Skip to main content

'Cause I do love you!

Denting waktu terus berjalan. Sudah tak tahan lagi, Dila, seorang wanita yang kini masih saja sendiri karena ketidakmampuannya untuk mempelajari bagaimana caranya untuk membersihkan hatinya dari kenangan lamanya. Dila yang duduk sendiri di suatu bangku taman di kawasan Jakarta Selatan, menopang dagunya dengan tangan kanannya, dan mengamati sekitar. Tenangnya suasana taman kala itu membuat dirinya mengingat lagi memori yang telah lama dibuatnya dengan para lelaki yang pernah dekat dengannya dulu, ya hanya dekat, yang membuat hatinya berbunga bunga, sekalipun itu bunga mawar, kalah sekali dengan hatinya yang berbunga. Dila menggeleng kala itu.

"Dila!" ujar seorang wanita lain yang sudah berjanjian dengannya. Siska, duduk seketika di samping kanan Dila.
"Apa kabar?" ujarnya. Dila tersenyum dan menjawab, "baik..."
"Gimana Rasyid?" sontak Dila menoleh kearah Siska dan mengerutkan dahinya. Baru saja Siska datang, seperti tombak yang dilemparkan, pertanyaannya itu menusuk hati Dila.
"I've told you I deleted all his contact."
"Ya, mungkin kamu berubah pikiran. Aku kasihan sama kamu Dila. Sudah setahun ini, kamu memendam rasa rindu dengannya."
"Sok tahu!" Dila kesal lalu menopang dagunya lagi, melihat jauh tak tentu arah. Ya, tak dipungkiri, otaknya langsung terangsang memikirkan Rasyid. Seketika ingatannya kembali.

Dahulu, Rasyid peduli. Dahulu, Rasyid bisa tersenyum karenanya. Dahulu, Rasyid tak perlu canggung untuk berbicara apapun pada Dila. Tapi, ketika Dila melakukan satu hal yang sebelumnya tak pernah disangka akan merenggangkan hubungannya dengan Rasyid, Dila langsung menyadari bahwa hal itu adalah hal yang salah. Dila mencoba mengakui rasa sukanya pada Rasyid, bukan menembaknya. Tapi, sepertinya Rasyid adalah orang yang tidak peka dengan wanita yang melakukan hal itu. Pikiran Rasyid datar, tak mampu memberikan pendapat lain.

Siska menepuk punggung Dila dan berkata, "coba kamu hubungi dia lagi. Enggak ada salahnya. Memperbaiki silahturahmi." Dila menoleh kearah Siska. Siska tersenyum. Dila kembali kearah pandangan lurusnya dan berpikir bahwa mungkin Siska benar. Memutuskan silahturahmi tidak baik. Walaupun terkadang masih ada sedikit rasa suka yang sering muncul, Dila harus memperbaiki ini.
"Kamu bilang kamu masih simpan nomor dia kan?"
"Iya." ujar Dila sambil mengangguk.
"Dicoba aja Dila. Niatnya tetap ingin memperbaiki pertemanan ya..."
Dila mengangguk. Malam setelah Dila bertemu Siska, Dila langsung menghubungi Rasyid lewat pesan singkat Whatsapp.
Lama tak dibalas, Dila putus asa. Apakah Rasyid merasa sakit hati kalau Dila telah memutus hubungan dengannya? Dila menggeleng keras. Mana mungkin lelaki memikirkan hal itu. Dila pun menunggu sampai keesokan harinya dibalas oleh Rasyid dengan sapaan yang masih ramah. Hal itu terus berlanjut sampai dua minggu kemudian Dila mengajak Rasyid untuk bertemu, main bersama dengan Siska, teman Dila dan Rasyid yang memperkenalkan Dila dengan Rasyid.

"Kemana aja kamu?" ujar Rasyid setelah mereka bersama berbincang. Siska sedang membeli sesuatu di Supermarket yang berada di dalam Mall besar di daerah Kasablanca. Dila sekarang berdua dengan Rasyid.
"Masih disini." ujar Dila datar. Dila yang sekarang memperhatikan lalu lalang para pengunjung Mall yang membuat pikiran jauh melayang, dan tetap mengkontrol hatinya untuk tidak berbunga bunga.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa juga kamu harus hapus semua kontakku? Aku tahu kamu orang yang cukup aktif di media sosial, tapi kenapa tiba-tiba menghilang."
Dila mengerutkan dahi, masih tetap tak menatap Rasyid yang mempunyai paras yang lumayan. Model rambutnya seperti artis Rizki Febian, alisnya cukup tebal, dan mempunyai badan yang tidak terlalu gemuk. Dila menghela nafas, terpikir bahwa ternyata Rasyid memperhatikan juga keberadaannya di dunia maya.
"Alasannya tak bisa kuberitahu."
"Lalu maksudmu apa menghubungiku lagi?" Rasyid bertanya dengan nada yang sedikit tinggi. Sontak Dila langsung menatapnya. "Kenapa kamu tiba-tiba menghilang, Dila? Kamu enggak harus seperti itu." tambah Rasyid yang membuat Dila saat itu ingin menangis. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Dila. Siska datang. Panik, karena melihat Dila menangis akhirnya.
"Kamu kenapa Dila?" ujar Siska yang langsung duduk di sampingnya.
Dila tak menjawab, tapi Dila langsung berdiri dan menatap Rasyid lekat-lekat.
"Ada kala nya wanita itu harus pergi jauh meninggalkan seseorang yang disukainya, tapi lelaki itu tak menyukainya. Perasaan bersalah yang terus menerus datang. Rindu yang tak bisa dibelenggu. Aku melakukan ini semua karena... Aku mencintai kamu." Dila pun pergi membaur dengan keramaian.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...