Skip to main content

Dialog Kopi #8

Segelas Kopi Tubruk dan Sepiring Nasi Goreng Kambing

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Seorang wanita sedang berjejer di barisan di depan meja kasir sebuah cafe sederhana di kawasan Selatan Jakarta. Hari ini iya coba berjalan sedikit ke arah ujung Selatan Jakarta. Ia menemukan cafe agak hidden gem itu di sebuah rententan reels, media sosial Instagram-nya. Ia asal datang saja. Malam ini, ia tak ingin langsung pulang ke rumahnya. Padahal malam itu adalah malam Rabu, di mana ia besok masih harus masuk kerja.

"Selamat datang di Cafè Sembunyi, mau pesan apa kak?" Ia tersenyum. Menarik pikirnya. Perpaduan kata, antara bahasa Inggris atau bahasa Perancis, asal kata Cafè dan kata Sembunyi, yang asli bahasa Indonesia, dipilih sang pemilik. Wanita itu tak langsung menjawab. Senyum di wajah lonjong putih kuning langsat pucatnya, masih tersungging, lalu ia lemaskan sedikit. 

"Pilihan makanan beratnya apa aja ya kak?" Tanyanya dengan panggilan, yang paling aman di akhir pertanyaan, 'kak'

"Kita punya beragam pilihan nasi goreng kak, lalu makanan ringan, seperti kue jajanan pasar." Jawab sang petugas kasir yang seorang laki-laki, sekitar umur 20an, dengan rambut yang rapi, mengilap, dengan sentuhan gel rambut.

"Oh, nasi goreng kambing, dengan pedas sedang ya kak." Tukasnya mantap. Ditambah ia tersenyum lagi. Sudah lama sekali, ia tak makan nasi goreng kambing. Mencoba mengingat kapan terakhir kalinya, ah iya, bersamanya. Bersama lelaki yang sekarang entah di mana, yang tiba tiba menghilang, lalu kembali, dan tiba tiba sudah berfoto dengan istri dan anaknya.

"Lalu, untuk minumnya kak?"

"Satu botol air mineral dan..." Wanita itu menyentuh dagunya. Ia mengerutkan dahi, seraya melihat dan membaca buku menu di bagian minuman, ke kanan dan ke kiri. Sontak, ia melihat ada pilihan menu unik di sana.

"Ah, ada pilihan kopi tubruk ya kak?"

"Betul, ada kak. Kita memang punya berbagai pilihan minuman kopi dengan berbagai pilihan teknik seduhnya."

"Wah, menarik. Saya pesan satu kopi tubruk juga, dengan biji, kopi... hmmm, Mandailing." Senyum wanita itu merekah lagi.

"Baik, mau pakai gula kak?"

Wanita itu mengangguk.

"Baik, pesanannya atas nama siapa kak?"

"Lina."

**
Lina tahu, bahwa mengingat masa lalu, adalah keahliannya, tapi yang paling mengganggu dan menghantui hidupnya juga. Kadang, kiranya sudah cukup parah, masa lalunya bisa seperti menjadi sebuah film yang berputar dalam mimpinya ketika ia tidur. Hingga ia terbangun, dan keringat bercucuran. Ia ingin sekali perlahan berdamai dengan mereka, namun, masa lalunya tak benar benar hilang. Maka dari itu, kadang ia selalu ingin terjaga, kemana sajalah, asal ketika sampai tempat indekosnya, ia sudah merasa lelah, hanya perlu mandi, ibadah, lalu rebahan sejenak, dan tertidur pulas. Maka itu, ia hari ini, selain ingin merayakan, capaian kerja akhir tahunnya yang bagus, ia juga ingin menjadi lelah dan tertidur.

"Kenapa kamu datang berhari hari ini dalam mimpiku?" Bisiknya dalam hati, kala ia harus memimpikan lelaki yang, sudah entah kemana, yang awalnya peduli, jadi tak peduli, tapi masih menyangkut di hatinya. 

"Pesanan atas nama Lina." Sontak, ia tersadar dari lamunannya. Segera ia berlari ke arah kasir. Mengambil pesanannya dan duduk kembali di tempat duduk pilihannya. Tak lama ia duduk, hujan turun, dan langsung deras. Namun, ia malah tersenyum.

"Syukurlah." Ujarnya. Dengan itu dia menunda lagi waktu pulangnya. Ia melihat sekeliling Cafè Sembunyi. Hanya ada ia, satu laki-laki sedang melakukan rapat daring, dan bicara cukup kencang, dan satu laki-laki hanya sibuk dengan komputer jinjingnya.

Lina berdoa sebelum memulai makan. Ia coba kopi hitamnya dulu, yang dibuat dengan teknik tubruk. "Duh!" Tukasnya, lidahnya terbakar, karena memang suhu minuman kopinya masih panas. Lalu, ia minum air putih dari botol minumnya. Ia lanjutkan malamnya dengan menyantap nasi goreng kambing, dengan level pedas sedang. 

"Nice!" Tukasnya lagi. Rasa nasi gorengnya sedikit ada rasa manis gurih, dan juga daging kambing yang tidak terlalu bau prengus. Ia makan dengan seksama, tanpa asyik dengan gawainya. Kadang ia melihat sekeliling cafè. Ia merasa bahwa malamnya didukung hari ini dengan beberapa orang yang juga datang sendiri ke cafè itu. 

Nasi goreng kambingnya tandas. Ia mensterilkan lidahnya dengan air putih. Duduk sejenak, memandang sekeliling lagi. Hari hari lain, ia juga masih belajar untuk live in the moment, kata beberapa buku self-healing atau kutipan-kutipan bijak yang ia temukan di laman media sosialnya. Setelah ia rasa, makanan beratnya sudah turun, ia lanjut menyesap sedikit-sedikit kopi tubruknya. 

"Nikmat." 

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...