Skip to main content

Kecewa?

"Buat apa?" Ketika kamu sudah digantikan dengan yang lebih baik. Kamu terus berharap? Ketika berharap mendapat seseorang yang ditunggu cukup lama, dia tak kunjung datang. Akhirnya kecewa. Tak lagi. Tak lagi kecewa karena kuasa Tuhan itu pasti indah dari kekecewaan.

"Buat apa?" Ketika kekecewaan datang setelah hampir menunggu beberapa tahun. Seharusnya sudah menyelesaikan tujuan yang lebih baik dari menunggu. Kecewa bukan lagi kata yang harus diucapkan ketika mendapat sesuatu yang berbuah manis setelah melakukan tujuan indah itu.

"Buat apa?" Ketika kamu mendapat kesempatan kedua yang jarang sekali didapatkan yang lain. Bukan kecewa yang diperlukan, tapi bersyukur adalah kata yang tepat. Banyak bersyukur, banyak kecewa pula yang runtuh, tak lagi jadi manusia yang berharap.

"Buat apa?" Kecewa itu pasti. Tak mungkin kamu tidak membuat orang kecewa atau tidak pernah dikecewakan orang. Tapi mau berlarut-larut? Ubahlah si kecewa menjadi kekuatan yang bisa membuat senyum orang-orang di sekitar terukir indah.

"Buat apa?" Selama masih ada orang yang menyayangi, kecewa akan runtuh, dan senyum akan terukir tulus. Kecewa karena suatu keadaan atau seseorang, tak serta merta membuat duniamu runtuh dan hancur.

"Buat apa?" Berpura pura tak membuat orang kecewa. Kita pasti buat orang kecewa, tak mungkin hidup ini seindah itu tanpa membuat kekecewaan. Kita manusia, bukan makhluk yang sempurna yang selalu menebar kebahagiaan, tapi juga kesedihan. Hidup harus seimbang, butuh kecewa yang nantinya dijadikan pelajaran, butuh rasa syukur untuk pergi dari kekecewaan itu.

Comments

Popular posts from this blog

OneRepublic FF Part 5

THE MEANING OF MUSIC FOR ME Brent’s “Feel Again saja yang jadi video klip pertama kita untuk Native ini.” Ujar Ryan ketika kami sedang meeting untuk menentukan video pertama kami. “Aku setuju, lagu ini akan bagus dan laku kok, aku saja suka.” Ujar Drew. “Baiklah, jika Drew setuju, aku jawab ya.” Ujarku menyetujui. “Ahh, kau ini Brent, yasudah aku juga.” Jawab Eddie selanjutnya. “Zach ?” ujar Ryan bertanya. “Jika kau jawab tidak, kau pasti kalah, hahaha.” Ledek Eddie. Zach terlihat berpikir. “Aku tidak…” ujar Zach menggantung kalimat. “Tidak apa ?” tanya Ryan penasaran. “Kau tidak akan menang jika menjawab tidak.” Jawabku serius. “Aku tidak menolaknya.” Kami pun tertawa dan mendorong pelan Zach. “Ahh, kau bercanda saja sih.” Ujar Ryan. Muka kami kembali serius. Musik bagi kami berlima adalah sebuah yang berharga. Sebuah hal yang tidak akan bisa lepas dari hidup kami. Aku sendiri. Backgroundku memang music. Ibukulah yang pertama kali mengajarkan piano kepadaku. Ryan juga, deng...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 26

MISSING HIM SO MUCH Rose’s Hari ini tepat 2 bulan Brent tour dunia. Aku suka mencuri – curi waktu untuk membuka video Brent dan OneRepublic manggung. Aku tahu ini tidak baik. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat merindukan dirinya. Rasanya aku ingin sekali menghubungi Brent. Aku mengambil Iphoneku dan mencari cari kontak bernama Brent. Aku melihat disitu terdapat nama dan nomornya. Aku ingat ketika 2 bulan yang lalu aku melihat banyak sekali miscall dan sms darinya. Tapi aku sama sekali tak berani untuk membalasnya. Jujur saja aku tersenyum melihat sms dan miscall itu. Tanda bahwa Brent masih punya rasa padaku. Tapi aku sudah punya seseorang. Seseorang itu Daniel. Tapi kadang aku tak bisa membohongi diriku ini kalau aku masih punya rasa yang terdalam pada Brent. Aku nya mungkin yang munafik. Aku mencoba mengirim sms bertuliskan. “Semangat ya! J ” begitulah, lalu aku memencet tombol send. Terkirim. Aku senang sekali. Tapi tak langsung dibalas. Mungkin sibuk. Brent jujur ...