*Ini dia FF saya. Judulnya saya akan berikan di akhir cerita, supaya kalian bisa menebak - nebak atau menyimpulkan sendiri. Ini Fan Fiction yang saya buat karena saya penggemar dari band The Script dan OneRepublic. Nama - nama yang ada di cerita ini dari dua band tersebut dan saya juga mengambil dari beberapa nama yang sudah ada. Enjoy!*
Part
1
“Dia
gak tahu betapa sakitnya aku disini.. Sakit benar jatuhnya..” Nina sehabis
jatuh karena memakai high heelsnya. Mencoba hal yang tidak pernah ia coba
sebelumnya.
“Udah
aku bilang, aku sebenarnya gak pernah pake kayak begini, kenapa sih masih dipaksa
juga. Kan jadinya miring deh kakinya. Untung kepalaku gak miring. Cuma pas
kencan sama Steve aja, itu juga aku jatuh dan aku lepas juga sepatunya” Gerutu
Nina lagi.
“Maaf
deh Nina, aku kan gak tahu kalau kamu itu gak pernah pake high heels. Yaudah aku
tanggung jawab deh. Lagian kamu lebih cewek kan pakai high heels.” Ujar Danny.
“Aku
tahu Danny, aku terlalu tomboy. Tapi, hey, I’m a girl already. Nanti juga ada
saatnya dimana aku pasti pakai high heels.” Balas Nina lagi.
“Udah,
yaudah… Aku bantu jalan ya. High heelsnya di masukkan kantong lagi aja. Kamu
ganti pakai sepatu converse kamu.” Ujar Danny lembut.
Nina
hanya melihat kebaikan Danny saja kala itu. Dia bingung sampai sekarang dengan
perasaannya. Dia takut salah dalam jatuh cinta pada Danny. Sebentar lagi
kelulusan kuliahnya. Danny dan Nina tidak mengambil jurusan yang sama tapi
mereka berteman akrab. Nina hanya bisa memendam perasaaannya. Padahal yang ia
tahu Danny masih single, tidak menutup kemungkinan jika mereka menjalin
hubungan karena hal itu. Tapi, Nina terlalu malu untuk mengungkapkannya. Nina
juga tahu diri, pasti Danny memilih wanita yang lebih manis dan baik dari
dirinya. Tapi sifat mengayomi Danny, membuat Nina tak bisa lepas darinya.
“Makasih
ya udah nganterin aku. Oh iya, sebulan lagi kan kelulusan. Aku boleh bareng
kamu gak ?” ujar Nina dengan suara agak sedikit manja.
“Tenang
aja, boleh kok. Emang Steve gak jadi ngajak kamu bareng ya ? Jadi kemarin Cuma
first date aja. Kasian banget kamu Nina.” Ujar Danny sambil tertawa geli.
“Ahh,
Danny, meledekku saja. Aku tahu kok, aku memang tidak pantas dengan Steve. Dia
tak suka diriku, maka dari itu dia menjauhiku saat ini.” Ujar Nina tertunduk.
“Yaudah,
kamu sabar aja ya. Udah malam aku pulang dulu ya anak tomboy.” Ujar Danny
tersenyum. Dia pun pamit dan berbalik lalu pergi pulang kerumahnya.
“You’re
such an amazing Man, Danny. You never know that I love you.” Ujar Nina lirih.
“Nina
pulang…” ujarnya berteriak sedikit kencang untuk memberitahu seisi rumah.
Ibunya yang sedang menyiapkan makan malam. Nina berjalan menuju Ibunya dengan
berjalan pincang.
“Kamu
kenapa sayang ???” ujar Ibunya. Nina anak yang tinggi, terlihat kasihan sekali
dengan berjalan seperti itu. Sebenarnya Nina adalah anak yang cukup cantik,
tinggi, rambutnya terurai panjang, tapi sayangnya dia berpenampilan tomboy
sekali. Danny sampai bingung dibuatnya. Tapi Nina merasa pede ketika
berpenampilan seperti itu. “Sedikit polesan saja, kamu akan jadi tuan Putri,
Nina.” Begitu kata Danny kepadanya. Itu salah satu hal yang bisa membuat dia
makin suka sama Danny.
Ibunya
pun membantu Nina berjalan dan duduk di meja makan. “Kamu kenapa ?” tanya
Ibunya lagi.
“Aku
tadi jatuh bu. Mau coba pakai high heels tapi gagal. Hehehe.” Ujar Nina
terkekeh.
“Waduh,
memang disuruh siapa pakai hak tinggi ?” tanya Ibunya bingung. Masalahnya,
Ibunya saja tak pernah menyuruh atau memasakkan anaknya itu untuk memakai hak
tinggi. Nina diam sejenak, dia tidak enak kalau bilang bahwa Danny yang
menyuruhnya memakai hak tinggi. Dia juga lupa menyembunyikan bingkisan yang
dibawanya itu yang berisi sepatu high heels yang dibawakan Danny. Danny
membelikannya di tukang barang bekas, walaupun bekas, sepatu hak tinggi
berwarna biru yang dibelikan Danny itu terkesan lucu dan mewah.
“Danny
ya ? Itu bawa apa ? Coba Ibu liat.” Ujar Ibunya lalu mengambil bingkisan dari
tangan Nina. Nina masih diam, masih memikirkan alasan apa yang harus dikatakan
pada Ibunya itu.
“Hmm,
gini, itu aku yang beli, sedangkan Danny Cuma nganterin aku aja kok. Memang aku
yang mau untuk pakai sepatu itu.” Ujar Nina tersenyum kecut. Terpaksa dia
bohong.
“Ahh,
masa ? Kamu gak pernah loh sebelumnya berubah gini.” Ujar Ibunya.
“Hmm,
sudah Ibu tenang saja. Aku akan makan dikamarku, ada sesuatu yang harus
kukerjakan. Maaf ya bu.” Ujar Nina lalu pergi dan membawa kantong belanja dari
tangan Ibunya. Ibunya hanya menggeleng geleng heran denga Nina. Nina berjalan
tergopoh karena kakinya masih terkilir.
“Yeahhh..
Selamat ya Danny. Kamu dan aku udah lulus.” Ujar Nina sambil memeluk Danny.
“Iya
aku seneng banget Nina. Makasih ya selama ini udah jadi temen baik aku.” Ujar
Danny melepaskan pelukan Nina.
“Iya.
Ihh, aku harusnya yang makasih sama kamu. Disaat aku lagi senang atau sedih
kamu selalu ada. Hahaha. Mungkin aku berlebihan ya Danny.” Ujar Nina menunduk.
“Hei
kalian masih disini. Ayo pulang. Besok akan ada makan malam di rumah Nina, kamu
dateng ya Danny.” Ujar Ibu Nina yang tiba – tiba datang di barengi dengan orang
tua Danny. Mereka juga sudah mengenal satu sama lain.
“Tuh,
dateng ya. Aku duluan ya Danny. Bye..” ujar Nina sambil tersenyum pada Danny.
Danny O’donoghue tepatnya. Teman Nina sejak dia masuk Universitas. Danny
membalas senyuman Nina. “Aku bakal kangen banget sama kamu Nina.” Ujar Danny
lirih. Dia pun berbalik dan pulang mengikuti orang tuanya.
“Ke
taman yuk. Kita jalan – jalan. Lagi pula ini kan sabtu malam.” Ujar Nina
mengajak Danny setelah mereka makan malam bersama keluarganya. Setelah Nina dan
Danny pamit pada orang tuanya, mereka mengambil sepedanya dan berjalan menuju
taman terdekat dan taman di pusat kota Irlandia untuk menikmati sabtu malam
mereka.
Setelah
mereka sampai di taman itu, mereka memarkirkan sepedanya. Malam itu cukup ramai
karena sabtu malam. Di sebelah timur taman itu sedang ada festival music jadi
terlihat ramai sekali. Danny dan Nina membeli dua gelas kopi hangat untuk malam
itu lalu berbincang – bincang tentang masa depan mereka.
“Kamu
mau kemana habis ini Nina ?” tanya Danny membuka pembicaraan.
“Aku,
mungkin aku mau hijrah ke Amerika aja.” Ujarnya menunduk sambil memainkan
kakinya.
“Tetep
kekeh mau kesana ? Tinggal sendirian ? Mau tetep ke New York, ngejar impian
jadi penulis ?” tanya Danny yang sudah tahu banyak kemauan Nina.
“Ia.
Kenapa ? Kamu, kamu tetep kekeh juga mau ke London untuk jadi musisi ? Aku Cuma
bisa dukung aja ya Dan, jangan sampai kita putus kontak.” Ujar Nina menengok
Danny lalu tersenyum.
“Kamu
culun banget ya rambutnya. Jangan di belah tengah gitu dong.” Ujar Nina lalu
membetulkan tampilan rambut Danny.
“Ahh,
gapapa keren tahu.” Ujar Danny lalu tertawa. Mereka berdua tertawa menikmati
sabtu malam yang ramai itu.
The
Future…
“Kamu bisa ganti John tugas untuk mewawancari
OneRepublic ?” ujar ketua tim jurnalis di salah satu harian terkenal di kota New
York kepada Nina. Nina saat ini berada di kota New York. Kota impiannya dulu,
dimana dia ingin sekali menjadi penulis terkenal di kota ini. Tapi ternyata
Nina menjadi seorang jurnalis bagian olahraga di suatu surat kabar harian yang
cukup terkenal dikota itu.
“Memangnya
ada apa dengan John Pak ? Maaf pak sebelumnya, saya tidak terlalu mengerti
tentang music. Saya hanya tahu sedikit tentang OneRepublic, bahkan saya hanya
tahu lagunya saja.” Ujar Nina polos. Ketuanya hanya menggeleng.
“Tidak
apa, John sudah membuat list pertanyaan untuk nanti ditanyakan kepada mereka. Sebenarnya
kamu tidak akan mewawancari semua personil, kamu akan hanya mewawancarai Ryan
sebagai vokalis dan Eddie sebagai drummer esok hari sehabis acara yang akan
mereka datangi di New York. Mereka sedang tour disini. Jadi kamu akan
mewawancarainya di sebuah hotel.” Ujar Ketua timnya itu panjang lebar.
“Oh
baiklah Pak kalau begitu. Akan saya jalankan besok.” Ujar Nina tersenyum kecut.
Takut tidak yakin dengan pekerjaannya itu. Kala itu juga Nina pun mencari bahan
referensi untuk wawancara besok. Karena Nina merasa belum terlalu menguasai
bahan di bidang music.
“Baiklah
terima kasih atas wawancaranya ya. Mr. Eddie dan Mr. Tedder.” Ujar Nina yang
salah menunjuk orang. Eddie ditunjuk sebagai Tedder, Tedder ditunjuk sebagai
Eddie.
“Ohh,
Sorry, you got a wrong man. Aku Eddie dan ini Ryan.” Ujar Eddie sambil
tersenyum. Ryan hanya tersenyum pada Eddie.
“Oh
maaf, maaf sekali Mister.” Ujar Nina malu sampai mukanya memerah.
Selesailah
wawancara kali itu dengan Eddie dan Ryan personil dari OneRepublic. Nina pun
berpamitan kepada mereka dan membereskan peralatannya.
“Aku
ke toilet dulu ya, Eddie.” Ujar Ryan lalu pergi, tinggallah Eddie dan Nina
dalam satu meja makan di ruang makan salah satu hotel di kota New York itu. Tak
sengaja Nina menjatuhkan pulpennya karena buru – buru untuk kembali ke
kantornya.
“Ahh
maaf , aku ceroboh sekali.” Pada saat itu berbarengan antara Eddie dan Nina
mengambil pulpen itu. Tangan mereka pun menyentuh bersamaan. Ada perasaan yang
sedikit aneh di hati Eddie. Tapi Nina, dia biasa saja.
“Tidak
apa, kau kelihatan buru – buru sekali ?” tanya Eddie lalu menyerahkan pulpennya
pada Nina.
“Iya,
akan ada liputan tentang football yang harus aku lakukan.” Ujar Nina tersenyum
pada Eddie.
“Siapa
namamu tadi ? Nina Anderson ?? Or…” tanya Eddie berbasa basi.
“Ahh,
Nina Alexandra Anderson. Panggil saja Nina.” Ujar Nina lalu menutup retseleting
tasnya.
“Aku
pamit terima kasih Eddie. Senang bertemu denganmu, salam untuk Ryan ya.” Ujar
Nina lagi lalu tersenyum padanya.
“Nina…”
panggil Eddie. Nina menghentikan langkahnya lalu menengok pada Eddie.
“Ada apa ?” tanya Nina. Eddie menghampirinya.
“Ada apa ?” tanya Nina. Eddie menghampirinya.
“Boleh
aku minta nomor teleponmu ?” tanya Eddie malu – malu.
“Untuk
apa ?” tanya Nina tegas.
“Hmm,
tidak boleh ? Hanya untuk perkenalan saja ?” ujar Eddie malu.
“Hmm,
baiklah, kalau gitu ini kartu namaku, aku minta maaf karena aku sedang buru
buru. Jangan lupa cantumkan namamu jika kau mengirimiku sms. Oh, maaf aku
terlalu berlebihan, mungkin saja kau hanya ingin menyimpan nomorku.” Ujar Nina
menunduk dan tertawa kecil. “Pede sekali kau Nina.” Ujar Nina dalam hati.
“Baiklah
terima kasih Nina.” Senyum Eddie.
“Sama
– sama” Nina kembali tersenyum lalu pergi untuk mengadakan liputan lagi.
Tak
lama kemudian Ryan menghampiri Eddie.
“Well,
looks like my friend got his new girl…” ujar Ryan meledek.
“Hey,
she looks different.” Ujar Eddie.
“Kau
ini. Ayolah kita kembali ke kamar kita untuk berkemas dan kembali ke Denver.”
Ujar Ryan lalu mereka bergegas menuju kamar hotel mereka.
Comments
Post a Comment