Part
8
“Ini
dia… This Beautiful Mess..” sebuah band di panggil keluar untuk tampil di
sebuah acara sekolah.
“Terima
kasih semua.” Ujar salah satu vokalis berterima kasih kepada seluruh penonton
yang sudah datang kala itu. Tepuk tangan riuh penonton mengiringi keluarnya
Zach dan Ryan kala itu.
“Kau
jadi kan ikut kompetisi itu ?” tanya Zach pada Ryan. Ryan akan mengikuti sebuah
kompitisi yang akan diselenggarakan sebuah acara TV di Amerika yang cukup
terkenal.
“Pastinya,
itulah jalanku untuk memajukan Band kita.”
“Ryan
Tedder is the winner of this competition.” Ujar MC yang ditunjuk untuk
membawakan acara Award hari itu. Tapi nasib Ryan tidaklah mujur 100 %, ternyata
kompetisi itu tidak menjamin Ryan untuk bisa menjadi seorang superstar. Gelaran
kompetisi itu tiba – tiba tidak menuruti janjinya. Jadinya, Ryan hanya menang
tanpa ada embel – embel hadiah yang bisa membuatnya lebih maju di dunia music.
“Jadi
kamu setuju tidak kalau aku masuk band itu. Aku kenal Zach dan kurasa aku akan
cocok dengan band itu.” Ujar Eddie pada kekasihnya.
“Jika
itu memang yang terbaik. Aku akan selalu mendukungmu kok. Kapan kau akan
bertemu lagi dengan Zach ?” ujar Dominic.
“Hmm,
besok aku akan bertemu dia lagi. Dia bilang dia akan memperkenalkan padaku
kepada temannya. Dia adalah pencetus awal dia akan membuat band bersama Zach
dan aku nantinya.”
“Jadi
Cuma kau, Zach, dan temannya itu yang ada di band mu nanti ?”
“Tidak
sayang. Pasti Zach akan mengajak yang lain lagi. Dia bilang aku diajak masuk ke
band itu untuk menjadi seorang drummer.” Senyum Eddie pada Dominic. Dominic
menghela nafas.
“Kau
akan sibuk dengan mereka ?” tanyanya lesu.
“Tidak
juga sayang. Selagi nanti aku punya waktu antara kau dan keluargaku, pasti aku
akan luangkan waktu untuk itu.” Senyum Eddie. Dominic menengok Eddie dia
tersenyum juga padanya.
“Terima
kasih sayang…” Dominic mencium pipi kanan Eddie dan Eddie tertawa akan hal itu.
“Hi
Eddie, sudah lama ?” tanya Zach yang datang dengan Ryan. Ryan akan
diperkenalkannya pada Eddie.
“Hmm,
baru lima belas menit kok.” Ujar Eddie tersenyum.
“Oh
iya. Baiklah, langsung saja ya, aku perkenalkan padamu. Ini Ryan, Ryan Tedder, temanku
yang kubilang kalau dia penggagas dari band yang akan kita buat ini.
“Hi
Ryan. Aku Eddie. Senang bertemu denganmu.” Senyum Eddie pada Ryan.
“Hi
Eddie. Senang bertemu denganmu juga. Kudengar kau kenal Zach dari temanmu Paul
ya ?” tanya Ryan setelah memperkenalkan diri.
“Yap
kau benar Ryan. Aku tertarik dengan project band mu. Jadi aku ikut saja
denganmu.”
“Ahhh.
That’s good. Aku juga sedikit mengenal Paul.” Ujar Ryan pada Eddie. Mereka
berbincang tentang band yang akan mereka usung sampai sekitar satu jam. Barulah
mereka memesan makanan.
“Dimana
dia ???” gerutu Ryan.
“Siapa
? Kita menunggu seseorang lagi ?” tanya Zach.
“Yap.
We wait for Jim. Aku mengajaknya kesini. Kupikir dia akan mau bergabung dengan
kita untuk debut pertama band kita.
“Ohh,
I see. Boleh saja kalau begitu.” Ujar Zach. Tak lama kemudian ada seseorang
yang memanggil Ryan dari belakang.
“Ryan….”
Ujar seseorang itu. Ternyata dia adalah Tim. Tim adalah teman kenalan Ryan
ketika dia sedang manggung di salah satu acara.
“Thanks
for coming” ujar Ryan tersenyum. Dilanjutkan dengan Tim yang bersalaman dengan
Eddie dan Zach.
“Yap.
It’s okay. Aku sedang libur. Jadi aku datang saja.” Ujar Tim duduk di samping
Eddie. Eddie tersenyum padanya karena Tim menepuk pundak Eddie.
“Jadi
ini teman – temanmu Ryan ?” tanya Tim.
“Yeah.
Ini Zach dan ini Eddie. Eddie adalah teman kenalan Zach.” Ujar Ryan membalas.
Zach
dan Eddie tersenyum.
“Aku
tidak tahu kalau Ryan punya teman bernama Tim.” Ujar Zach sambil melirik sinis
kearah Ryan.
“Hahaha.
Kali ini baru aku kenalkan padamu.” Ujar Ryan ikut tertawa dengan wajah sinis
Zach.
Mereka
pun berbincang tentang bagaimana dengan kelanjutan band yang akan mereka buat
ini.
“Jadi
terserah kau saja, mau gabung dengan kita atau tidak.” Ujar Ryan pada Drew.
Drew masih bingung ketika ditawari untuk main bersama band buatan Ryan.
Sedangkan dirinya juga masih main dalam sebuah band yang digaunginya bersama
teman sekolahnya dulu.
“Aku
akan menelponmu nanti Ryan. Akan aku kabari kau secepatnya.” Ujar Drew
tersenyum lalu pamit pada Ryan.
“Sebenarnya
aku mohon maaf sekali atas hal ini, guys. Tapi aku harus memilih. Dan aku
memilih untuk bersama band dari Ryan. Jadi aku mohon maaf ya. Aku pikir ini
adalah ide yang bagus, karena band kita nanti juga akan ku promosikan kepada
Ryan. Ryan punya kenalan dengan orang dari label terkenal.” Senyum Drew di
depan teman – teman band nya.
Mereka
hanya terdiam. Lesu mendengar keputusan Drew untuk pindah band dan memilih band
yang akan diusung Ryan tadi.
“Hmmm,
baiklah. Begini Drew. Kami akan coba melepaskanmu. Mungkin ini memang yang
terbaik. Tapi kami mohon, tolong promosikan kami. Kita sudah dua tahun
membentuk sebuah band, sudah membuat lagu tapi belum ada hasilnya juga. Kita
harap usahamu untuk pindah adalah salah satu jalan kami untuk dikenal orang.”
Jelas James panjang lebar.
“Baiklah
James. Kau tenang saja akan hal itu. Jim dan Larry ?” tanya Drew. Mereka berdua
masih menunduk.
“Aku
setuju pada James saja. Ya mungkin kita akan mencari penggantimu nanti. Ini
adalah hakmu. Hak untuk memilih.” Ujar Larry.
“Ya
benar, aku setuju. Tapi kami tunggu kabarmu ya tentang yang kau bilang tadi.”
Senyum Jim. Akhirnya teman – teman Drew bisa menerima keputusan Drew.
“REPUBLIC.
Kupikir itu nama yang bagus.” Ujar Zach menampali ide untuk nama band mereka.
“Hmmm…
Sedikit agak kurang enak di dengar. Bagaimana kalau kita tambahkan kata ‘ONE’”
ujar Ryan.
“That’s
great. Aku setuju dengan Ryan.” Drew diikuti anggukan semua member.
“Aku
harus mengatakan hal ini pada kalian. Aku tidak bisa bergabung dengan kalian
lagi. Aku… Aku tidak punya passion yang sama dengan kalian. Aku minta maaf
sekali pada kalian. Aku ingin mencoba untuk bersolo karir.”
“Hmm,
tapi bagaimana dengan lagu yang sedang kita buat ini ?” ujar Ryan.
“Tenang
saja. Aku masih bertanggung jawab akan hal itu.” Ujar Tim pada seluruh member.
Tim
memutuskan untuk keluar dari OneRepublic karena ingin bersolo karir. Dikala
OneRepublic belum merekam lagunya di Label yang sudah memanggil mereka, Tim
harus keluar. Terpaksa Zach, Eddie, Drew dan Ryan harus berinisiatif untuk
mencari member baru lagi.
Zach
dan Ryan berjanjian untuk datang ke sebuah acara di gereja milik teman Ryan di
Los Angeles. Mereka memang sudah berjanjian dengan John teman Zach yang tinggal
disana. Katanya akan ada sebuah acara music religi dan John mengajak Ryan dan
Zach karena John pikir Ryan dan Zach bisa menemukan personil baru disana.
“Hi
John. Maaf kami terlambat. Ada sedikit masalah di boarding pass tadi. Terima
kasih sudah menjemput kami.” Ujar Zach ketika mereka masuk ke dalam mobil jemputan
John.
“Tidak
apa. Oh iya. Mengenai acaranya itu akan di gelar besok, jadi kalian masih bisa
istirahat dirumahku.” Ujar John pada mereka berdua.
“That’s
great. Mungkin kita bisa jalan – jalan dulu ya Zach.”
“Haahaha.
Kau selalu begitu.”
“Ada
beberapa pertunjukkan dalam acara ini. Ada beberapa band dan perorangan yang
akan tampil. Pastinya mereka akan menampilkan lagu – lagu religi ya.” Ujar John
menjelaskan tentang detail acaranya.
“Hmm.
Cukup bagus konsep tempatnya. Semoga acaranya juga bagus ya.” Ujar Ryan. Mereka
pun menikmati acara itu sampai selesai.
“Itu
orang yang tadi aku tunjuk. Kita harus menghampirinya. Dia jago sekali main
Cello dan Pianonya. Mungkin akan unik jika kita memasukkannya ke dalam band
kita.” Ujar Ryan yang memikirkan ide yang luar biasa untuk bandnya.
“Hi.
Aku Ryan. Boleh kita berbincang sebentar. Hmm, kau yang tadi main Cello dan
Piano itu ya ?” ujar Ryan bertanya. Lelaki itu hanya bingung dengan perkenalan
singkat yang dilakukan Ryan.
“Yap
kau benar. Ada apa ya ? Aku baru melihat kalian. Kalian bukan jamaat gereja ini
ya ?” ujar Lelaki itu.
“Boleh
ku tahu siapa namamu ? Ahh. Iya benar, kami adalah teman John. Kami kesini
memang untuk melihat acara ini. Kami bukan dari LA. Kami dari Oklahoma dan
Denver.
“Ohh.
Begitu. Oh iya. Aku Brent Kutzle. Panggil saja aku Brent. Memang ada perlu apa
?” ujar Brent tersenyum pada mereka sambil menjabat tangan keduanya. Akhirnya
perbincangan mereka berlanjut pada ajakan Ryan kepada Brent untuk gabung dalam
bandnya itu.
“Ada
kabar gembira. Timbaland mengajak kita untuk berkolaborasi. Kupikir ini salah
satu langkah awal kita untuk lebih dikenal orang.” Ujar Ryan amat senang.
Disambut senyuman para member.
“Wow!
Timbaland itu salah satu produser terkenal. Aku tidak percaya Ryan. Hahaha.” Ujar
Zach sambil tertawa.
“Dia
bilang, dia ingin berduet dengan kita untuk lagu Apologize. Aku mengiyakannya.
Karena lagu Apologize bagus untuk dijadikan single pertama kita.” ujar Ryan
sambil duduk di sofa ruang rekaman sederhana mereka sekaligus tempat mereka
berlatih. Mereka semua tersenyum mendengar berita ini. Sampai akhirnya semua
itu terwujud dan Apologize menjadi single yang sangat laku di pasaran Amerika
dan dunia.
Comments
Post a Comment