Skip to main content

SECRETS



Inspired by Secrets the song from OneRepublic

“Uhukkk… Uhukk…” Darah keluar dari mulut kecilku ini. Aku melihat wajahku di kaca. Putih, pucat, seperti mayat hidup, itu kasarnya aku bicara. Aku sudah merasakan semua rasa sakit ini kurang lebih 6  bulan semenjak aku masuk di kuliahku. Sakit. Aku bingung bagaimana aku mengungkapnya. Aku divonis menderita penyakit yang katanya menyerang paru – paruku ini. Dokter juga belum memberikan penjelasan jelasnya karena aku masih harus menjalani pengobatan dan kadang – kadang terapi.

Aku memegang mulutku yang merah akibat sisa darah yang ku keluarkan tadi. Aku cuci sampai bersih, tapi warna putih pucat ini tak bisa hilang. Tuhan, sampai kapan aku harus merasakan rasa sakit ini. Aku sudah lelah, tapi walaupun begitu, kuatkanlah badanku dan nuraniku, karena aku yakin, engkau memberikan semua ini karena ada hikmah di balik ini semua. Doaku ketika aku memejamkan mata.

“Cinta… Turun sayang, kita makan malam dulu yuk.” Ujar Mamaku dari ruangan makan yang ada di bawah kamarku. Ya, rumahku berlantai dua. Aku cinta, perempuan lemah sejak 6 bulan yang lalu, yang berusaha untuk terus bangkit dan menyembunyikan ini semua. “Iya ma, sebentar ya, ada yang lagi dikerjain nih.” Ujarku berbohong pada mama. Padahal sebenarnya aku batuk lagi. Mamaku hanya tahu aku hanya batuk sekali dua kali dan bilang pada dirinya, padahal sebenarnya aku sering batuk seperti ini. Setelah selesai membersihkan semuanya, aku turun kebawah melalui anak tangga rumahku.

“Nih, mama masak makanan kesukaan kamu, udang tempura sambal asam manis. Papa lagi di kamar, nanti nyusul.” Ujar mamaku sambil tersenyum. “Nanti jangan lupa minum obatnya ya.” Ujar mamaku lagi. Aku hanya mengangguk untuk menjawab semuanya. AKu mengambil nasi dan lauk yang sudah di masak mamaku, aku berdoa lalu melahapnya, tak lama setelah aku menyuap nasi pertamaku, papaku datang. “Halo cantik…” ujar papaku sambil mencium dahiku. Aku bersyukur sekali punya keluarga seperti ini. “Andre mana ma ?” ujarku bertanya pada mamaku. Andre adalah kembaranku, dia laki – laki, dia sehat, tidak seperti aku, yang lemah seperti ini. “Dia lagi ada acara di luar, rapat buat acara kampusnya.” Ujar mamaku menjawab. “Ohh, yaudah..” ujarku lagi. Andre memang berbeda kampus denganku. Dia memilih kampus yang berbeda karena di kampus tempat aku kuliah tidak ada jurusan yang diinginkannya, padahal papaku ingin memasukkan aku dan Andre di sekolah yang sama.

Setelah aku selesai makan, aku melanjutkan dengan minum obat yang jumlahnya aku malas menghitungnya. “Udah ma ? Enek nih..” ujarku pada mama. “Ehh, gak boleh harus semuanya. Habis ini kamu langsung istirahat ya, tunggu obatnya turun dulu. Ini satu lagi.” Ujar mamaku membantuku sambil menyodorkan obat terakhirku. “Ahh, selesai juga.” Ujarku pada mama tersenyum. Lalu aku pamit untuk ke kamarku untuk istirahat.

“Cinta, bangun cinta, lu kuliah gak ?” ujar Andre berteriak dari kamar sebelah. Aku terbangun lalu panic langsung mengambil handukku dan mandi sambil berteriak kembali pada Andre. “Iya, tungguin gue ya…” ujarku padanya. Aku mandi sesegera mungkin, Andre menunggu dibawah dan memanaskan mobil untuk dibawanya. Aku turun ke bawah sesegera mungkin dan pamit pada mama dan papa. “Da ma... pa..” ujarku pada mereka. Aku masuk mobil dan menutup pintu. “Lama, kebiasaan..” ujar Andre padaku. “Sorry broo…” ujarku bercanda. Jalanlah kami berdua.

“Mana ada yang mau pacaran atau berteman akrab sama orang sakit kayak gue gini.” Ujarku dalam hati. “Cinta, nih, tugas yang kemaren. Udah ya, gue tinggal dulu.” Ujar Donny padaku. Dia lewat begitu saja. “Makasih…” ujarku. Dia hanya menengok dan tersenyum lalu berlalu. “Orang yang aneh.” Jawabku lirih. Aku membaca sekilas lalu berpikir. Beruntung atau tidak sih sebenarnya aku sekelompok sama Donny. Dia itu lumayan, tapi kenapa maluan banget ya orangnya. Aku sendiri bingung. Dia itu sangat pendiam, tapi menurutku dia punya potensi, hanya saja dia tidak mau memperlihatkannya. “Aduh, kebelet..” ujarku lalu langsung ke toilet.

“Eh, lihat deh, mau aja ya tuh cewek temenan dan sekelompokkan sama donny, padahal kan dia orangnya aneh, ni cewek jangan – jangan aneh juga ya.” Ujar seorang wanita yang ada di belakangku ketika aku keluar dari toilet. Aku menengok sebentar dan aku mengenalnya. “Hei… Dina… tolong ya, jangan ngomong di belakang aja, gue tahu kok, lo iri kan sama gue karena sekelompok sama donny, lagian emang masalah lo y ague sekelompok sama donny ?” ujarku padanya kesal. Dia hanya menengokku tidak enak. “Dasar cewek aneh.” Ujarnya lagi. “Gue emang aneh, tapi gue pinter dan punya otak, dan gak seenaknya ngatain orang.” Ujarku kembali. Sombong sekali dia, baru jadi mahasiswa sepertiku saja sudah somboh seperti.

“Uhuk… Uhuk..” ahhhh.. lagi – lagi batuk seperti ini. Aku pun menuju kamar mandi untuk mengeluarkan serta membersihkan darah ini. Untuk saja sepi, jadi tak ada orang yang tahu. Tapi kurasa, mereka lama – lama akan tahu. “Eh Donny, dicariin susah banget sih.” Ujarku pada Donny sambil menepuk bahunya. Dia hanya melihatku heran. “Hahaha muka lu lucu.” Ujarku lagi padanya. “Ada apa sih Cinta ?” ujarnya datar. “Eh sorry deh, kaget ya, gue Cuma mau bahas tugas kita Donny.” Ujarku padanya. “Gak, gapapa, ada apa ? Emang ada yang salah.” Ujarnya sambil meminum minumannya. “Sedikit sih, gak banyak, gampang lah, gue Cuma mau ngomongin aja, nanti gue yang edit.” Ujarku sambil menjelaskan. Aku menunjukkan semua kesalahannya di tugas kami ini. “Eh Donny, kenapa sih orang – orang pada gak suka kalo deket elo ?” ujarku padanya. Dia hanya menaikkan pundaknya tanda ia tak tahu. “Hmm, Cinta, gue mau ke perpus dulu ya, kalo ada apa – apa, gue ada disana, susul aja, gue ada buku yang mau dipinjam.” Ujar Donny lalu berlalu. “Kan, kabur lagi.” Ujarku kesal sendiri. Kenapa sih dia sebenarnya. Tiba – tiba handphoneku berbunyi. “Lo pulang jam berapa ?” ujar Andre di ujung telepon. “Dikit lagi pulang gue, emang kenapa ?” jawabku. “Gue disuruh jemput elu.” Ujar Andre lagi. “Gak usah, gue pulang sendiri aja. Gue masih ada perlu.” Ujarku pada Andre. Andre memang lahir lebih dahulu daripadaku. Jadi dia lebih tua, tapi diantara kami berdua, kami tidak ada kakak atau adik, kami adalah teman sepantaran begitu menurut kami.

“Uhuk… Ahhh.. keluar lagi deh.” Aku mengeluarkan sapu tanganku. Aku menahan darahku yang keluar, syukurlah, kali ini keluarnya sedikit. “Donny…” ujarku berlari padanya sambil berteriak. Dia berhenti dan menengokku. Aku berhenti di depan dia. “Apa lagi sih Cinta ?” ujarnya agak kesal. “Gue pengen tahu kenapa sih elo itu dijauhin anak – anak kampus.” Ujarku padanya penasaran sekali. Aku memang aneh, tak tahu kenapa kali ini aku peduli sama anak yang dijauhi, kalo dulu sih, aku yang menjauhi atau membully. Hahaha. Aku banyak belajar dari berbagai sumber, bahwa di bully itu tidak enak akhirnya aku sadar untuk tidak melakukan hal itu lagi. “Ikut gue.” Ujarnya singkat. Kami menuju parkiran motor. Dia mengambil motornya. “Kenapa lo mau ngajak gue dan percaya banget sama gue.” Ujarku padanya berani. “Udah ikut aja.” Ujarku padanya. Aku menaiki motornya setelah dipersilahkan. Lalu dia menyalakan motornya dan berjalan.

“Rumah Sakit Jiwa” ujarku dalam hati. Aku terheran – heran dia membawaku kesini. “Kenapa ? Heran ya ?” ujarnya padaku. “Hmmm…” ujarku diam. “Udah yuk masuk, gak usah takut, nanti kalo ada yang gangguin, gue bakal ngelindungin elu.” Ujarnya lagi. Kali ini ku akui manis. “Uhuk.. Uhuk…” aku batuk. Kali ini batukku sangat keras. Aku spontan menutup mulutku agar tidak terlihat darah yang keluar. “Lo kenapa ?” ujarnya spontan. Aku menggeleng. Dia bingung. Dia pun melanjutkan jalannya. “HAllooo… halllo…” ujar seorang orang gila yang berada disampingku. Donny langsung maju di depanku dan mengusirnya perlahan. Aku tersenyum tenang dalam hati. “Makasih..” ujarku pelan. “Yap.” Dia melanjutkan berjalan.

“Ehhh mas Donny, kemarin kenapa mas gak kesini ?” ujar salah satu suster yang sepertinya sudah kenal lama dengan Donny. “Hmm, iya mbak, kemarin lagi banyak tugas saya, makanya baru sempet jenguk mama sekarang, dia baik – baik saja kan mbak ?” tanya Donny khawatir. Mamanya ? Maksudnya mamanya itu……

Kami bertiga masuk di ruangan yang khusus. Mungkin tempatnya tempat rehabilitasi yang memang diperuntukkan untuk orang sakit jiwa. “Hai ma…” ujar Donny memeluk seorang yang sedang duduk di tempat tidur di dalam ruangan  itu. Wanita yang dipanggil “Mama” oleh Donny itu hanya diam. “Syukurlah mama sehat.” Ujar Donny lagi. “Udah makan kan mbak mama…?” tanya Donny kepada suster yang sepertinya setiap hari menjaga mamanya itu. “Udah kok mas, tenang saja.” Senyum suster itu. “Saya tinggal dulu ya mas, ada pasien baru di sebelah yang harus saya urus.” Ujar suster itu lalu pergi. Donny mengangguk dan tersenyum lalu menengok mamanya lagi. “Kenapa elo berani bawa gue kesini ? Maksud gue lu gak curiga apa – apa gitu ? Gue bakal jahat sama lo atau apa…” ujarku ketika suster itu keluar. “Gue ngajak lo karena gue tahu lu gak munafik atau muka dua.” Ujar dia spontan. Aku kaget, bisa – bisanya dia bilang kayak gitu. “Maksudnya ?” ujarku tidak mengerti. “hmmm, jujur diem diem gue merhatiin elu dari pas kita masuk.” Ujarnya malu – malu. “Hah ?” ujarku kaget. Dia tak menggubris, akhirnya dia pamit dengan mamanya. Mencium kening mamanya lalu pergi. “Jangan disini ya ngomongnya gak enak. Kita makan aja, gue punya rekomendasi restoran yang enak.” Ujarnya tersenyum.

“Udah berapa lama sakitnya Cinta ?” ujarnya tiba – tiba. Aku terkaget sampai menjatuhkan sendokku di piring. Aku tak bisa menjawab. “Udahlah gak usah main rahasia – rahasiaan lagi, gue tahu lo sakit, batuk – batuk sampe berdarah, dank arena itu mungkin lo jadi minder untuk temenan.” Ujar dia buka – bukaan. “Hmmm..” aku hanya mendeham. “Gini ya Ta, nyokap gue itu udah sakit lama, yang membuat dia sampe gila, gue bisa buka – bukaan sama elo karena gue percaya sama elo, elo itu bukan kayak anak – anak lain, yang suka ngatain atau melakukan cara yang gak lazim ke gue. Mereka bilang gue aneh atau apalah gue gak tau. Gue udah muak dan bête ngedenger itu semua, nah, gak tahu kenapa, gue ngeliat elo itu beda.” Ujarnya panjang lebar. “terus ? Bagaimana elo bisa percaya sama gue segitu gampangnya.” Ujarku bertanya. “Gampang aja, lo itu punya penyakit yang gue bisa tebak, lu itu sakit gangguan paru – paru dan gak sengaja emang gue baca banyak artikel yang menjelaskan penyakit itu, gue merasa, lo itu juga akan merahasiakan penyakit lo dan merasa minder akan minder akan penyakit lo dan akan lebih peduli sama orang yang kayak nyokap gue tadi.” Dia menyindir ku sambil menyeruput minumannya sampai habis. “Hmm… you’re right..” aku hanya bisa menjawab itu saja. “Tenang aja, gue bakal ngerahasiain ini semua kok.” Ujarnya santai. “Tanpa takut gue akan bilang ke orang – orang tentang nyokap elo ?” ujarku balik. “Gak perlu dikasih tau orang, orang di kampus hampir semua udah pada tau karena si Cantika, Cantika itu muka dua, baik di depan gue tapi ternyata sama orang bilang – bilang. Kalo kata OneRepublic, “So I’m gonna give all my secrets away”.” Ujarnya sambil bernyanyi. Aku terdiam lalu tersenyum. Aku melihat Donny dari sisi yang berbeda. Sisi yang kuat, masa bodoh dengan kata orang. Dia sudah lelah dengan semuanya, maka dari itu dia tidak ingin terus – terusan terpuruk. “Emang bokap lo dimana ?” ujarku bertanya. “Bokap gue di luar negeri sama adik gue. Nyokap sama bokap udah pisah, jadi ini semua yang bikin nyokap gue makin trauma.” Ujar Donny santai.

“Makasih ya udah nganterin gue.” Ujarku padanya tersenyum. “Iya sama – sama.” Ujarnya datar. “Gak mau masuk dulu ?” ujarku. “Gak usah makasih, udah malem, maaf ya bawa lo malem – malem, kalo misal lo dimarahin nyokap, tar gue yang majuin dan ngejelasin semuanya. Makasih juga ya udah jadi temen gue yang baik.” Ujarnya tersenyum. Aww, manis sekali. “Iya sama – sama, hati – hati ya Donny.” Ujarku padanya. Dia tersenyum lalu berlalu dengan motornya. Aku tersenyum dalam hati, Tuhan, terima kasih engkau telah memperkenalkan aku dengan orang baik seperti itu.

Comments

Popular posts from this blog

House of Tales Karya Jostein Gaarder: Kisah Cinta dalam Novel Tipis, Padat Isi

Dan aku menyadari bahwa aku tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pula hanya untuk para kerabat dan sobat dekat. Aku bisa memelopori sebuah gagasan demi kepentingan seluruh umat manusia. House of Tales  atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Rumah Dongeng, memang menggambarkan sekali isi novel karya Jostein Gaarder ini. Novelnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang menceritakan kisah hidup sang tokoh utama. Novel-novel Jostein Gaarder yang satu ini juga khas akan petualangan dan pemandangan alam dari negara kelahirannya atau dari negara-negara di Eropa. House of Tale diterbitkan pada tahun 2018, dan diterjemahkan serta diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 2019. Manusia sering kali menempuh jalan berbelit-belit sebelum saling berhubungan secara langsung. Tak banyak jiwa yang dianugerahi kemampuan untuk bisa lugas tanpa basa-basi: "Hai kamu! Kita kenalan, yuk!" Tokoh utama, Albert, tak sangka dapat memberikan rasa pada se...

OneRepublic FF Part 1

COLORADO IN THE MORNING Rose’s “Huuaaaahhhh” bangunlah aku dari tidurku yang cukup lama ini. Hari ini sudah dua hari aku di Denver, Colorado setelah berpindah dari San Fransisco. Aku cukup lelah, masih lelah dengan semuanya. Tubuhku, hatiku dan semuanya. Ayahku bilang janganlah kau memikirkan terus masalah yang terjadi pada keluarga kita, ini bukanlah masalah, ini adalah ujian. Ujian, ya mungkin memang Dad bisa menangani semuanya, tapi aku ? Apa yang aku harus lakukan dengan hidupku dan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Denver Colorado, mencari apa yang aku inginkan. Aku hanyalah lulusan Senior High School yang tidak terlalu terkenal di San Fransisco. Jujur saja, memikirkan San Fransisco hanya membuatku sedih. Aku dan Mom, kita sudah berpisah, dan pastinya tidak akan pernah bertemu lagi, untuk SELAMANYA. Mungkin tulisannya perlu di perbesar atau di garis bawahi ya. Rencanaku hari ini adalah pergi ke toko buku, mencari Koran terbaru, mencari pekerjaan baru, dan ...

OneRepublic FF Part 3

LOOKING FOR A NEW JOB Brent’s “I would runaway…. I would runaway with you..” Lagu Runaway dari The Corrs mengalun indah yang diputar di salah satu radio di Denver. Aku suka sekali lagu ini. Terkadang aku berpikir, bisakah aku bisa lari dengan seseorang yang aku cintai nantinya. Berlari membangun cinta kami yang bersatu, menjalani semuanya secara bahagia. “Hey Brent, jangan bengong saja kau, cepatlah mengemas barang – barangmu kita harus ke bandara untuk terbang ke London.” Ujar Drew mengangetkanku. “Iya sebentar, sabar sedikit, aku sedang menikmati lagu ini.” Ujarku sambil menenangkan Drew. “Tapi kan kau bisa mendownloadnya nanti.” Ujar Ryan sambil memberi sebuah map. Map itu berisi beberapa surat dan lirik yang dibuat Ryan. “Kita akan mengedit lagu – lagu tadi untuk album Native. Jangan lupa bawa peralatan yang aku bilang semalam.” Ujarnya padaku. “Siap.” Ujarku singkat. Pengepakan selesai. Aku menutup tas koperku. Cukup penuh. Aku saja sampai bingung semua ini bisa penuh, ...