Part
30
Musim
semi akan berakhir. Persiapan yang dilakukan Nina untuk menjelang pernikahannya
telah siap 70 %. Dibantu Jackie, dia menyiapkan semuanya. Dia akan menikah di
Los Angeles. Maka dari itu, Nina akan mendatangkan ayahnya nanti ke tempatnya
ia tinggal sekarang ini.
“Aku
takut.” Nina tiba – tiba berujar.
“Kenapa
harus takut ?” tanya Jackie. Sebenarnya Jackie juga belum menikah.
“It’s
easy as you say.”
“Oh
ya ? Maaf kalo begitu. Aku kan belum pernah merasakannya. Brent belum
memberikanku tanda apapun. Jadi aku bersabar saja. Hahaha.” Jackie tertawa
seperti tidak ada beban.
“Waktu
lihat Alex dan Evans kemarin, perasaan mu gimana ?” Jackie bertanya.
“Senang.
Senang sekali. Akhirnya perempuan yang selama ini merebut lelaki yang kusuka
dariku, bisa bahagia dengan lelaki yang dulu suka padaku. Hahaha. Lucu sekali
hidup ini kalau aku melihat itu semua.” Nina berujar sambil menggelengkan
kepalanya dan tersenyum.
“Dan
sekarang, sebentar lagi maksudku, aku akan menikah dengan orang yang tak
terduga. Menikah dengan orang yang sama sekali belum aku kenal dari dulu.
Bahkan kupikir, kedekatanku dengan Danny akan menjadikan aku dengan dia.” Jelas
Nina lagi.
“Sudahlah.
Yang lalu biarlah berlalu. Aku juga tak sangka bisa berkenalan dengan Brent.
Bahkan karena kau juga. Aku berterima kasih akan hal itu. Brent itu penyayang
sekali. Walaupun dia kadang sedikit gila. Aku bahkan malu kalau melihat video
Eddie dan Brent dengan yang lain di youtube. Hahaha.” Jackie tertawa lagi. Nina
melihat hal itu dan tersenyum manis.
“Aku
juga bahagia sekali. Aku bahagia karena aku punya teman yang selalu sayang
terhadapku, walaupun aku melewati hal yang sulit. Hey Jackie. Pernah membayangkan tidak kalau kita
adalah kekasih dari seorang artis terkenal. Aku tak pernah punya mimpi seperti
itu, loh…” Nina tertawa cukup keras kali ini.
“Aku
tidak pernah memimpikan hal itu. Bagiku punya teman atau kekasih seperti mereka
bahagia sekali. Lagian ya, berpacaran dengan musisi seperti mereka itu tidak
mudah. Seperti mempunyai kekasih dari kalangan militer. Kita harus siap
ditinggal kapan saja, dan selalu berdoa untuk kepulangan mereka.” Ujar Jackie
bijak.
“Hahaha.
Baru kali ini aku mendengar ucapanmu benar..”
“Memangnya
selama ini ucapanku tidak benar ? Lagipula, kita kan wartawan, salah ucap
sedikit, kita masalah dengan bos kita.”
“Tapi,
kau kadang ngawur berbincang padaku.” Nina tertawa puas karena meledek Jackie.
“Hah.
Kau ini. Sudahlah. Sekarang aku mau bantu tidak untuk mempersiapkan baju
pernikahanmu ?” tanya Jackie. Wajah Nina langsung berubah serius.
“Oh
iya, aku hampir lupa. Tunggu ya, aku ganti baju dulu.” Nina pergi untuk bersiap
– siap memilih gaun pernikahannya dengan Eddie. Dia berpikir bahwa dia haruslah
tampil secantik mungkin.
***
“Itu
Alex dan Evans. Mereka pasangan yang kemarin aku datangi pernikahannya di
Dublin. Aku tidak menyangka mereka bisa jadi suami istri.” Ujar Nina kepada
Eddie ketika mereka sedang berdansa.
“Wow.
Dunia sempit sayang.” Ujar Eddie.
“Benar
bahkan aku tidak percaya. Sedangkan Danny bisa jadi dengan Lea. Lea sempat malu
– malu mengaku kemarin. Aku sendiri bilang padanya, jangan begitu. Karena dia
mungkin merasa tidak enak padaku.” Jelas Nina lagi.
“Tapi,
kau sendiri merasa sakit hati tidak dengannya ?”
“Tidak.
Karena aku merasa, semua ini sudah cukup. Aku tidak mau lama – lama terpuruk
dengan cinta yang sama sekali aku tak bisa gapai. Aku sekarang punya dirimu.
Semua itu cukup. Aku pikir ini adalah balasan yang berarti bagiku.” Senyum Nina
pada Eddie. Eddie tersenyum dan mencium bibir Nina lembut. Nina membalas.
“Hmm,
mungkinkah kami menganggu ?” tanya Ryan diikuti tawaan Zach dan Drew. Nina dan
Eddie kaget dan ikut tertawa.
“Congratulations
Dude.” Ujar Zach sambil menyelamatinya, diikuti Ryan dan Drew.
“Terima
kasih kawan.” Nina menyalami dan memeluk mereka juga.
“Brent
kemana ?” tanya Nina.
“Dia
sedang bersama Jackie. Nanti dia pasti kesini.” Ucap Ryan.
“Ohh,
begitu. Pasti dan selalu Jackie. Oh iya, silahkan cicipi hidangannya ya. Aku
ingin ke situ dulu. Eddie sebentar ya sayang.” Nina meminta izin untuk
mengambil sesuatu di dalam rumahnya. Tapi ditengah perjalanan ke dalam rumahnya
yang baru ia beli 3 bulan di Los Angeles, ada yang memanggilnya, ia pun
menengok dengan cepat.
“Danny…
Lea…” ujar Nina sambil memeluk mereka semua.
“Ini
?” tanya Nina.
“Mark
dan Glen.” Ujar Danny.
“Oh
HI.. senang sekali kalian bisa datang. Aku memang menyuruh Danny untuk mengajak
kalian. Maaf sekali aku lupa.” Ujar Nina sambil sedikit menunduk meminta maaf.
“Tidak
apa Nina. Kami memaklumi karena kan kita baru sekali bertemu.” Ujar Mark bijak.
“Aku
harus ke dalam sebentar, kalian nikmatilah pestanya. Terima kasih sudah datang
ya. Dan disana ada kawan dari OneRepublic juga beserta Eddie.” Jelas Nina.
Mereka pun mengangguk dan menuruti apa kata Nina.
Setelah
mengambil apa yang diperlukannya yaitu sebuah gelang bunga yang di berikan
Eddie sehari sebelum pernikahannya, Nina keluar rumah. Nina melihat sekeliling
rumahnya luas, di Tanami bunga yang di peruntukkan untuk pernikahannya. Rasanya
dia bahagia sekali karena dia sudah mendapatkan apa yang selama ini dia cari
yaitu cinta sejati. Cinta yang tak harus menunggu, cinta yang memang apa
adanya. Nina pun tersenyum lagi dan menghampiri teman – temannya.
***
Tiga
bulan kemudian.
“Akhir
akhir ini kau lemas sekali. Kau sudah periksa ke Dokter ?” tanya Eddie sambil
merangkul Nina. Mereka berdua sedang asyik menonton Tv. Nina sedang sakit.
“Belum.
Ah kupikir ini sakit biasa karena lelah mengurusi toko yang akhir – akhir ini
ramai sekali.” Jawab Nina singkat.
“Jangan
begitu. Aku takut kamu kenapa – kenapa sayang. Yasudah, bagaimana aku antar ke
dokter saja ?”
“Tidak
usah, sekarang aku minta tolong padamu saja tolong ambilkan obat di meja makan
itu sayang. Terima kasih ya.”senyum Nina, kemudian Eddie pergi ke meja makan
dan mengambil obatnya. Tapi, ketika dia ingin mengambil obat, dia menemukan
alat pemeriksa kehamilan dan dilihatnya itu Eddie tertegun karena di alat itu
muncul dua tanda merah.
“Nina
?” panggil Eddie. Nina menengok kearah Eddie yang kebetulan ruang makan mereka
tidak jauh dengan ruang tamu rumah Nina.
“Iya
?”
“Ini
punya mu ?” tanya Eddie penasaran. Nina tersenyum dan mengangguk.
“Hah
? Jadi kau sakit itu hanya bohong saja. Ahh, kau ini sayang.” Ujar Eddie lalu
dia bercanda dengan Nina. Dia bahagia sekali kala itu. Dia dan Nina
merayakannya bersama dengan ucapan dan penuh dengan tawa.
Nina
melihat Eddie dengan seksama dan merasa sangat bahagia sekali dengan apa yang
ia dapat saat ini. Dia tak perlu menangis lagi karena perasaannya harus
menunggu. Ia sekarang sudah punya seseorang yang bisa menerimanya sepenuh hati.
Tidak ada lagi gejolak dalam hatinya. Danny pun sekarang sudah bahagia dengan
Lea. Alex tidak mengganggu Brent dan Danny lagi. Brent sudah bahagia dengan
Jackie. Dan sebentar lagi dirinya akan dihadirkan oleh seorang bayi yang akan
menemani hari – hari bahagianya bersama Eddie.
Comments
Post a Comment