Skip to main content

OneRepublic FF Part 23



LOVE SICK

Brent’s
Aku tak menyangka semua itu dilakukan oleh Rose. Apalah arti semua janji yang kami buat berdua dulu. Hubungan yang kami jalin hanya beberapa bulan. Rose yang tak tahu penjelasan sebenarnya. Aku yang belum memberikan penjelasan. Aku rasa Rose memang salah paham atas semua masalah yang menimpa kami berdua.
Sekarang Rose sudah bersama Daniel. Aku harap Daniel bisa menjaganya dengan baik. Tapi kenapa ya ketika pertama kali aku melihat Daniel, dia bukan pria yang baik untuk Rose. Ahh, mungkin hanyalah perasaanku saja. Lagian itu kan keputusan Rose. Rose tak mungkin salah. Rose perempuan yang sangat baik. Sekarang waktunya aku untuk melupakannya perlahan. Aku tak mungkin langsung melupakannya. Tak mungkin.
“Brent..” ada yang memanggilku. Aku pun menengok. Ternyata Ryan. “Ada apa ?” ujarku padanya. “Bagaimana kanada ?” ujarnya sambil duduk disebelahku. “Bagus. Seperti Denver. Tak jauh beda.” Ujarku singkat. “Hmm, bagaimana kau dengan Rose ?” tanyanya. Aku tersentuh. Hatiku tak wajar. “Kita sudah putus.” Ujarku singkat. “Hmm, bagaimana bisa ?” ujarnya datar. Ryan santai sekali menanyakan hal ini. Padahal kan aku sakitnya bukan main. “Ada masalah besar yang membuat dia salah paham.” Ujarku lagi. Ryan terdiam cukup lama. “Aku tahu.” Ujarnya tiba – tiba. Aku langsung menengok dirinya. “Bagaimana bisa kau tahu ?” tanyaku padanya. “Rebecca ?” ujarnya seperti sebuah pertanyaan. “Dia memang begitu. Aku kenal dia cukup lama. Jadi aku tahu antara kau, Rebecca dan Rose.” Ujarnya lagi sambil menunjuk diriku. Aku masih terdiam dengan pernyataan Ryan. Dia memang teman lama Rebecca, tapi dia bisa tahu seluk beluk Rebecca yang mempunyai sifat seperti itu. Aku tak menjawab apapun atas pernyataan Ryan itu.
“Sabar saja.” Ujarnya datar lagi sambil meminum cola yang dipegangnya. Aku tersenyum kecut. “Tapi jujur akan sulit melupakannya. Akan sulit sekali. Sekarang saja aku merindukannya.” Ujarku jujur pada Ryan. “iya tahu. Kau kan baru putus darinya. Tak mungkin secepat kilat melupakannya. Tapi perasaanku, kau akan memperjuangkan cintamu ya. Perasaanku, Rose akan kembali padamu. Ahh, mungkin hanya perasaan. Aku tak bermaksud untuk mengingatkanmu padanya. Aku ke kamar dulu ya. Ada sedikit urusan.” Ujarnya lalu memukul bahuku. Aku tersenyum padanya. Tapi aku memikirkan perkataan Ryan barusan. Amin. Itulah doaku dalam hati supaya aku bisa kembali pada Rose.

Rose’s

“Kamu tidak apa sayang ?” ujar Daniel tiba – tiba sembari memberikanku kopi yang di belinya malam ini. Kami berdua duduk di sebuah taman menghabiskan waktu libur kerjaku. Daniel habis menjemputku dari rumah. Dia bilang dia ingin berdua denganku di taman ini. “Aku tidak apa kok.” Ujarku singkat setelah itu aku menyeruput kopiku.
“Ayolah Rose, jangan berlarut larut sedih. Aku jadi bosan.” Ujarnya sedikit kesal padaku. “Aku minta maaf Dan..” ujarku sambil mengelus punggungnya. “Aku janji perlahan aku tidak akan sedih lagi. Selama kau bisa membuat aku senang juga.” Senyumku padanya menyembunyikan kesedihan ini. Aku terdiam sejenak lalu dia juga diam. Di malam yang cukup ramai itu, hanya suara orang berlalu lalang yang terdengar.
“Sebenarnya kau suka padaku tidak ? Maksudku kau cinta padaku tidak ? Tuluskah kau berpacaran denganku ?” ujarnya lagi membuat hatiku terhenyak. Aku terdiam cukup lama. “Rose” dia memanggilku dan membubarkan lamunanku. Aku bingung harus menjawab apa. “Aku mencoba. Tidak bisa langsung. Tapi aku mencoba.” Ujarku padanya. Dia terdiam. “Baiklah. Aku tidak memaksa.” Ujarnya datar. Aku tak tahu maksud dia bilang seperti itu apa. Tapi yang jelas mungkin dia bermaksud untuk memberiku waktu. “Terima kasih telah mengerti diriku.” Ujarku padanya sambil tersenyum dan memegang tanganku. Dia menengokku dan tersenyum padaku. Dia pun mencium pipi kananku cukup lama dan lembut.
“Ayo pulang. Sudah malam. Besok aku harus bekerja.” Ujarku padanya lembut. “Baiklah ayo sayang.” Ujarnya sambil menggandeng tanganku. Sebenarnya aku serba salah juga menjawab seperti itu padanya. Aku tidak merasa enak berhubungan dengan dirinya. Rasanya hatiku dan hatinya tidak menyatu. Aku saja bingung. Apa aku harus memaksakan hatiku untuknya ? Jujurlah, sesungguhnya aku merindukan Brent. Merindukan suara, wajah, dan cara dia menemaniku ketika kita berdua dulu. Tapi apalah daya. Aku harus melupakannya secara perlahan. Karena aku kurang yakin bisa bersatu dengannya.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...