Skip to main content

H - 2 Lebaran


Hujan mengguyur deras di Ibukota. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Seharusnya Feni sudah bersiap menyelesaikan pekerjaannya, dan bergegas pulang, mengingat hari ini adalah hari terakhir masuk kerja sebelum libur Lebaran. 

"Fen, belum pulang?" Sapa Ardi, temannya yang tahun ini tak mengambil cuti lebaran, ia sama nasibnya dengan Feni, atau Ardi memang tidak memilih pulang, karena masih dalam masa berkabung. Kekasihnya yang tinggal di kampung, baru meninggal karena Covid-19, ia tak bisa melihat, sempat trauma, namun Ardi perlahan menatap kenyataan.

"Enggak, nanti aja. Lagi mau makan masakan Jepang nih gue, buat buka puasa. Mau ikut pesan?" Tanya Feni, diikuti anggukan Ardi, lelaki botak plontos, yang suka sekali menggunakan kaus bertuliskan band kesukaannya, serta celana jeans, yang tak pernah berwarna biru tua ataupun muda.

"Boleh. Gue nanti ada di ruangan meeting ya. Mau beres-beres peralatan listrik sama IT." Jempol tangan Feni mengiyakan dan menyetujui informasi dari Ardi. Feni adalah seorang perempuan dengan rambut pendek yang diwarnai abu-abu di beberapa bagiannya, serta punya tumbuh tidak terlalu tinggi, dan agak sedikit gemuk coba membetulkan posisi duduknya. Ia lalu membuka aplikasi pesan makan online dengan logo berwarna hijau putih di ponsel pintarnya. 

"Wah, ada promo. Rezeki." Tukasnya, ia pun bergegas cepat memesan makanan. Kantornya yang bergerak di bidang periklanan dan penulisan artikel di website itu sudah cenderung sepi, karena beberapa rekan kerjanya sudah memutuskan pulang kampung lebih awal, dan juga memutuskan work from home dari kampung masing-masing. Feni memilih untuk tetap tinggal di Jakarta, namun bukan pilihan, memang pekerjaannya yang tak memungkinkan ia pulang kampung tahun ini. 

"Iya, Bu, maaf. Tapi diusahakan akhir Mei nanti akan pulang." Ia memberikan informasi kepada Ibunya yang tinggal di kampung halamannya di Tegal. Ia coba memberi pengertian berkali-kali, dengan alasan pula nantinya Feni akan lebih puas menghabiskan waktu, jikalau pulang kampung bukan pada waktu yang sama dengan orang-orang pulang kampung.

"Duh kok error." Tukas Feni. Ardi kembali dan memperhatikan gerak-gerik Feni.

"Kenapa, sis?"

"Aplikasinya error. Masa pesanan gue enggak keterima terus ya." 

"Coba gue lihat." Ardi menghampiri Feni dan coba melihat apa yang terjadi. Ardi coba bantu dengan meng-update aplikasi pesanan online milik Feni, namun tetap gagal."

"Kayaknya ada yang salah sama handphone lo. Beli baru dong. Setia banget sama handphone ini?" Ardi mengangkat satu alisnya.

"Iyalah, banyak kenangannya. Lagi pula gue masih bisa pakai ini dengan baik."

Ardi mengangkat bahunya, "Enggak baik, Fen. Lo kemarin ngadu ke gue, isi memori lo udah penuh, terus tempo lalu, lo juga ngeluh soal data handphone lo yang enggak bekerja dengan baik."

Feni pun ikut mengangkat bahu, "Okelah, nanti gue ganti."

"Lagian kan udah dapat THR."

Feni tak bergeming. Padahal THR-nya ia ingin tabung kelak untuk biaya menikah. Walaupun ia belum juga dapat siapa yang akan menikah dengannya nanti.

"Iya. Eh tapi, gue jadi mau ke Mall sebelah aja deh, lo mau ikut atau nitip aja?" Tanya Feni, seraya membereskan barang-barangnya, untuk bergegas membeli makanan. Ia berencana untuk pulang agak larut nanti.

"Ah, gapapa nih?"

Feni menggeleng, "Iya, gapapa." Tukas Feni.

"Ok. Apa aja yang lo beli, gue ikut aja. Gue masih ada yang harus diberesin, kan kita bakal libur lama. Lo juga pulang malam?"

Feni hanya mengangguk. "Yaudah, gue pergi dulu ya. Kalau semisal ada yang cari gue, tolong bilang gue lagi keluar. Dikit lagi buka puasa soalnya."

Ardi mengacungkan jempolnya dan kembali ke ruangan yang membutuhkan jasanya.

**

Feni akhirnya tetap memutuskan untuk mengisi perutnya dengan masakan Jepang. Ia hanya ingin makan nasi dengan Yakiniku. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada makanan itu hingga lidahnya sendiri bisa merasakan bumbu Yakiniku, padahal hanya pikirannya saja yang membayangkan. Ia pun bergegas, satu jam lagi adalah waktunya berbuka puasa. Feni agak mempercepat langkahnya. Namun ketika melihat restoran Jepang yang ada di depan matanya, antrian cukup panjang sedang terjadi.

"Yah." Gumamnya agak keras. Pikirannya langsung bingung, memang jam sudah akan menunjukkan waktunya buka puasa, tapi ia tak menyangka restoran masih banyak yang punya antrian panjang, bukannya tidak bagus, hal ini malah bagus, namun Feni juga mengira, akan sepi karena sudah masuk libur lebaran.

"Hmm, mbak masih bisa pesan?" Tanya Feni sesampainya di sebuah Food Court, di Mall yang juga satu gedung dengan tempat kerjanya.

"Oh masih kak, tapi nunggu setengah jam ya kak."

"Oh gapapa. Aku pesan dua ya, yang ini, dan ini."

"Baik kak, dapat bonus takjil ya kak." Tukas sang pelayan yang sekaligus merangkap sebagai kasir dan yang merupakan seorang pemudi itu. Feni menahan nafasnya, dan bergumam, "Alhamdulillah," dibalik maskernya.

"Berapa mbak jadinya?"

Sang kasir memberikan struk dengan jumlah uang yang harus dibayarkan Feni. Keduanya mengucapkan terima kasih secara bersamaan dan Feni menunggu di sebuah kursi kosong, di tempat makan Food Court tersebut. Jam terus berjalan, seraya memainkan ponsel pintarnya, Feni juga iseng mencari-cari ponsel pintar apa yang cocok untuk menggantikan ponselnya saat ini. Sepertinya ia memang harus memikirkan untuk mengganti perangkat pekerjaannya itu, karena memang terkadang sering mengganggu pekerjaanya.

"Kak Feni, Kak Feni..." Tukas kasir yang menjamunya tadi, Feni langsung tersadar dari kegiatannya, dan sesegera mungkin mem-bookmarks beberapa pilihan ponselnya dalam browser ponselnya.

"Iya." Feni menjawab dan menyerahkan struk-nya kepada kasir. Ia menerima makanan sore dan bonus takjilnya itu.

Feni kembali ke kantornya dengan langkah bergegas. Ia melihat Ardi yang sedang membereskan beberapa peralatan dan perangkat listrik, yang ada di atas mejanya. Sesampainya di ruangan dan Feni baru saja menaruh makanan yang dibeli, azan Magrib pun berkumandang.

"Alhamdulillah." Keduanya berucap bersamaan. Ardi mengucapkan terima kasih pada Feni. Mereka pun menikmati makanan bersama. Ternyata orang-orang yang ada di dalam kantornya sudah bergegas, ketika Feni pergi ke Mall tadi.

"Mbak Tia cari lo tadi. Ia titip file."

"Oh iya, dia Whatsapp gue juga kok. Thank you."

"Feni, kita cuma berdua aja ya di kantor. Lo enggak mau pulang aja?"

"Tanggung banget si, ada satu laporan yang dikit lagi selesai. Gue enggak mau kepikiran bawa pulang kerjaan, besok udah libur. Ogah banget kerja di rumah."

Ardi mengangguk, lalu sesekali menyuap makanan yang dititipkan kepada Feni tadi.

"Lo... enggak mudik, Di?" Tanya Feni, dengan nada meragu. Ia bingung keheningan melanda mereka, dan ingin membangun sebuah percakapan, agar keheningan itu tidak terasa.

"Oh, enggak. Jawabannya tetap sama. Mbak Tia juga tadi nanya."

Feni hanya mengangguk.

"Belum siap aja. Lo enggak pulang?" Ardi bertanya balik kepada Feni.

"Enggak, nanti akhir Mei. Gue udah ajukan cuti."

Kini Ardi yang mengangguk, "Gue temani lo aja sampai lo selesai ya. Lagi pula gue mau double check ruangan dan sambungan listrik. Takut ada yang kelewat."

"Eh, gue sih enggak apa-apa kalau lo mau duluan, Di."

"Santai, Fen. Lagi pula sama-sama anak indekos. Enggak ada yang cari juga, mau buru-buru pulang, paling di kos juga langsung tidur." Jelas Ardi, lalu ia bergegas mencuci peralatan makan. Ardi izin solat terlebih dahulu dan Feni mencoba melihat file laporan yang harus ia selesaikan. Selepas Ardi selesai solat, bergantian dengan Feni, mereka berdua pun coba menyelesaikan pekerjaan mereka sesegera mungkin, karena tak mau terbawa mimpi akibat pekerjaan yang belum diselesaikan.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...