Skip to main content

Seperti Dejavu, aksi bukan sekedar kata.

Oh ya, Dejavu hanya sebuah kata, tapi semua itu seperti terjadi di waktu ini, detik ini.

Jadi... Seperti ada rasa yang dikeluarkan oleh Tika. Dia mencoba untuk membalas perasaan yang dulu dia sempat rasakan, yang membuatnya trauma. Dicampakkan lelaki.

Sekarang, kebalikannya. Seperti Dejavu yang dirasakannya. Kenapa Dejavu? Bukan kata 'balas dendam' yang dipakai untuk menggambarkan perasaannya?

Ya, Tika mencoba untuk menguji seorang lelaki yang sedang dekat dengannya. Memberi sedikit ruang sepi kepada lelaki itu, berharap lelaki itu memberika aksi lebih pada Tika jika lelaki itu memang benar suka dengannya. Tika mencoba untuk berlari dari lelaki itu, seperti dulu, dia harus lari untuk mengejar lelaki, bukan sebaliknya.

Mungkin perasaan Tika belum muncul untuk Reza, tapi kalau Reza memberikan aksi lebih, bukan tidak mungkin Tika menjadi suka padanya, bahkan rasa cinta muncul di antara mereka berdua. Tapi, sepertinya Reza belum berani mengambil langkah lebih untuk menunjukkan perasaan cintanya, malah, Reza lebih suka memberi kode kepada sosial media yang di milikinya. Lucu. Pikir Tika.

Maka dari itu, jika sekalipun perlakuan Tika salah, tapi kalau sikap ini membuat Reza berbuat lebih untuknya, kenapa tidak? Toh, cinta itu harus dibuktikan dengan perlakuan, kalau hanya kata-kata, seorang anak kecil pun bisa melakukannya.


Comments

Popular posts from this blog

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...

OneRepublic FF Part 5

THE MEANING OF MUSIC FOR ME Brent’s “Feel Again saja yang jadi video klip pertama kita untuk Native ini.” Ujar Ryan ketika kami sedang meeting untuk menentukan video pertama kami. “Aku setuju, lagu ini akan bagus dan laku kok, aku saja suka.” Ujar Drew. “Baiklah, jika Drew setuju, aku jawab ya.” Ujarku menyetujui. “Ahh, kau ini Brent, yasudah aku juga.” Jawab Eddie selanjutnya. “Zach ?” ujar Ryan bertanya. “Jika kau jawab tidak, kau pasti kalah, hahaha.” Ledek Eddie. Zach terlihat berpikir. “Aku tidak…” ujar Zach menggantung kalimat. “Tidak apa ?” tanya Ryan penasaran. “Kau tidak akan menang jika menjawab tidak.” Jawabku serius. “Aku tidak menolaknya.” Kami pun tertawa dan mendorong pelan Zach. “Ahh, kau bercanda saja sih.” Ujar Ryan. Muka kami kembali serius. Musik bagi kami berlima adalah sebuah yang berharga. Sebuah hal yang tidak akan bisa lepas dari hidup kami. Aku sendiri. Backgroundku memang music. Ibukulah yang pertama kali mengajarkan piano kepadaku. Ryan juga, deng...