalam
memberikan nasihat, paling tidak hatimu bisa lega setelah kau menceritakan
ceritamu.” Ujar Nina bijak.
“Baiklah.”
Alex menghapus wajahnya yang basah karena air matanya. “Aku sedang ada masalah
dengan pacarku dan salah satu caranya adalah, aku harus pergi ke Dublin untuk melupakannya.
Aku harus kembali ke Dublin karena Ibuku sakit keras. Kami dulu sempat putus
nyambung, tapi sekarang, aku tak bisa lagi dengannya.”
“Ibumu
sakit apa ? Aku minta maaf atas berita itu ya.” Ujar Nina bijak.
“Iya
terima kasih ya. Aku tidak bisa memberitahukanmu. Permasalahannya lagi, aku tak
bisa berhubungan jarak jauh dengannya.” Ujar Alex gugup.
“Ahh,
begitu toh masalahnya. Apa kau tidak bisa memberikan pengertian padanya, apa
kau bilang kalau Ibumu sakit ?”
“Iya,
tapi, sepertinya aku tidak bisa memberitahukan itu. Aku tidak siap dan tidak
mau mengganggu karirnya yang sedang naik daun.” Ujar Alex lagi.
Pembicaraan
itu terhenti ketika telepon genggam Alex berbunyi. Dia mengangkatnya dan
meminta izin pada Nina untuk menjawab telepon tersebut. Nina mengangguk
mengiyakan.
“I’m
sorry. I’ve to go Nina.” Alex mengusap wajahnya yang masih basah.
“Ohh,
okay kalo gitu. Kamu gapapa pulang sendiri ?” tanya Nina lembut. Alex hanya
menggeleng.
“By
the way… Alex, boleh aku tanya sesuatu.” Tanya Nina lagi sebelum Alex
meninggalkan restoran itu. Lagi – lagi Alex hanya mengangguk.
“Aku
boleh tahu nama pacar kamu ?” Nina bertanya agak sedikit gugup.
“Brent.
Brent Kutzle. Hmm, Nina aku pamit ya terima kasih atas waktunya.” Ujar Alex dia
langsung meninggalkan Nina. Tapi Alex menghentikan langkahnya. Dia menuju Nina
dan tiba – tiba memeluk Nina.
“Aku
minta maaf atas kesalahan aku dulu. Titip salamku pada Danny ya. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi.” Ujar
Alex, lalu ia melepaskan pelukan itu. Nina hanya memeluk erat dan menganggukkan
kepalanya. Dia heran dengan Alex yang bisa sejauh itu memikirkan perasaan
Brent, pacarnya. Sedangkan Nina sampai sekarang belum menemukan tambatan
hatinya yang bisa mengerti dirinya. Dirinya masih saja terjebak dalam cinta
lamanya.
“Sapu
tangan siapa itu Brent ? Kau aneh, sapu tangan itu hanya kau pegangi saja, kau
lihat – lihat tanpa kau gunakan.” Ujar Eddie sambil memindahkan channel
televisi yang sedang ia tonton. Dia duduk berdampingan dengan Brent yang sedang
bingung dengan sapu tangan ditangannya. Eddie masih asik menonton tv dan
mengunyah sereal yang ia makan untuk sarapan paginya.
“Aku
juga sendiri bingung. Aku menemukan ini karena bertabrakan dengan seorang
wanita. Aku tidak tahu wanita itu siapa. Ketika aku ingin mengembalikannya,
wanita itu sudah hilang entah kemana.” Jelas Brent.
“Ohh,
kupikir sapu tangan itu dari Alex.” Eddie terlihat santai ketika berbicara
tentang Alex, sebaliknya Brent langsung memangdang Eddie, ia jadi teringat lagi
masa lalunya.
“Bukannya
Alex ingin pergi ke Dublin tiga hari lagi ?” ujar Eddie santai. Brent tambah
tertekan.
“Iya
aku tahu. Sudahlah tidak usah membicarakan hal itu dulu. Itu hanya membuatku
sakit hati. Alex itu sangat aneh, dia ingin kembali ke Dublin, putus denganku
dan tidak mau memberikan alasannya.”
“Hahahaha.
Dia mau menjaga perasaanmu.”
“Sudah
Eddie, sekarang bagaimana caranya aku mengembalikan sapu tangan ini. Aku takut
orangnya sangat membutuhkan sapu tangan ini.” Tukas Brent mengalihkan
pembicaraan mereka berdua.
“I
have no idea. Salahmu sih, kenapa harus menabrak orang itu. Hahaha.” Eddie
menimpali dengan candaan dan membuat Brent sedikit kesal.
“Aku
mau pergi dulu ya.” Tiba – tiba Brent bangun dari tempat duduknya dan
meninggalkan Eddie. Eddie yang bingung dan berpikir kalau Brent marah dengannya
langsung memanggilnya dengan lantang.
“Hey,
I’m just kidding Dude. Don’t be angry.” Ujar Eddie dengan mulut penuh sereal.
“No.
Aku gak marah kok. Aku memang harus pergi. Aku ingin cari sarapan diluar
hotel.” Ujar tersenyum lalu berlalu meninggalkan Eddie di ruang tamu hotel
tempat mereka menginap.
Comments
Post a Comment