Skip to main content

Dialog Kopi #6

 Dua Penyendiri

--

"Pesanan atas nama Ganda." Seorang kasir, perempuan muda memanggil seseorang berdasarkan nama pemesan yang ada di sebuah gelas kertas, yang berisi secangkir americano panas. Laki-laki berambut panjang agak bergelombang, dengan panjang sebahu, yang hari ini menggunakan jaket berbahan denim, dengan celana berbahan sama dan sepatu sneakers hitam langsung menghampiri.

"Terima kasih." Ujarnya, dihiasi senyuman di wajah tegas dengan tulang pipi yang tajam. Ia kembali ke tempat duduknya dan memandangi komputer jinijing abu-abunya. Benda itu sudah menemaninya menyunting dan menulis berbagai lagu untuk grup band yang dinaunginya.

"Bukit Senja merilis sebuah single esok hari." 

Kalimat itu terus teringang di pikirannya. Tak terasa, sudah album ketiga band independen Indonesia itu punyai. Ganda masih mengerut-erutkan dahinya berkali kali, agak sedikit buntu dengan lagu terakhir yang ditulisnya. Tak sanggup ia selesaikan di rumahnya, padahal tinggal sedikit lagi, tapi karena sudah berulang kali ia dengarkan lagu itu, ia menyerah, dan pergi ke tempat ramai agar tak merasa selalu sepi saat menyunting lagunya.

Ingatanmu.

Judul lagu yang ia pilih akhirnya, setelah ia kehilangan saudara kembarnya Gandi, serta perempuan yang memilih untuk berpisah sementara waktu, Hanna.

Hanna harus berpisah dengan Ganda karena ia harus menempuh pendidikan jauh di luar Indonesia. Entah kenapa, tiba-tiba ia kehilangan kontak Hanna, dan perempuan itu mengganti nomor teleponnya, dan ia sama sekali tak bisa dihubungi lagi. Ganda cukup berat menerimanya, dan semua itu juga mengubah banyak nada dan lagu di bandnya Bukit Senja. 

Ganda kembali terfokus pada perangkat lunak pengolah nada dan suara, untuknya dalam membuat lagu Ingatanmu. Nada terakhir hanya ia gabungkan saja dengan petikan gitar sederhana yang baru ia rekam sore lalu, dan ia langsung meletakkannya di dalam komputer jinjingnya, untuk dikombinasikan dengan nada lainnya.

"Selesai. Huft!" Ujarnya. Ganda bersandar. Ia melihat sekeliling kedai kopi yang tak terlalu besar itu. Kedai kopi yang sedang memainkan lagu-lagu ber-genre lofi, dan terkadang terselip lagu instrumental akustik serta jazz. Ia tersenyum sesekali. Ia teringat bahwa pekerjaan sampingannya ini, ternyata bisa dibilang menjadi pekerjaan penuh waktunya. Seraya ia masih menjalani kuliah strata satunya, yang sempat tertunda, dan sekarang ia kembali jalani dengan cara belajar jarak jauh. Ia kembali memandang sekitar. Tidak ada tamu lain selain ada wanita berambut sebahu tipis, berwarna coklat kehitaman duduk dekat jendela. Wajah bulat serta mata sipitnya, sesekali menyipit, juga memandang sekeliling dan keluar kedai kopi yang saat itu memang sedang dihiasi cahaya matahari yang terik. 

Ganda menyunggingkan senyumnya. Ia kira, ia hanya sendirian di tempat itu. Namun, mungkin tak lama kemudian ada seorang wanita itu yang duduk. Wanita itu sekarang duduk dengan menyilangkan kakinya. Ia mengenakan kaus bertuliskan 'you can' berwarna putih dan dilengkapi dengan rok berwarna biru muda, dan sepatu berwarna putih. Sambil sesekali melirik, Ganda sesekali bergumam, "Why is that beautiful woman alone?"

**

"Pesanan atas nama siapa kak?" Tanya seorang perempuan berkerudung coklat muda, yang berada di balik meja kasir. Seragam warna putih, terkesan cocok dengan kerudung yang ia kenakan. Perempuan yang sedang ditanya, 'atas nama siapa pesanannya' itu terbuyarkan lamunannya. 

"Andin." Jawabnya. Seraya tersenyum malu karena tertangkap basah sedang melamun setelah ia memesan Cappuccino dinginnya. Perempuan yang punya nama Andin itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menggunakan metode pembayaran qris, untuk membayar pesanannya. Ia pun mencoba mencari tempat duduk dan ia mendapatkan sebuah tempat duduk yang persis ada di samping jendela. Ia duduk dan mengehela nafasnya panjang.

"Hah... Finally." Tukasnya. Ia bersandar sejenak. Andin lalu mengelap wajahnya dengan tisu, karena cuaca di luar telah membuatnya berkeringat cukup deras. Di hari Minggu sore itu, ia terbiasa memberikan waktunya untuk menyendiri. Ia ingin merasakan dan mengerti atau menikmati waktu sendirinya, untuk sekedar mendengarkan musik kesukaannya ber-genre celtic folk, seraya memandang keluar jendela kedai kopi favoritnya ini, dan membaca buku lewat alat e-book reader yang akhirnya bisa ia beli setelah ia menambung sekitar dua hampir tiga tahun kebelakang. Ia ingin tenang. Hanya itu, tenang dari keluarganya yang begitu bising, yang akhirnya mungkin ayah dan ibunya akan berpisah.

Karena kakak perempuannya sudah menikah, ia tak punya tempat untuk bercerita. Ia tak enak, jika apa-apa yang terjadi padanya di rumah, harus ia ceritakan kepada kakak perempuannya. Jadilah, setelah beberapa tahun kebelakang, ia menemukan ketenangan tanpa harus bercerita, dengan hanya duduk bersantai selama dua sampai tiga jam, di sebuah kedai kopi. Kedai kopi itupun tidak terlalu jauh dari kediamannya. Bahkan ia hanya berjalan kaki.

Andin baru saja menyelesaikan kuliahnya, dan sekarang ia harus masih berjuang mencari pekerjaan. Satu waktu, seniornya bilang padanya, "Jangan cepat-cepat cari kerja. Coba dinikmati dulu waktu setelah lulus, mungkin bisa dengan traveling." Andin hanya terkekeh. Beli e-book reader ini saja harus menabung dulu, bagaimana ia mau jalan-jalan. Uang dari mana? Ia tak enak memintanya kepada orang tuanya. Padahal memang, ayahnya tak masalah dengan semua itu. Namun, memang dari dulu, Andin bukan anak yang banyak meminta. Ia lebih suka berjuang untuk mendapatkan sesuatu, entah itu sifat turunan dari ayah atau ibunya.

Ia membalikkan halaman demi halaman dari buku yang sedang ia baca. Sebuah buku yang cukup viral di tahun 2022, berjudul "The Geography of Bliss." Buku yang bercerita tentang sebuah memoar jurnalis yang sengaja memang berjalan-jalan ke berbagai negara di dunia, mencari arti atau makna kebahagiaan dari individu, budaya dan peraturan sebuah negara itu sendiri. Dengan buku ini, Andin juga merasa cukup bersyukur, bahwa ia belum perlu pergi berjalan-jalan, karena sang penulis Eric Weiner sangat mendetil ketika menceritakan perjalanannya di buku itu. Terkadang Andin tersenyum sendiri, lalu ia sedikit panik dan melihat sekelilingnya, kalau-kalau ada seseorang yang meliriknya aneh karena senyum-senyumnya itu.

"Ah, hanya ada satu laki-laki di ujung sana." Gumamnya, lalu ia kembali menyeruput Cappuccino dinginnya lagi. Ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya. Kembali tersenyum dan menggumamkan kata, 'oh' karena ada ilmu atau pengetahuan baru yang ia dapat dari buku yang dibacanya. Sesekali pula ia melirik lelaki yang juga sesekali ia lihat tersenyum, menunduk, membetulkan rambut panjangnya, dan membetulkan posisi headphone-nya. Laki-laki yang sedang memakan jaket denim dan celana dengan bahan yang sama itu, sesekali menggoyang-goyakan kepalanya dan juga memejamkan matanya, seperti menikmati, mungkin musik yang sedang ia dengarkan. 

Andin kembali terfokus pada e-book reader-nya, dan sedang seru-serunya ia membaca, ada satu pesan masuk ke ponsel pintarnya. Temannya, Laila, mengirimkan sebuah pesan. 

"Ndin, minggu depan, temani gue nonton Bukit Senja dong." Tulis pesan itu. 

"Bukit Senja itu apa?" 

"Itu band kesukaan gue. Heran ya, lu enggak pernah dengarkan gue cerita tentang mereka ya?"

Andin tak langsung membalas. Ia kikuk dan tak enak dengan balasan pesan dari temannya itu. 

"Oh iya, maaf. Boleh kok. Kebetulan belum ada jadwal." Balas Andin diikuti emoji tersenyum. Andin meletakkan ponsel pintarnya, dan kembali tenggelam membaca buku elektroniknya.


Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...