Skip to main content

OneRepublic FF Part 28 (Second of The Last Part)



HERE WE ARE

Rose’s
“Mana ya Natasha. Dia tidak mengirimkanku sms sama sekali. Ku pikir dia akan telat, sayang.” Ujarku pada Brent. Kami hari ini pulang dari Dublin sehabis liburan. Aku di Dublin sekitar 10 hari. “Mungkin saja telat dia, sabarlah sayang.” Ujarnya padaku. “Baiklah..” ujarku sambil mengecek Iphoneku.
“Rose’s…” ujar seseorang berteriak dari ruang lain. Aku melihat dari kerumunan orang di Bandara ternyata itu adalah Natasha. Natasha dengan seorang lelaki. Aku seperti mengenalnya. Ahh, ternyata dia…
“Natasha, aku sangat merindukanmu.” Ujarku padanya sambil memeluknya. “Hey, aku terkaget kau dengannya.” Ujarku sambil melirikkan mataku kea rah lelaki yang dibawa b bersama Nat. Ternyata Nat, membawa Gary. “Iya, kau jadi tahu sekarang.” Ujar Nat malu. “Jadi kau…” ujarku sambil menunjuk Gary. “Iya, kami sudah berpacaran.” Celetuk Gary. “Ahhh..” jawabku mengiyakan. “Bagaimana liburan kalian ?” ujar Nat mengubah pembicaraan. Dia mungkin malu menceritakannya bersama kami semua. Aku akan curhat dari hati ke hati dengannya nanti.
“Sudahlah ayo kita pulang..” ujar Brent. Ya, sekarang aku tinggal di apartement yang kami sewa di Denver. Apartement itu tidak jauh dari studio OneRepublic agar dia tak usah jauh – jauh berjalan. Kami pun menuju Apartement kami hari itu.

A Day Later

Setelah kemarin aku dan Brent sampai, hari ini aku dan dia berencana berkunjung ke Golden Music Center untuk bertemu teman – temanku. Aku senang sekali karena aku akan bertemu dengan teman – temanku disana. Rasanya sudah lama sekali tak bertemu. Brent juga ingin mencari beberapa alat music.
Akhirnya aku sampai di toko tempatku bekerja dulu. Aku membuka pintu dan masuk. Pada saat itu pengunjung cukup ramai. “Hi James. Masih ingat diriku ?” ujarku menyapa James yang sedang menulis sesuatu. “Hi. Hmm, ya jelas aku masih ingat dirimu. Rose Anderson.” Ujarnya senang lalu memelukku dengan erat. “Ahh, rasanya lama sekali tak bertemu denganmu ya.” Ujarku membalas. “Iya benar sekali. Hey, Brent, apa kabar kau ?” ujar James pada Brent. Aku menengoknya dan tersenyum. “Aku baik, sangat baik. Hmm, aku tinggal ya, aku ingin melihat – lihat beberapa alat music.” Ujar Brent lalu tersenyum dan memegang tanganku lalu pergi.
“Akhirnya kau bersamanya juga. Setelah kasus panjang kau dengannya.” Ujar James tak lama setelah Brent pergi. Aku hanya memainkan barang di depanku belum menjawab. James ada benarnya juga. Inilah aku yang sekarang dengan Brent yang memang melalui cerita pahit yang sangat panjang. “Ya, kau benar sekali James. Aku juga harus mensyukuri itu semua.” Ujarku pada James. Dia tersenyum. “Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk kau. Lihatlah, setelah bersama kau dia terlihat bahagia. Semoga kau cepat dapat momongan ya.” Ujar James mendoakanku. “Amin.” Aku menjawabnya kencang.
“Sudah atau belum, atau aku menganggu kalian ?” ujar Brent yang tiba – tiba datang. “Hmm, sudah, aku lapar Brent.” Ujarku padanya. “Hmm, baiklah. James, kami harus pamit ya. Aku berterima kasih padamu.” Ujar Brent pada James. Yasudah kami pun pergi dari tempat itu. Sayang aku belum bertemu Laurent.

Brent’s
Kami berdua menuju suatu restaurant yang dulu aku dan Rose bertemu tapi tak jadi. Kami mungkin akan membicarakan sedikit kenangan itu. “Disini saja.” Ujarnya lalu duduk. “Ingat dulu kita bertemu tak jadi disini.” Ujarku mengingat sedikit. “Hmm, iya, sudahlah, itu kan masa lalu. Aku lapar sekali nih.” Ujarnya lalu memanggil pelayan restoran. Memesan beberapa makanan untukku dan dirinya. “Hari ini indah ya..” ujar Rose tiba – tiba. “Hari – hariku akan selalu indah bersamamu sayang.” Ujarku lalu menggenggam tangannya erat. “Hahaha, bisa saja kau ini.” Ujarnya tersenyum.
Makanan pun datang. Rose makan dengan lahapnya. Mungkinkah dia… Ahh mudah – mudahan iya. Aku memang sudah tidak sabar akan hal itu. “Kau makan lahap sekali.” Ujarku padanya. “Hmm, Haha, maaf, aku sangat lapar.” Ujarnya sambil menyantap makanan itu. “Hmm, sayang, aku telat.” Ujarnya lagi. “Maksudnya ???” ujarku padanya. “Hahaha. Nanti saja ya di Apartement.” Ujarnya  padaku meledek. Aku hanya terdiam dengan pernyataannya. Feelingku bagus sekali hari ini. Mudah – mudahan Rose benar sedang mengandung dan rasa laparnya itu adalah salah satu efeknya. Kami pun menyelesaikan makan siang kami.
“Sudah. Yuk.” Ajaknya lalu bangun. Aku ikut bangun dan menggandengnya. “Aww..” ujarnya setelah tertabrak pasangan laki – laki dan perempuan di depannya. “Kau tak apa sayang ?” ujarku pada Rose. “Aku tidak apa, sayang.” Ujarnya membalas. Aku menengok orang pasangan itu dan Rose juga. Aku tak percaya yang ada di hadapan kami adalah. “Daniel, Daniela. Kalian sedang apa disini ?” ujar Rose menyapa mereka. “Hmm, Hi Rose Hi Brent.” Ujar mereka agak gugup. Pasti mereka merasa bersalah sekali. “Kami sedang ingin makan.” Ujar Daniela menjawab. Daniel hanya terdiam disana. “Aku… Aku minta maaf ya Rose.” Ujar Daniel tiba – tiba. “Untuk apa ?” ujar Rose bertanya. “Untuk yang sudah aku lakukan padamu. Oh iya, Selamat atas pernikahan kalian ya.” Ujar Daniel lagi. Aku hanya berdiri dan terdiam melihat mereka bertegur sapa. Tiba – tiba Rose langsung menggengamku dengan erat. Dia melihatku dan tersenyum. “Aku sudah memaafkanmu, Dan.” Ujarnya singkat. “Kami harus pergi. Selamat juga buat kalian. Terima kasih atas ucapanmu Dan. Aku sudah bahagia dengan Brent sekarang.” Ujar Rose bijak lalu melambaikan tangannya kepada mereka. Aku ingin tertawa, tapi akhirnya aku hanya tersenyum dengannya. Kami pun pergi dari restoran itu. Aku lihat Daniel dan Daniela hanya tertunduk. Aku senang sekali Rose telah memaafkan mereka. Aku tahu Rose akan melakukannya. Tapi aku tak tahu apa yang dia rasakan sebenarnya. “Aku tahu kau mempertanyakan benarkah aku memaafkan mereka. Tapi Brent, yang terpenting sekarang adalah, aku punya kau, kau punya aku. Aku adalah orang yang paling beruntung mendapatkan kau setelah perjalanan panjang kisah kita. Aku memaafkan Daniel karena memang itu yang harus aku lakukan.” Ujarnya tiba – tiba padaku. Rose seperti bisa membaca pikiranku.
“Iya, aku mengerti kok. Aku sangat senang jika kau memaafkannya.” Ujarku lalu mencium keningnya. “Iya, terima kasih ya. Aku sangat senang bisa bersamamu.” Ujarnya lagi padaku. Rose kau adalah wanita yang paling baik yang pernah aku temui. Kau tak melihat masa lalu lagi karena kau sekarang memang denganku. Aku akan mencoba untuk menyayangimu selamanya. I love you Rose Anderson.

BRENT IS WITH ONEREPUBLIC
OneRepublic’s Studio
“Wow, kau terlihat segar Brent.” Ujar Zach padaku. “Kupikir kau memang butuh liburan bersama Rose.” Ujar Zach lagi. Aku hanya mendengarkan. “Benarkan apa yang ku bilang. Kau pasti bersamanya.” Ujar Ryan padaku. “Selamat ya.” Lanjut Drew. “Ya, benar, dan kalian tahu apa. Rose adalah perempuan yang dulu aku cipratkan kotoran. Hahaha. Aku tahu setelah kemarin kita datang ke pernikahanmu. Aku minta maaf.” Ujar Eddie. Aku hanya tertawa mendengarnya. “huuuuuu…..” ujar Drew mendorong Eddie. “Hey sudahlah, yang penting teman kita yang satu ini sudah bahagia.” Ujar Zach bijak.
“Iya, kalian adalah temanku yangpaling terbaik. Aku sangat senang sekali kalian dulu telah membantuku. Aku juga memang bahagia sekali saat ini, dan mungkin untuk selamanya. Untuk Eddie, kita masih ada urusan karena kau hampir menabraknya. Hahaha.” Ujarku pada mereka dan Eddie. “Hey, aku kan sudah minta maaf. Ahhh..” ujar Eddie sambil tertawa. Kami pun semua tertawa. “Sudahlah ayo kita latihan untuk penampilan kita besok.” Ujar Ryan mengakhiri semua. Baiklah kami semua harus kembali ke kesibukanku dan teman – temanku lagi karena music adalah hidupku.   

Recommende song from OneRepublic : Good Life, Counting Stars, Something I Need, Burning Bridges, If I Lose Myself, I Lived. Thanks for everyone who has read my story. You’re amazing. F.
THE END.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...